Perjalanan tak Berujung - Paras Liang - Nyonson - Paz Memanjat Pohon Dina - Puing Zaman | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Perjalanan tak Berujung - Paras Liang - Nyonson - Paz Memanjat Pohon Dina - Puing Zaman Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:47 Rating: 4,5

Perjalanan tak Berujung - Paras Liang - Nyonson - Paz Memanjat Pohon Dina - Puing Zaman

Perjalanan tak Berujung

dalam percakapan dulu di ladang itu
kita bersepakat sebelum surup tiba lebih dulu
persis saat lima ekor bangau pulang ke selatan
kau umbar senyum murni padaku yang sialan

aku pun pergi ke pusat kota di barat pulau
mengunjungi tempat segala cita-cita ditanam orang
pesan pungkasanmu berdentum-dentum di telinga
sepanjang perjalanan - sepanjang usia pengharapan

engkau harkati huruf-huruf mati di setiap jiwaku
dan kumaknai bergantang-gantang harapanmu
tetapi kamu dan aku terjebak dalam penantian

sejak kapan kita benar-benar mengerti?
toh perjalanan dan pengharapan sama-sama meruang
dan mewaktu di dalam kalbuku: kalbumu
2017

Paras Liang

paras liang di wajahmu - wajahku
terpahat di dinding penjara singa
dunia dalam album perawan bisu
berwajah Monalisa - bermata Leonardo

wajahmu, wajahku; wajah luka penuh lupa
sepanjang tahun kau hafal setiap kerut wajahku
sampai garis-garis tebal diwajahmu sendiri
kau sembunyikan di balik cermin dan air

dengar, air dan cermin berdebat saat hujan lebat
aku tersanjung - malah kau tersinggung
akhirnya, wajahmu aus di wajahku yang hangus

mari, sudahi permainan meramal wajah!
singa dan perawan bisu dalam dirimu
adalah sepasang arus di palung dadaku
Januari 2017

Nyonson

kamis malam termanis menjelang purnama
perempuan-perempuan sisa peradaban purba
dengan keriput indah tanpa sentuh kemilau dunia
memukul-mukul batu dendam umat manusia

pada lincak bambu di bawah pohon mangga ranum
tepat saat matahari tenggelam ia songsong cakrawala
dengan sebilah sepat kelapa bertabur butiran keminyan
remah-remah bara, api pengharapan, penebar doa dan mantra

aroma sedap menyeruak ke segala penjuru kampung
dari pintu ke pintu, dari jendela ke alam baka
mengantar bisikan rindu - suara nenek moyang

cinta tumbuh jadi sulur-sulur persaudaraan
gema suara ghaib, pemacu kerja keseharian
dan hidup santun dalam kesederhanaan
2017

Paz Memanjat Pohon Dina

Alejandra berselfie dengan camera matahari
                          di puncak temperatur pohon Diana
ia hilir-mudik antara relung jiwanya sendiri
                         ke ulu hati habitat manusia

Paz membingkainya dengan kayu abadi
                         yang ditebang dari hutan kemungkinan
bingkai penuh nyala merah kebiru-biruan
                         betapa sempurna cahaya dari penyatuan

dari fajar ke fajar segala nafas berdesah
                         gairah insan, pohon, dan binatang
                         dikultuskan di bukit terbentang puisi

Alejandra bermetamorfosa, Paz menggiringnya
pohon Diana tegak berdahan nama-nama Agung
pembening ritus kemakmuran daerah terlarang
2017

Puing Zaman

gibran sang nabi dari libanon berkata padaku;
bersikaplah ramah dalam kehidupan mesra

aku tersudut ke goa kegelapan, tempat singgah
segala ketakutan, trauma, dan ambisi
menggali dunia

aku terlampau jauh meninggalkan keramahan diri
pada dunia yang menghimpitku
dan kehidupan yang tercecer
dari puing-puing zaman
2017


Selendang Sulaiman, lahir di Sumenep, 18 Oktober 1989. Puisipuisinya tersiar diberbagai media massa. Antologi Puisi bersamanya; Mazhab Kutub (Pustaka Pujangga 2010), 50 Penyair Membaca Jogja; Suluk Mataram (MP 2011), Satu Kata Istimewa (Ombak 2012). Di Pangkuan Jogja (2013) Lintang Panjer Wengi di Langit Jogja (Pesan Trend Ilmu Giri, 2014), Ayat-ayat Selat Sekat (Antologi Puisi Riau Pos, 2014), Bersepeda Ke Bulan (HariPuisi IndoPos, 2014), Bendera Putih untuk Tuhan (Antologi Puisi Riau Pos, 2014), Yang Tampil Beda Setelah Chairil (Haripuisi 2016) dlsb.




Rujukan:
[1] Disalin dari karya Selendang Sulaiman
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" Minggu 12 Maret 2017

0 Response to "Perjalanan tak Berujung - Paras Liang - Nyonson - Paz Memanjat Pohon Dina - Puing Zaman"