Sangkuriang | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Sangkuriang Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 20:28 Rating: 4,5

Sangkuriang

SETELAH bapak meninggal setengah abad lalu, Ibu baru melahirkan aku. Tak tahu secara pasti berapa lama aku berdiam dalam rahim ibu. Tak tahu secara pasti hari apa ibu melahirkan aku. Ibu tak mau bercerita kalau ditanya masalah itu.

"Kenapa aku diberi nama Sangkuriang?"

"Karena kau pembawa kebenaran."

"Kalau begitu, kenapa aku belum Ibu sekolahkan smapai sekarang?"

"Kau mulai berani membangkang, Sangkuriang?"

Aku hanya diam menunduk tak berani menatap wajah ibu apalagi memberi jawaban pada pertanyaan yang sangat menusuk tadi. Dari nada suaranya jelas dia marah sekali.

Percakapan tadi terjadi ketika aku dan ibu makan malam.

Malam dan siang terasa sama bagiku. Bedanya kalau malam lampu di kamarku menyala. Kalau siang dimatikan. Cukup membuka gorden jendela untuk mendapat cahaya bila siang.

Begitulah, aku punya kesenangan berbiak dalam rumah. Jelasnya dalam kamar. Lebih terang sendirian.

Ibu bilang tujuan dalam hidup hanya mencari titik terang. Tapi sayang ibu tak mau melanjutkan titik terang yang dimaksud titik terang yang bagaimana.

Barangkali, titik terang yang dimaksud ibu itu, nyala lampu bila malam, atau sinar matahari sepanjang siang. Dua sinar yang berlainan, memberi satu jalan yakni cahaya. Cahaya yang menjadi pengikat mataku bercakap dengan buku-buku selalu. Buku-buku yang menjadi teman hidup.

Aku punya banyak teman buku. Saking banyak, sampai-sampai aku lupa mereka berasal dari mana saja. Teman-temanku berkerumun, saling tindih. Paling banyak berasal dari negeri Arab. Barangkali karena aku penganut agama Islam, hingga ibu setiap membelikan teman pasti ada yang berasal dari negeri Arab.

Teman lelaki yang selalu aku pegang di tangan kanan ketika hendak tidur, teman akrab.

Namanya Deru Campur Debu. Kata ibu teman dekatku itu warisan dari bapak. Aku belajar banyak hal dari Deru Campur Debu. Dia sangat pintar dan paling sedikit berbicara. Setiap aku bertanya ini-itu. Dia menjawab dengan singkat, padat, jelimet. Aku puas.

Di balik bicaranya yang singkat berbagai macam ilmu tak habis-habis aku lahap. Apalagi masalah memberontak. Dia sangat cakap mengungkap. AKu sering dibuatnya jingkrak-jingkrak belajar silat. Silat kata yang membangkitkan jiwa manusia-manusia pinggiran. Silat kata yang mematikan orang-orang berbaju besi.

Teman lelaki yang aku pegang di tangan kiri, teman curhat. Aku pangil Vander. Nama lengkapnya, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Aku sudah lama tak bercerita apa-apa padanya.

Akhirnya dialah yang berkeluh kesah padaku mengenai jalan hidupnya. Vander tipikal orang baik. Bertutur indah memesona. Walaupun cara berpakaiannya kolot. Dan orang-orang banyak yang iri serta dengki padanya. Sebagai teman aku prihatin sekali. Ternyata dia dikira hantu, mencuri belulang orang yang sudah lama mati untuk hidup kembali.

Perempuan yang sangat dekat dengan kepala yang kerap aku dijadikan bantal. Dia adalah kekasihku. Penari asal Jati Lawang Banyumas Jawa Tengah. Ronggeng sapaanku. Ibu tak pernah memenggal namanya, ketika memanggil selalu dengan nama lengkapnya. "Ronggeng Dukuh Paruk" pasti demikian dengan suara serak-parau ibu memanggil-manggil bila memerlukan bantuan darinya.

