Pertemuan yang Mengejutkan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Pertemuan yang Mengejutkan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 14:11 Rating: 4,5

Pertemuan yang Mengejutkan

DOKTER Ester adalah seorang dokter spesialis gigi. Selain bekerja di sebuah rumah sakit daerah di Jakarta, ia juga membuka praktik di rummahnya. Rumah praktik yang berada di Jl. Kenanga No. 70 Kemayoran itu setiap sore dipenuhi pasien. Dokter Ester sangat dikenal, ia tidak saja manjur dan cocok menangani pasien, tapi juga karena terbuka dan baik hati. Ia tidak membeda-bedakan siapa pasiennya. Kaya-miskin, pintar-bodoh, cantik-biasa, dilayani dengan baik.

ITULAH sebabnya rumahnya selalu dipenuhi orang. Rumah baru sepi setelah jam sepuluh malam. Pagi jam delapan ia berangkat kerja. Pulang jam dua siang.

Banyak orang berkata, sungguh kaya dan enak hidupnya. Ya, setiap orang pasti mempunyai pandangan bermacam-macam tentang kehidupan orang lain. Misalnya tentang kesuksesan. Tapi orang sering lupa, bagaimana usaha dan kerja keras yang dilakukan. Dokter Ester adalah salah satu dokter yang mengabdikan ilmu dan hartanya untuk membantu orang lain. Sudah banyak warga yang datang padanya tidak ditarik ongkos berobat hanya karena si pasien miskin. Juga, tidak menarik ongkos berobat terlalu mahal.

Sore itu Dokter Ester siap di meja praktiknya. Para karyawan telah menyiapkan keperluan. Di ruangnya ia ditemani seorang asisten. Di ruang depan yang dipakai sebagai tempat pendaftaran telah penuh pasien. Ruangan apotek di sebelahnya juga sudah ditunggu dua orang pegawainya. Petugas yang mengurusi pendaftaran memanggil nama pasien sesuai dengan nomor urut masing-masing. Sampailah petugas pendaftaran memanggil nomor urut limabelas.

"Bapak RA Soekamto."

Seorang bapak berusia sekitar enampuluh tahun tersenyum sambil melangkah ke ruang praktik.

"Selamat sore, Bapak. Silakan duduk," Dokter Ester mempersilakan.

"Terima kasih, Dok."

"Bapak RA Soekamti, betul?"

"Betul, Dok."

Dokter Ester tiba-tiba tersenyum ceria. "Kalau boleh tahu, betulkah Bapak adalah seorang penulis?"

Si pasien bertubuh kurus, berkacamata minus, beruban, dan berompi wool yang menempel di kemeja kotak-kotak itu mengangguk.

"Maksud saya, penulis cerita anak dan remaja?"

"Kurang lebih begitu, Dok," jawabnya merendah.

"Ya Tuhan, saya sedang bertemu dengan penulis buku Liburan di Kampung Berkabut!" seru Dokter Ester.

Laki-laki itu kembali tersenyum dan mengangguk.

"Jadi bagaimana kabar Si Lili dan kucing ajaibnya? Kenapa kisah itu tidak selesai?" tanya Dokter Ester  menyebut salah satu tokoh cerita fiksi.

"Dokter hafal dan masih ingat. Itu cerita yang saya tulis sangat lama."

"Ya, begitulah. Antara 20 sampai 25 tahun lalu, ketika saya SMP."

"Dokter seorang pembaca yang baik."

"Saya tak hanya membaca buku-buku Bapak, tapi juga membaca cerita anak dan remaja yang dimuat di majalah Bibi dan Ranum. Beberapa ceritanya saya masih ingat," kenang Dokter Ester.

"Terima kasih, Dokter."

"Hari ini saya sangat senang bisa bertemu Bapak."

Begitulah pertemuan tak sengaja antara Dokter Ester dengan seorang penulis cerita. Betapa bahagianya DOkter Ester bertemu dengan seseorang yang pada masa remajanya selalu dinanti-nanti buah karyanya.

"Gigi geraham belakang Bapak sedikit berlubang. Hari ini saya berikan obat agar sakitnya hilang. Seminggu lagi saya akan menambalnya."

"Baik, Dokter."

Sebelum Pak RA Soekammto meninggalkan ruangan, Dokter Ester bertukar nomor telefon dan alamat.

"Oiya, Dokter, sampaikan salam saya pada Gendhis."

"Bapak kenal anak saya?"

"Gendhis itu teman cucu saya di SD dan SMP."

"Sungguh?"

"Saya kadang bertemu saat mengantar di sekolah."

"Wah wah, dunia ini sempit. Baiklah nanti saya sampaikan."

**
KRIIIING...

"Halo, Yani, bagaimana kabarmu?"

"Alhamdulillah, sehat. Bagaimana denganmu?"

"Kami sehat. Kamu masih di Bandung?"

"Masih, di tempat yang dulu itu. Tumben nelefon. Ada berita apa, Ester?"

