Sarung Kiai Ababil | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Sarung Kiai Ababil Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 10:29 Rating: 4,5

Sarung Kiai Ababil

BILA ditanya kisah apa yang paling berkesan selama di pesantren, tentu aku menjawabnya dengan kisah tentang Kiai Ababil. Ia kiai yang cukup kondang di kota kelahiranku. Pernah dimusuhi Lekra, ketika Lekra sedang gencar-gencarnya mementaskan sandiwara keliling seperti Gusti Allah Mantu, Gusti Allah Edan, dan Matine Gusti Allah. Kiai Ababil menentang keras lakon-lakon itu sehingga ia pernah diburu dan mau dihabisi. Bayangkan saja, ada petikan dialog dalam pertunjukan sandiwara Gusti Allah Mantu yang bunyinya: wis rasah macak ayuayu, ora ayu yo payu. Nek ra ayu yo raup diniati wudhu. Nek ora ana banyu yo nganggo uyuhku. Banyu uyuhku padha sucine karo banyu wudhu (tidak usah bersolek cantikcantik. Tidak cantik juga akan laku. Kalau tidak laku ya cuci muka dengan niat wudu. Kalau tidak ada air ya pakai air kencingku. Air kencingku sama sucinya dengan air wudu).

Suatu hari, orang yang memburunya tahu bahwa Kiai Ababil bersembunyi di sebuah gua dengan menggunakan jalur burung terbang. Bukan jalur jalan sebagaimana manusia, misalnya dengan menggunakan pematang sawah. Tentu saja, ilmu memahami jalur burung terbang ini adalah ilmu alam yang spesifik.

Memperhatikan ke mana saja burung terbang butuh kepekaan yang ekstra. Namun, meskipun gua persembunyiannya telah dikepung, Kiai Ababil lolos juga. Entah dengan cara apa. Waktu itu diyakini ia bisa menghilang. Mungkin terbang. Karena itulah, selang sekian waktu, ketika musuhmusuhnya tidak lagi mencarinya dan ia muncul lagi, ia lebih dikenal dengan nama Kiai Ababil. Ia sendiri tak peduli siapa namanya yang sebenarnya.

Bagiku, yang berkesan dari Kiai Ababil adalah sarungnya. Sarung yang setiap hari dipakainya untuk menemui tamu, salat, dan kegiatan lain. Sarung yang biasa sebagaimana orang memakai celana pendek atau celana panjang. Masa itu aku bagian dari orang-orang yang ikut berebut mencuci sarung Kiai Ababil.

Muncul perasaan selalu tergugah, harus menang di antara santri lain, supaya hanya akulah yang bisa mencuci sarung Kiai Ababil. Muncul perasaan puas bukan kepalang jika aku berhasil mencuci sarungnya. Rasanya seperti baru saja menunaikan ibadah. Lega, tentram, dan nyaman.

Untuk bisa meraih keinginan mencuci sarung Kiai Ababil, para santri kerap membuat sayembara. Yang paling sederhana misalnya sayembara membalikkan telapak tangan kanan alias hom pim pah. Siapa yang telapak tangan kanannya muncul paling berbeda, dialah yang menang. Dialah yang kejatuhan berkah mencuci sarung. Untuk sayembara kecil-kecilan ini saja, aku selalu ambisius sehingga terus berusaha mengakali kawan santri lainnya. Bahkan aku menempuh cara tidak sehat. Aku suap beberapa santri dengan sebatang atau dua batang rokok supaya mereka sengaja mengalah.

Untuk tindakan semacam itu, beberapa teman santriku pernah menanyaiku. Apa alasannya. Di mata mereka aneh sekali. Aku menjelaskannya diam-diam, secara baik-baik, satu per satu di antara mereka dengan tidak saling tahu. Aku hanya bilang bahwa aku merasa puas saja. Padahal lebih dari itu, aku tentu berkepentingan mencari muka di depan Kiai Ababil. Seolah-olah hanya aku yang paling serius memikirkan dan memberi perhatian kepadanya.

Aku paling suka mencuci sarungnya ketika justru baunya sedang minta ampun. Barangkali di situlah nilai berkahnya. Kalau baru sehari atau dua hari dipakai kemudian harus ganti karena misalnya kena tembelek cecak, itu masih kurang bau. Setidaknya ketika jatuh hitungan empat hari baru baunya lumayan menyengat.
Bahkan hidung yang bumpet karena terinfeksi flu pun masih bisa membauinya.

Aku tahu kelebihan dan kekurangan Kiai Ababil. Ia juga mudah percaya padaku.

Sampai dalam hal menemui tamu, di antara santri lainnya hanya akulah yang dipercaya berada di depan. Aku pun mengenal tamu-tamunya yang beragam, yang rata-rata tahu kisah masa lalunya diuber-uber Lekra, padahal tamu-tamu itu juga banyak yang datang dari jauh. Tamu yang datang pada seorang kiai pada umumnya minta saran dan doa, khususnya dalam hal meraih cita-cita dan nasib baik.

Di akhir pertemuan, pada setiap tamu, pasti ditutup oleh Kiai Ababil dengan ujarannya yang khas, “Hidup ini hanya ikhtiar untuk bisa bertarung dengan waktu. Dalam waktu itu ada ambisi, dan nafsu. Apakah waktu yang akan menghabisi dan mengalahkan kita atau kita yang akan menghabisi dan mengalahkan waktu.”