Perempuan yang sering mengajakku berdebat sepanjang siang dan malam itu namanya Atheis. Kalau dia bangun aku jarang berbicara. Bicara masalah apapun pasti dia tak terima. Kalau berdebat kesukaannya menghina. Dan tak mau mengalah setiap ada pendapat. Semua teman-teman yang lain tak ada yang suka berteman dengan dia. Selain punya kebiasaan cerewet, kalau berbicara sama dia harus logis. Orang yang suka menulis puisi sepertiku pasti menyukai dia.

O Amuk Kapak misalkan mereka selalu berbincang-bincang sepanjang petang. Mereka berdua tak pernah tidur kalau malam. 

Begitulah keragaman teman-temanku. Kami semua tak pernah jalan-jalan keluar. Suka menghabiskan waktu dalam kamar. Menuntaskan segala urusan dalam kamar. Seolah kami sengaja dicipta untuk membangun kehidupan dalam kamar.

Jam bertiktok dengan nada yang sama, gerak yang sama, tempat yang sama. Malam dan siang bertandang ke ruangan yang sama. Semua terasa menjadi sama. Tapi kami selalu mengisi dengan sesuatu yang berbeda. Meskipun angin semakin hari semakin anyir dan menyesakkan dada, kami etap dalam kamar menjalani perintah ibu.

Di luar suara hujan menggelegar, semenjak kepergian ibu yang tanpa pamit pada minggu lalu. Ibu memang punya kebiasaan ke luar rumah setiap hari sejak aku kecil. Dan setelah pulang biasanya ibu membawakan aku teman baru. Kemarin ibu membawa, Melihat Api Bekerja, Manusia Harimau, Puya ke Puya. Aku dan teman-teman langsung akrab dengan mereka. Seolah sudah lama saling kenal. Ruangan pun kian ramai. Tapi sampai sekarang ibu belum pulang-pulang.

Kami pun mulai gusar.

"Sang....Sang...........Sangkuriang, Snagkuriang, Sangkuriang, namamu tertulis di surat itu" Vander teriak-teriak mengahmpiriku.

Tubuhku mulai gemetar setelah mendengar suara Vander. Semua teman-teman 'celenga-celengo' rasa penasaran semakin menguasai seluruh badan. Di atas meja di depan komputer tempat biasa aku menjadi binatang jalang seperti bapak. Terlihat sepucuk surat tergeletak di sana dengan benang mengikat.

Aku dan teman-teman saling tanya, surat itu siapa punya? Aku dan semua teman-teman tak ada yang merasa punya. Kami semakin risau. Aku berjalan pelan, mengambil surat itu lalu pelan-pelan membuka dengan tangan gemetar.

Sangkuriang Anakku 

Selamat jalan, Anakku. Aku sudah selesai bertugas. Kau sudah besar. Sudah pintar.

Jangan tanya ke mana Ibu keluar. Sudah waktunya Ibu kembali ke asal. Menjadi binatang jalang mengembara bersama bapakmu. Menembus jalan terjal, juram, buram, demi menebarkan kebenaran, menumpas kejahatan.

Sekali lagi, jangan kau tanya ke mana Ibu pergi? Kapan Ibu Kembali? Kau perlu tahu, di dunia bukan tempat untuk kembali. Dunia tempat baik untuk mengakhiri. Begitulah dan akan selalu begitu yang terjadi. Kau tak bisa mengelak. Kau akan tiba pada keadaan yang sama kelak.

Anakku Sangkuriang yang suka bertanya. Jika kau menangis berarti kau sedang bertemu dengan  harga sebenarnya. Mensyukuri kehadiran dan kehilangan sesuatu benda yang kau punya.

Teruslah menangis. Teruslah menangis Anakku, teruslah menangis. Sekarang waktu yang tepat untuk berkecimpung dengan dunia yang berduka terus-menerus. Maka, menangislah.

