Soma Inangun | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Soma Inangun Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 09:43 Rating: 4,5

Soma Inangun

MALAM telah larut. Panggung ketoprak sudah memasuki babak akhir. lakon carangan Suminten Edan nyaris mempermalukan tuan rumah yang baru punya hajat menikahkan anaknya, oleh sebuah adegan yang mengagetkan. Suminten benar-benar edan. Kata-kata igauan keluar dari mulutnya. Ada sepenggal kalimat yang penuh dengan firasat.

”Sapa meneh sing bakal dirangket.“

Malam semakin dingin namun terasa panas. Parjo Bei yang berada di kebun halaman rumah tiba-tiba digelandang oleh dua orang tak dikenal. 

”Hanya karena berada di tempat penitipan sepeda, ia ’diciduk’ aparat, karena dianggap anggota Lekra organisasi kesenian onderbow PKI,” kata Soma Inangun teringat nasib temannya Parjo Bei, yang akhirnya dibawa ke Nusakambangan, dihukum tanpa ada putusan pengadilan yang berkekuatan tetap. Meski ia tahu, Parjo Bei temannya itu tidak tahu menahu soal politik.

Soma Inangun telah diingatkan oleh sejarah, jika tak paham benar soal politik jangan coba-coba ikut di dalamnya. Makanya ia yang hanya lukisan Sekolah Rakyat (SR) lebih merasa punya kebanggan dan harga diri ketika menjalani profesinya sebagai tukang cukur.

Setiap pagi sebelum berangkat kerja, ia selalu memastikan semua piranti kerjanya sudah masuk ke kotak, di antaranya: alat cukur, gunting, sisir, kain lainnya. Kotak menyerupai koper berukuran 75 x 40 cm itu selalu ditaruh di boncengan sepeda bututnya.

Ia selalu mengutamakan pelayanan, dengan memperhatikan kebersihan semua alat yang ia bawa. Selimut putih yang merupakan peranti utama saat dia bekerja, tiap hari selalu dicucinya. Ujung-ujung rambut yang lembut yang menempel di selimut bisa seperti ulat bulu, gatal dan kalau sudah menempel bisa berminggu-minggu. Karena itu harus selalu diganti.

Pelanggannya tak hanya berasal dari kalangan orang-orangtua saja, juga orang dewasa hingga anak-anak. Secara khusus ia tidak pernah mengikuti perkembangan mode rambut, namun ia tak pernah menolak permintaan model rambut apa pun dari para pelanggannya. Tapi diam-diam ternyata ia sering menonton pertandingan sepak bola di televisi, di mana di situ ia memperoleh banyak inspirasi modelo rambut dari para pemain atau para suporter. 

”Aku pengin potong seperti model carbol, tipis dan pendek,“ ujar Paklik Yanto sambil mengelus-ngelus helai rambutnya yang sebagian mulai rontok, sembari membayangkan bagaimana model potongan rambut seorang calon pilot pesawat terbang. Tidak lama kemudian dari arah selatan, yang ditunggu akhirnya datang.

”Halo Nakmas Yanto yang ganteng, aku tahu, kau menunggu kedatangan Simbah, kan?“ sapa Mbah Soma.

”Iya Mbah, kok tahu?“

”Aku hafal benar, siapa-siapa saja yang bulan ini harus potong rambut?“ canda Mbah Soma.

Dengan sigap, setelah meletakkan sepeda onthelnya, dengan posisi standar tengah, Mbah Soma kemudian menyiapkan semua pirantinya.

”Lihat nih selimutnya wangi, kan? Simbah cuci pakai larutan lerak dan daun pandan,” ucap Mbah Soma sambil mengalungkan seliut di tubuh Yanto.

”Gimana kabarnya Den,keluarga sehat kan? Hidup itu harus migunani bagi oranglain.“

Itulah kelebihan kakek yang satu ini, di setiap kali bekerja dan menyukur para pelanggannya, selalu diselipkan petuah-petuah, dan juga kata-kata humor, sehingga banyak para pelanggannya yang kangen keramahtamahannya.

Sambil merapikan rambut pelanggannya, ia selalu bercerita tentang masa mudanya. Orang tidak mungkin percaya kalau dirinya pernah dinas sebagai tentara dan ditugaskan negara di Irian Barat. Dan orang juga banyak yang tidak tahu, mengapa tiba-tiba ia berhenti dan keluar dari tentara tahun 1963. 

Sebuah peristiwa memilukan dan mengerikan tak akan bisa dihapus dari ingatan panjangnya. Ia tidak bisa menerima sebuah kematian yang sadis dan mengerikan. Betapa hatinya teriris-iris ketika melihat temannya dibantai oleh musuh di depan kedua matanya. Darah bercucuran, suara erangan sakit yang diderita oleh temannya itu seperti menempel di telinganya berbulan-bulan. Yang akhirnya telinganya seperti tidak bisa mendengar suara apa pun.

***
PAGI itu mendung menggantung di langit yang berlembar kapas dan kafan putih. Orang-orang berkumpul di halaman rumah Mbah Soma. Rupanya sehabis salat Subuh tadi, Tuhan memanggilnya. Padahal hari itu sedianya Mbah Soma akan menyukur rambut mantan presiden yang dulu teman ketika berada di kesatuan. Temannya itu bekas komandan batalyon. Secara khusus terbang dari Jakarta untuk merapikan rambutnya yang hampir semuanya berubah. Namun takdir telah memotong keinginan luhur ini secara damai dan syadu. Soma Inangun pergi diantarkan sepasang sisir dan cermin yang bening. • (k)

Yogyakarta, 21 Februari 2017 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Budhi Wiryawan
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 5 Maret 2017

0 Response to "Soma Inangun"