Kangen ni, lama nggak ketemu. Tapi ada satu cerita bagus buatmu."

"Apa itu?"

"Kemarin aku ketemu dengan seseorang."

"Mantan pacar ya?"

"Bukan. Bapak-bapak sudah tua."

"Pak Bejo guru Biologi di SMP?"

"Bukan. Beliau ini idolamu dulu."

"Ah, bikin penasaran saja. Siapa dia?"

"Kamu pasti takkan lupa dengan penulis buku Viny, Vivy, Vicky..."

"RA Soekamto?"

"Tidak keliru! Kemarin beliau datang berobat."

"Sungguh beruntungnya kamu, Ester. Bagaimana kabar beliau?"

"Sehat dan bugar. Oiya, hari Minggu depan kami janjian ketemuan. Kalau kamu ada waktu luang, mainlah ke Jakarta. Kita ketemu bareng dengan beliau."

"Nah, kebetulan, hari Sabtu aku ada acara di Jakarta. Minggunya libur. Sekalian kita bertemu."

"Nginap di tempatku ya."

"Baiklah, ester."

Yani adalah sahabat Dokter Ester sewaktu SMP. Begitu eratnya persahabatan mereka, sampai tua pun tetap tersambung silaturahmi. Bangku SMP mereka lalui di sebuah kampung halaman di Kabupaten Gunung Kidul. Meskipun Yani anak keluarga miskin, mereka akrab berteman. Meskipun agama keduanya berbeda, namun bukan menjadi penghalang persahabatan.

Kini, mereka hidup di tempat berbeda, namun masih saling berkirim kabar. Dokter Ester hidup di Jakarta, sementara Yani tinggal di Bandung.

Pada masa SMP, keduanya adalah pembaca yang rajin. Hampir setiap hari mereka mengunjungi perpustakaan. Di rumah, Ester langganan majalah remaja, Bibi dan ranum. Yani selalu dipinjami setiap edisinya. Jika orangtua Ester membelikannya buku, maka buku itu akan dipinjamkan pada Yani jika ia selesai membacanya. Pada masa itulah Ester dan yani menyukai cerita-cerita remaja. Oleh sebab itu, mereka hafal nama-nama pengarangnya. Salah satu penulis favorit mereka adalah RA Soekamto.

"Pengarang cerita ini sungguh pintar," kata Yani menjelang bel istirahat pertama berbunyi.

"Aku juga kagum padanya. Apa yang kau suka darinya?"

"Imajinasinya. Banyak juga petuah-petuah bagus untuk diteladani."

"Ya, pasti beliau membaca banyak buku. Pengalamannya sangat luas."

"Betul. Sepertinya enak ya jadi penulis?"

"Modalnya harus pintar."

"Aku sangat ingin bertemu dengan orang-orang seperti ini."

"Kapan ya kita bisa bertemu dengan mereka?"

Percakapan itu terjadi ketika Ester dan Yani kelas dua SMP. Dan pada suatu waktu, 25 tahun kemudian ketika keduanya memiliki anak seusia SMP, keinginan untuk bertemu dengan tokoh idola terwujud. Di rumah RA. Soekamto, mereka pun datang.

Rumahnya terletak di sebuah perkampungan padat di antara gang-gang sempit. Rumah kecil dan sederhana, tapi bersih terawat. Di ruang tamu berukuran 3x3 meter mereka bercengkerama. Dokter Ester pernah berpikir bahwa penulis ini kaya raya karena buku dan karya-karyanya banyak. Ternyata sederhana, seperti halnya penampilannya. Istrinya sudah meninggal sehingga hanya beliau saja yang menemui mereka.

"Pak Soekamto, perkenalkan ini teman kecil saya," kata DOkter ester mengenalkan Doktor Yani.

"Saya Yani, Pak. Senang bertemu dengan Anda."

"Saya Soekamto. Saya juga senang bertemu Anda."

"Yani ini dulu penggemar karya-karya Bapak, seperti juga saya."

"Terima kasih."

"Sekarang ia jadi dosen di UPI, Bandung. Doktor Pendidikan di sana."

"Betulkah? Anak saya juga ada yang jadi dosen UPI. Di Fakultas Bahasa dan Seni."

"Lho, siapa, Pak? Itu fakultas saya."

"Raras Pangestuti."

"Subhanallah, dunia ini begitu sempitnya. Doktor Raras rekan baik dengan saya. Ya ampun...," kata Doktor Yani kaget.

"Tuhan mempertemukan kita dalam satu keajaiban kecil seperti ini," kata Soekamto pada keduanya.

Pertemuan tersebut adalah sebuah pertemuan antara penulis cerita dengan pembacanya. Mereka mengenang kisah-kisah lama dalam haru dan bahagia. Tidak ada hal berharga kecuali bahwa mereka kini menjadi sahabat yang saling mengisi dalam hidupnya.***

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Hasta Indriyana
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" edisi Minggu 5 Maret 2017



0 Response to "Pertemuan yang Mengejutkan"