Sebelum Membaca - Sebelum Percaya - Sebelum Sendiri - Sebelum Bicara - Sebelum bertemu - Sebelum Pulang | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Sebelum Membaca - Sebelum Percaya - Sebelum Sendiri - Sebelum Bicara - Sebelum bertemu - Sebelum Pulang Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:49 Rating: 4,5

Sebelum Membaca - Sebelum Percaya - Sebelum Sendiri - Sebelum Bicara - Sebelum bertemu - Sebelum Pulang

Sebelum Membaca 

ke sekolah setiap pagi aku pergi
dengan harapan tiba di kamar sendiri -
atau di ruang kelas di mana tidak ada
siapa pun selain aku. tetapi

ketika pulang, aku ingin tidak
pernah sampai di rumah. hanya

di jalan. langit ialah buku favoritku.
buku gambar semua manusia. puisi
tak rampung. cerita tak berujung.

aku ingin menuliskan pikiran
gelapku di atas kertas yang lebih
gelap. ketika aku hilang kelak

tidak ada yang akan kutinggalkan
selain diri sendiri yang tidak
pernah lengkap.

Sebelum Percaya 

di antara segala yang tak kupahami diriku
terlalu cepat kupelajari dan terlampau lambat
kumengerti. dan kau

di kejauhan, ada seseorang di dalammu
melarang merindukan diri lain. masa lalu
yang membuat kopi pagi tidak butuh
gula dan kawan bicara.

aku menulis berjuta-juta kata tapi
tiap kata lupa dari mana dan untuk siapa
ia tiba. aku mencintai segala yang tidak
memaksa aku mengingat kau. tapi

tak ada yang jauh. hanya ada
jarak. tapi

tanpa jarak, puisi adalah api –
kata-kata kayu bakar semata. tapi

kau tak perlu menyentuhnya. tapi
aku ingin mengajakmu membaca dan
berbahagia dan berduka. tapi

aku percaya tiap manusia
cuma memiliki keraguan

Sebelum Sendiri 

kenangan dan harapan, kata satu penyair,
ialah dua negara yang tidak ada di peta.
kubawa keduanya kemana-mana --

dan ingatan: paspor yang selalu minta
diperbarui

dalam diriku: membentang jarak kedua
negara itu dan dari sana hidup melimpahkan
sepi; di puisi ini kusimpan sebagian untukmu
sebagai langit yang tidak tahu berubah warna
atau jendela atau buku cerita yang menghapus
kata-kata sendiri atau rumah tanpa penghuni.
kelak kau menginginkan

sepi melebihi apapun, ketika tidak mampu
kautemukan dirimu di mana-mana. dan akan

kaupaham hidup ialah upaya menerima
ketidaksanggupan dan menolak keinginan --
supaya langit itu atau jendela buku rumah
itu melimpahkan lagi sepi yang lebih
berat daripada ketanpaan

Sebelum Bicara 

pikiran terbuka bertanya,
katamu. (pikiran tertutup menjawab)

namun segala telah menjadi jawaban
dan tidak ada seorang pun tabah
menantikan pertanyaan, semua


orang mengungsi dari perang
yang berkecamuk dalam diri
mereka. kita tak menemukan

apa pun selain keindahan lama;
anak-anak muda dalam jebakan
foto-foto tua atau rumah masa
kecil dalam mimpi orang-orang
yang tidak pernah tidur.

di puisi ini hanya ada satu kota
yang terbuat dari lelehan cermin
kau bisa menyaksikan masa lalu
mencair jadi tiada dan masa kini
tak sanggup ditangkap. jauh

di tengah-tengah ada taman;
pohon-pohon belajar tumbuh --
dan karenanya burung-burung
kecil dalam dirimu ingin punya
lebih dari sepasang sayap

dan semua orang tak juga
menemukan wajah mereka --
kita takut jadi diri sendiri

Sebelum Bertemu 

perihal paling indah dari langit
dan langit-langit: tidak pernah
menjawab ketika kau bertanya.
mereka menginginkan kau
meragukan keyakinan
selamanya.

orang butuh, kata orang, lebih
sering sendiri agar bisa jujur.

aku mencintaimu dengan pikiran
dan perasaan yang tak bisa kuubah
jadi kata-kata, apakah diam
adalah dusta? tetapi

kekasih dan puisi sama saja:
tempat sembunyi. kata-kata
dan makna slaing menghindari

agar bisa mencintai dan memberi
rasa aman bersamaan.

Sebelum Pulang

aku ingin jadi matahari yang gelap
melebihi puisi yang hidup dalam kemiskinan
bahasa. kata-kata yang selalu berjuang
memeluk tubuh yang tidak ada

seperti usaha sia-sia mencari sesuatu
yang bisa mengganti udara.

puisi ini ialah bayangan yang gamang:
apakah tubuh kita adalah bayangan
tubuh kata?

aku sendiri dan kekosonganku
terlalu berat untuk kutanggung.
tidak ada

siapa pun yang bisa kuminta tinggal.
aku tidak pernah mengatakan: jangan
pergi.

adakah matahari yang gelap
melebihi puisi. tujuan hidupku
hari ini: aku ingin tahu



M Aan Mansyur bekerja sebagai pustakawan di Katakerja, Makassar. Buku terbarunya, Tidak Ada New York Hari Ini(2016), berisi serangkaian puisi yang bertolak dari kisah Ada Apa Dengan Cinta 2.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya M Aan Mansyur
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" edisi Satu 18 Maret 2017

0 Response to "Sebelum Membaca - Sebelum Percaya - Sebelum Sendiri - Sebelum Bicara - Sebelum bertemu - Sebelum Pulang"