Tahun Melangkah - Sebuah Minggu Buat Penyair | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Tahun Melangkah - Sebuah Minggu Buat Penyair Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:33 Rating: 4,5

Tahun Melangkah - Sebuah Minggu Buat Penyair

Tahun Melangkah

tahun melangkah. di langit jeritan kalah, pecah, sebagai kembang api, atau dirimu yang
merias dengan sisa lelah di wajah. di permukaan kaca, menyimak setiap denyut waktu
yang singgah. hanya ada sedikit ingatan, sebagaimana kenangan yang ebranak pinak,
setiap perjalanan, jejak-jejak yang ditunggalkan dalam lempung tanah basah. usia kembali
lungkrah, rekah tak terbelah. mungkin masih ada mimpi rumah, bertahun lampau kau tulis
dalam sajak mungil. atau ciuman perempuan yang gagal kaukunyah. hingga kini. tahun
melangkah. parade perayaan. menatap jendela dari bingkai yang kusam. alpa
kauganti warna catnya. tak ada air mata yang basah di mata

Sebuah Minggu Buat Penyair

ia pun rebah di waktu yang senggang. mencuri ingatan, juga baju-baju yang terlanjur
direndam, dan tak ada puisi yang hinggal di kepala. hanya sebuah telebisi dengan film
kartun warna cerah. sebenarnya ia ingin santai, atau barangkali pergi ke pusat kota. mengunjungi
toko buku loak, menemui kata-kata usang. setelah itu merakitnya dalam puisi.
tapi perutnya sakit, di remang tidurnya suara anak-anak berlarian. berkerumun lalu menjuhinya


Alexander Robert Nainggolan, lahir di Jakarta 16 Januari 1982. Bekerja sebagai staf Satlak Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kelurahan Gondangdia, Kecamatan Menteng, Kota Adm. Jakarta Pusat.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Alexander Robert Nainggolan
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" Minggu 5 Maret 2017



0 Response to "Tahun Melangkah - Sebuah Minggu Buat Penyair"