Setia Bagai Air - Berita Dari Belakang Gunung Biru - Selalu Ada Kota | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Setia Bagai Air - Berita Dari Belakang Gunung Biru - Selalu Ada Kota Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:58 Rating: 4,5

Setia Bagai Air - Berita Dari Belakang Gunung Biru - Selalu Ada Kota

Setia Bagai Air 

Di awal tahun hujan itu datang bagai hantu
menyergap panas udara
dengan gerimis tajam
Ada barisan membasahi kampung dan kota
menggoyang pepohonan
dan menggeliatkan parit
Rumput tidak hanyut,
mimpi menghilang di tikungan
daun-daun busuk, bunga-bunga busuk,
buah busuik
kata-kata busuk ingatan busuk di tahun lalu
Jangan ada lagi pesta sisa buih
dan mabuk waktu Jangan lagi menjual teka-teki,
hujan itu sudah berat
ditanggung atap-atap jiwa yang rapuh
Jangan lagi membeli buih
yang dikemas dalam piala
kalau pecah hanya bisa melukai siapa saja
Jangan pura-pura tidak ada hujan,
tidak ada awan
guntur yang sesekali menghentak
sudahlah cukup
mengatakan hujan sebagai hujan.


2017 

Berita Dari Belakang Gunung Biru 

Mega menari memanjang mengular naga
dengan misai waktu
Cahaya-cahaya dari abad yang sampai
Gunung menanti warna biru menyaput
seluruh tubuhnya
Mimpi-mimpi tambur sunyi
Anak-anak lembah menyanyikan lagu cinta
melahirkan mereka berkali-kali
Siapa menemukan kata?
Siapa mematangkan berita?
Siapa menyiapkan kisah-kisah?
disuapkan ke dalam mulut,
harapan, nyaris hampa
Perjalanan mega, bayang-bayangnya
menempuh alur sungai
dari lautan menuju mata air,
lebih jernih dari mutiara
Surga.
2015 


Selalu Ada Kota 

Selalu ada kota, di dalam kepala
Bukan mimpi karena siang hari
Ia mengajakku berbicara
tentang percakapan yang telah lewat
tentang pertemuan yang segar
tentang sunyi yang selalu mekar
Lengkap betul dia, dengan sudut
berlampu merah hijau
penyeberangan-pnyeberangan jalan
warung es, rujak cingur dan antrean kerupuk
ditambah senyum mengambang, abadi
Kota itu tidak mau pergi dari kepala
tidak mau kupulangkan saat aku keluar
setasiun
menemukan becak nekad telah berubah taksi
„Kemana Pak?“
„Hotel ini,“ kataku sambil menunjukkan kartu
Di dalam kamar aku berdebat dengan kota itu
”Sudahlah, aku sudah lelah. Kau tidurlah.”
Ia tesenyum pahit, membuka pintu keluar.
Aku lega, untuk pertama sejak tigapuluh tahun
aku bisa tidur nyenyak sekali.
Pagi, astaga !
Dia menungguku di tempat parkir.

2017 



Mustofa W Hasyim, penyair tinggal di Yogyakarta, Ketua Studio Pertunjukan Sastra Yogyakarta. Tahun lalu menerbitkan kumpulan puisi Legenda Asal Usul Ketawa.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Mustofa W Hasyim
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" 26 Maret 2017