Keluarlah dari kamarmu, Anakku. Jangan selalu mengurung diri, jangan selalu mengunci diri. Kau sudah besar Sangkuriang. Bukalah pintu kamarmu, lihatlah ruang yang maha luas itu.

Ruang maha luas yang tak bisa kau jangkau dengan mata itu, orang-orang menyebutnya Indonesia. Sekarang ruangan itulah kamarmu. Merantaulah sesukamu, sepuasmu.

Iya Indonesia Anakku. Di sana kau akan mengenal, menemukan, mengenakan, dirimu yang sebenarnya. Kau akan bertemu banyak orang di sana tapi pertemuan yang banyak itu hanya akan membawamu ke ruang sepi. Jauh lebih sepi daripada dulu semasih kau berkecipuk dengan teman-temanmu di kamar. Mereka semua yang hidup di sana hanya mengenal tikam-menikam satu sama lain. Tak bersaudara padahal seibu dan sebapak. Itulah alasan Ibu mengurungmu bertahun-tahun sendirian. Dan menjauhkanmu dari gedung-gedung sekolahan.

Keluarlah Anakku, kamarmu sekarang tak sempit tapi kau bakal digiring menuju ruangan yang lebih sempit dari kamarmu.

Oh ya, kau dulu pernah bertanya. Kenapa kau kunamai Sangkuriang. Ibu hanya mencoba mengajari sejarah secara benar. Sejarah kita salah Anakku. Salah. Dengan nama Sangkuriang kau punya beban yang lebih berat dari pada dunia yang memikul tubuhmu.

Beban yang kau pikul di balik nama Sangkuriang jauh lebih dahsyat beratnya. Jauh lebih dahsyat. Seiring berjalannya waktu, pengembaraanmulah yang bakal memberi tahu beban apa yang ibu maksud itu. 

Kau dulu juga pernah bertanya, kenapa ibu menjauhkanmu dari dunia sekolah. Ketahuilah Anakku, sekolah selalu gagal mencetak jiwa handal Anakku. Sekolah hanya mencetak manusia-manusia pintar yang kurang ajar, cerdik, licik, dan picik. Aku dan bapakmu benci itu.

Kakekmu punya gelar doktor, sekarang beliau jadi orang besar lewat jalan pendidikan. Menjabat di pemerintahan. Perutnya buncit ke depan. Di balik kopiah hitam dan baju batik larik-larik yang selalu ia kenakan dan di hadapan banyak orang ia selalu berlaku sopan, beliau sebenarnya sangat kejam Anakku. Kesukaannya memeras juga merampas hak-hak rakyat kecil di mana-mana secara labas. Ingin hidup sendiri, mandiri sebagai pencuri. Kau tak perlu tahu siapa dia. Kau tak perlu tahu. Supaya kau tak pandang bulu dalam menjalankan tugas.

Kaulah Anakku, Snagkuriang sang binatang jalang. Yang suka membikin kekacauan demi kebenaran, ketenangan, kemaslahatan demi hidup kebersamaan. Mengembaralah kemana arah kau suka. Tebarkan kebenaran meskipun nyawa jadi taruhan. Jadikanlah nyawa yang kau hirup, yang kau seduh dengan halus setiap saat, menjadi nyawa yang manfaat, menjadi nyawa yang berkat.

Salam dari Ibumu!

Aku berlinang, terkenang, semua teman-teman kemudian. Sesekali kami mencoba menghentian waktu yang berjalan. Lantaran aku dan teman-teman tak ada yang tahu secara pasti identitas ibu; namanya siapa, berasal dari suku mana? keturunan siapa? Kami semua hanya mengenali wajah eloknya, suara sendunya, mata sipit bak bulan sabit, lengkung alis yang menipis. Selebihnya masih tanda tanya!***

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sengat Ibrahim
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" Mingu 26 Maret 2017

0 Response to "Sangkuriang"