Karena ujaran yang khas itu, banyak tamu yang membawa suvenir berupa jam. Entah jam tangan, jam dinding, jam meja, jam gantung, atau lainnya. Dari kabar satu mulut ke mulut lainnya di antara para tamu yang tahu bahwa kesukaan Kiai Ababil bicara soal pentingnya memperhatikan waktu, maka kabar semacam itulah yang membuat Kiai Ababil menjadi cukup sering menerima suvenir berupa jam, yang jumlahnya kian hari kian banyak. Ia sangat jarang menerima uang, sembako, atau lainnya di luar berupa suvenir jam.

Aku dan santri-santri lainnya merawat dan menginventarisasi jam-jam pemberian para tamu itu. Dalam sebulan bisa puluhan, dengan harga yang beragam. Ada yang cuma puluhan ribu, ratusan ribu, hingga jutaan. Untuk melangsungkan seluruh kegiatan pesantren, Kiai Ababil dan para santrinya sepakat untuk menjual satu persatu jam-jam itu jika memang diperlukan. Jika hasil panen sawah, kebun, empang, kerajinan gerabah, dan ternak-ternaknya lancar, ya tidak perlu dijual.

Banyak keculasan yang kerap kulakukan selama hidup di pesantren asuhan Kiai Ababil. Salah satu keculasan yang paling berkesan adalah mengakses nama dan alamat tamu untuk keuntungan sendiri. Pernah, misalnya, ada tamu pejabat lokal ke rumah Kiai Ababil. Seusai bertemu Kiai Ababil, di parkiran mobil ia kutemui. Kuajak bicara sebentar lantas kumintai alamat.

Selang sekian waktu kemudian kudatangi rumahnya. Kuajukan surat permohonan bantuan untuk pesantren. Namun, sesungguhnya itu fi ktif. Pejabat itu memberi bantuan uang dan kumakan sendiri, kugunakan untuk berfoyafoya. Pamitnya pulang beberapa hari menengok orangtua, padahal aku melancong ke hotel dan dugem
ke diskotek. Melihat separuh surga yang mungkin sungsang di belahan dada dan paha yang bersinar tersebab kerlap-kerlip lampu. Melihat alifalif yang untuk sementara waktu, sebentar saja, sengaja dialpakan.

Di masa mudaku, pesantren itu kutinggalkan. Aku pamit studi ke kota lain yang memang mengantarkanku meraih pendidikan tinggi, bekerja mapan, lalu bergabung dengan sebuah partai. Itu memungkinkanku untuk mematangkan bakat-bakat keculasan yang sudah semenjak ingusan sering kugunakan secara luhur.

***
Tapi kini, di usia tuaku, mirip Kiai Ababil dulu, aku justru hanya tinggal meringkuk di penjara. Menghabiskan hari-hari cuma dengan selalu mengenakan sarung. Sebab, ternyata satu-satunya pakaian yang sangat nyaman digunakan narapidana, setidaknya buatku, adalah sarung.

Masih cukup lama gerhana hidup yang mesti kutempuh selama di penjara. Boleh jadi, sampai ajalku datang, di penjaralah muara akhir hidupku. Meski begitu, aku tetap bisa menghidupi keluarga secara layak. Tak tanggung-tanggung, bahkan tiga keluarga sekaligus. Sebab, istriku memang. Mau apa?

Kalau pas sendiri di balik terali besi, aku kerap geli sendiri. Jika sarungku sudah sekian hari kupakai dan mulai bau, aku yang mencucinya sendiri. Memang ada narapidana yang menawarkan jasa mau mencuci supaya dapat imbalan uang dariku. Tapi, aku menolak. Kalau cuma uang yang dibutuhkan, kuambilkan saja seperlunya dari dalam gulungan sarung di bagian perutku.

Biasanya, di situlah aku menaruh uang secukupnya untuk kebutuhan sehari-hari. Bodohnya, teman-temanku yang dulu kerap kuculasi selama di pesantren tetap berbaik hati kepadaku hingga kini. Mereka masih mau saja menjengukku. Menghiburku dengan lelucon-lelucon basi di masa silam, namun tetap bisa bernilai menghardik, meletupkan kejutan di masa kini.

Sungguh, hampir tidak ada yang kusesali dari seluruh perjalanan hidupku karena baik dan buruk yang kulakukan sudah kutebus. Hanya satu yang diam-diam kusesali dan hingga kini kusembunyikan sebagai rahasia. Bahwa yang membocorkan rahasia tempat persembunyian Kiai Ababil ketika dikejar-kejar Lekra adalah juga aku. Meskipun masih tergolong belia, sungguh dalam pikiran dan hatiku waktu itu, aku senang jika melihat orang lain kalut, berada dalam ketegangan, dan sial.

Untungnya, Kiai Ababil waktu itu masih selamat. Jika tidak, bisa saja aku tak pernah punya kenangan mencucikan sarung-sarungnya, sembari tetap membangun rencana untuk selalu culas setiap hari, secara halus dan rapi. Aku tahu, bahkan sampai di akhirat nanti, Kiai Ababil tak akan punya rasa curiga sedikit pun padaku. 

Catatan:
Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat): sebuah organisasi budaya underbouw Partai Komunis Indonesia (PKI). 

Satmoko Budi Santoso, sastrawan, tinggal di Yogyakarta. Novelnya Kasongan (2012) mendapat penghargaan dari Balai Bahasa Yogyakarta, Oktober 2013.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Satmoko Budi Santoso
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 5 Maret 2017


0 Response to "Sarung Kiai Ababil"