Salman | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Salman Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 13:28 Rating: 4,5

Salman

DI kampung para nelayan, Salman tidak hanya dikenal ringan tangan tapi juga murah senyum. Ia tidak hanya dijuluki malaikat, tapi juga dijuluki si-tangan dingin oleh orang-orang di kampungnya. Ia tidak hanya kaya tapi juga baik. "Siapa pun yang meminta bantuannya, 99 persen pasti dipenuhi," kata Hosnan pada Rinto. 

"Asal..." 

"Tidak pakek asal kok. Dia ikhlas dan tak pernah mengungkit-ungkit." Hosnan semakin bersemangat. Sebenarnya Rinto mau pinjam uang untuk beli obat anaknya yang sakit, tapi Hosnan tidak mau berhenti bercerita panjang lebar tentang Salman yang suka membantu itu. 

"Salman Salman," gumam Rinto sambil mendengarkan cerita Hosnan. 

Cerita Salman yang kaya itu bukan rahasia lagi. Kebaikannya, sampai ke kantong orang-orang. Hosnan salah satu orang yang kecipratan kebaikannya. Berkat bantuan Salman, sampannya yang retak nambrak karang itu kini mulai kerja lagi, "bahkan tanpa diminta, Salman menawarkan diri." Hosnan terus bercerita. Karena kebaikannya itu masyarakat tidak segan-segan untuk meminta bantuan. 

Barangkali hanya Rinto yang belum pernah menikmati bantuan Salman. Meski hidup serba kurang, Rinto tidak sedikit pun berencana meminta bantuan kepadanya. Ia tidak mau seperti orang di kampungnya yang jika ada masalah selalu lari ke Salman. Dan yang aneh, semua orang yang dibantu Salman tiba-tiba mampu berbicara tentang kebaikannya, seolah mereka sudah kenal dekat. Lidahnya sangat lihai jika bercerita tentang Salman. 

Peristiwa yang sama juga pernah terjadi saat Rinto bekerja menjadi pegawai kecamatan. Mereka tidak hanya lihai bahkan suka melebih-lebihkan sesuatu yang tidak ada. Ada yang bilang, itu penyakit lidah yang susah dihilangkan. Sebelum Rinto bertanya itu penyakit apa, ia sudah dipecat tanpa alasan jelas. Belakangan ia tahu -sebenarnya ia dijebak- karena banyak tanya tentang penyakit itu. 

Sejak tidak bekerja di kecamatan Rinto ngojek untuk mencukupi kebutuhan anak istri. Pernah juga ia bekerja sebagai nelayan. Setelah beberapa kali mabuk laut ia tidak lagi ikut. 

"Kenapa tidak pinjam uang ke Salman untuk buka usaha, Pak." Pinta istri Rinto. 

"Dari pada ngojek," istrinya terus bicara. Rinto hanya diam dan cenderung acuh. 

Selain ngojek Rinto juga mencoba keberuntungannya di bidang lain seperti jualan online, jual gorengan. Sesekali ia mengirimkan lamaran ke instansi-instansi. Ia terus berusaha tak mau menyerah. "Yang penting tidak pinjam ke Salman." Batinnya.

Sebenarnya Rinto tidak punya masalah dengan Salman, bahkan baginya Salman adalah contoh yang baik dalam membantu. Ia hanya tidak mau menjadi aneh seperti orang-orang yang menganggap Salman seperti malaikat. Lebih aneh lagi, apa pun yang dilakukan Salman selalu dipandang baik, padahal mereka tidak tahu asal-usul persoalannya. 

Pernah ada orang yang mengolok-olok Salman lewat sosial media -mungkin pesaing bisnisnya. Sontak orang yang mengolok-olok itu mendapat caci maki dari orang di kampungnya. Padahal Salman tidak begitu merespons dan jarang membuat status. Mungkin ia malah bersyukur karena ada orang yang peduli. Barangkali karena kebaikannya sehingga orang-orang tidak terima jika Salman diserang orang. Melihat persoalan itu Rinto hanya tersenyum geli. Ia ingat, sikap orang-orang itu seperti sikap rekan kerjanya dulu saat bosnya diserang orang. 

"Dari pada memikirkan mereka mending memikirkan anak istri." Gumamnya sambil meletakkan handuk basah di kepala anaknya. Ia tampak kurus memikirkan anaknya yang tak kunjung sembuh ditambah istrinya juga sakit. Dokter bilang harus segera ditangani. Sekarang jangankan buat beli obat atau ke dokter untuk makan saja tidak ada. Karena itu ia dengan penuh harap datang ke Hosnan. 

"Minta bantuan ke Salman aja," Kata Hosnan saat Rinto mau pinjam uang. 

"Percayalah pasti Salman membantu." desaknya kemudian. Malam itu Rinto menimbang-nimbang usulan Hosnan. Ia semakin bimbang, sedangkan anak dan istrinya semakin parah. 

***
Pagi itu, Rinto tampak tergesa-gesa menuju rumah Salman. Ia menghentikan langkah setelah melihat banyak orang berderet di depan pintu rumah Salman. Lidah mereka seperti tak kenal lelah memuji Salman yang duduk di depan mereka. Lidahnya terus bergerak saling cari perhatian hingga keluar liur dari bibirnya. 

Rinto menutup mulut melihat orang-orang itu menjulurkan lidah seperti anjing saat Salman memberikan bingkisan entah apa. Mereka mengekor ke mana Salman melangkah. Sedangkan Salman tampak tenang dengan senyum mengembang sambil memberikan harapan-harapan. "Ternyata..." Gumamnya. Kaki Rinto kaku, ia semakin bingung antara terus maju atau pulang. -g

Jejak Imaji UAD 2017 

Sule Subaweh, nama pena dari Suliman. Ia bekerja di UAD dan mempersiapkan kumpulan cerpennya. Saat ini Aktif di Komunitas Sastra Jejak Imaji Yogyakarta.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sule Subaweh
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" Minggu 12 Maret 2017


0 Response to "Salman"