Rumah Penyair, Penyair dan Angin - Kisah Sapu Sabut dan Sapu Lidi - Perhatian Ibu Tentang Sapu - Nasib Sapu - Wanti-wanti Ibu Tentang Sapu | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Rumah Penyair, Penyair dan Angin - Kisah Sapu Sabut dan Sapu Lidi - Perhatian Ibu Tentang Sapu - Nasib Sapu - Wanti-wanti Ibu Tentang Sapu Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:48 Rating: 4,5

Rumah Penyair, Penyair dan Angin - Kisah Sapu Sabut dan Sapu Lidi - Perhatian Ibu Tentang Sapu - Nasib Sapu - Wanti-wanti Ibu Tentang Sapu

Rumah Penyair, Penyair dan Angin

setiap kali jendela dibuka
angin menutup
setiap kali pintu dibuka
mulut-mulut mengatup
setiap kali mulut dibuka
kuping-kuping menangkup

jendela, pintu dan mulut ditutup
penyair itu menjelma angin
ke luar melalui kisi-kisi
menyusup di setiap sela daun

ketika siang terik
ada seseorang berteduh di bawah pohon
’sejuk semilir angin siang ini’ katanya

keesokan harinya
penyair itu ke luar dari rumahnya lagi yang sepi
juga melalui kisi-kisi
kali ini ia menjelma sinar di pagi hari
ada suara dari seseorang yang sedang berolah raga
’hangat dan segar cuacanya’

Kisah Sapu Sabut dan Sapu Lidi

sapu sabut dan sapu lidi merasa
dari asal-usul yang sama
dari satu Ibu Gelugu
berlugu-lugu
dari pohon kelapa yang enggan bercabang
tegak ñ lurus ñ keras

selalu merasa sama
meski beda bentuknya, meski beda cara menaruhnya,
meski beda fungsi dan tugasnya
meski sapu lidi lebih keras
meski sapu lidi tak digunakan di teras

tugas sapu sabut di dalam ruangan
tugas sapu lidi di luar rumah
meski keduanya dipegang merasa tak tergenggam kencang
oleh kekuatan jemari tangan
jemari tangan yang terlalu kuat menggenggam
akan mudah lecet kesakitan

seandainya keduanya bisa tegak berjalan
akan membuat decak kekaguman
jempol tangan akan segera menyembul dari genggaman

Perhatian Ibu Tentang Sapu

sebelum sapu lidi benar-benar semakin berkurang kekuatannya,
semakin berkurang panjangnya
ibu-ibu akan membeli sapu lidi yang baru

demikian pula tentang sapu sabut, sapu cemara atau sapu ijuk
tak pernah ibu-ibu menganggap sepele tentang sapu
ibu-ibu selalu menganggap penting tentang kebersihan
agar seluruh keluarga merasa hidup nyaman

Nasib Sapu

kalau kau lupa di mana menaruh aku
sebaiknya lupakan saja ingatanmu tentang aku
agar kau tak terganggu pikiranmu
(biar gunung menyembunyikan magma disamar kabut
di pagi buta

biar mendung di atas gunung
yang runtuh bukan langitnya)

kalau kau lupa manaruh aku
karena aku memang sering disisih-sisihkan

Wanti-wanti Ibu Tentang Sapu

—- meski hanya selidi
sapu tak boleh dikurangi
kalau ikatannya longgar
lidi-lidi terberai bubar.
itu wanti-wanti ibuku dulu

pernah aku sembunyi-sembunyi
mengambil selidi
ingin kujadikan pancingan capung
ujung lidi kuberi getah nangka
ternyata ibuku tahu
langsung ibuku mengambil lidi
lebih dari satu
dihadiahkan kepada pantatku



 Sunardi KS, lahir di Jepara. Buku kumpulan puisinya Wegah Dadi Semar (berbahasa Jawa) 2012



Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sunardi KS
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" Minggu 19 Maret 2017

0 Response to "Rumah Penyair, Penyair dan Angin - Kisah Sapu Sabut dan Sapu Lidi - Perhatian Ibu Tentang Sapu - Nasib Sapu - Wanti-wanti Ibu Tentang Sapu"