Tamu yang Datang Tadi Malam | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Tamu yang Datang Tadi Malam Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 21:45 Rating: 4,5

Tamu yang Datang Tadi Malam

DUA kubur terbujur di bawah sebatang pohon kamboja yang tak berbunga. Aira, gadis kecil bergaun hitam itu duduk di antara dua nisan. Satu tangan terjulur membelai rambut, menggeser letak pita putih yang tadi pagi dipasang mamanya. Kemudian puluhan tangan-tangan lain membelai pipi dan dagunya. Pemilik tangan-tangan itu mengucapkan kata turut berduka cita lalu berlalu.

Orang-orang terus mengucapkan bela sungkawa dan berkasak-kusuk perihal nasib Aira. Namun Aira bergeming. Mulutnya terkunci rapat. Sepanjang hidup, Aira tak pernah berkata-kata kecuali menangis dan ah-uh-ah-uh saja. Gadis kecil itu memeluk buku gambar dan menggenggam erat pensil di tangan, sementara orang-orang memandanginya dengan sedih.

Dunia Aira terisolir dari luar dan para pelayat yang sebagian besar adalah tetangganya itu tahu betul kenyataan menyedihkan pada diri Aira. Sekarang gadis itu hanya memiliki pensil dan buku gambar. Dua benda itu pula yang menggambarkan secara detil peristiwa yang terjadi tadi malam.

***
AIRA sedang tengkurap di tengah ruang keluarga ketika tamu itu datang. Aira sedang bermain dengan pensil dan buku gambarnya. Sedangkan mama sedang menonton acara reality show di televisi. Tamu itu berdiri di ambang pintu, melihatnya, mama diam. Kemudian tanpa diminta, tamu itu duduk di kursi rotan yang biasa menjadi tempat papa membaca koran.

”Mengapa kamu datang lagi?”

Aira mengangkat kepala dan menoleh. Tamu itu tak merespons.

”Pergilah.“

Mama berdiri, tapi tamu itu tetap duduk. Kepalanya mendongak. Tamu itu merapatkan bibirnya. Hening sesaat. Keheningan yang dipecahkan bunyi jam dinding yang berdetik pelan. Tik-tok-tik-tok, ketukannya terdengar lamat-lamat menjadikan suasana malam terasa lengang.

Biasnaya, setelah ira selesai bermain buku gambar, mama akan mematikan televisi dan mengajak Aira tidur. Saat pagi, mama akan menyuruh Aira menghabiskan roti dan susu, setelah itu giliran Aira menonton televisi. Di televisi Aira menonton seekor kucing yang mengejar seekor tikus. Episode yang selalu diulang-ulang itu tak pernah membuat Aira bosan.

”Aku ke sini untuk mengunjungi anakku.“ Tamu itu berkata dengan nada datar namun bergema. Aira menoleh lagi.

”Jangan sebut dia anakmu. Dia bukan anakmu.“

Mata pensil Aira patah. Dia terlalu keras menekan ujungnya. Aira diam-diam memang sedang melukis wajah tamu itu. Kumis tipis, dagu runcing, mata dinaungi alis tebal. Otak Aira merekamnya dan dengan jemari mungilnya, dia melukis wajah itu dengan sangat detil.

”Sekuat apapun kau menyanggah. Anak itu tetap anakku.“ Tamu itu tertawa lembut.

Aira menyerut ujung pensil seperti yang diajarkan mama. Percakapan di ruang tamu itu tidak menarik baginya, namun percakapan itu tetap masuk ke telinganya. Serutan terakhir tidak terlalu sempurna, tapi sudah cukup untuk dipakai kembali. Aira khusyuk menikmati tarian ujung pensil yang menggurat lekuk-lekuk wajah tamu itu. Tapi saat menatap wajah mama, Aira menggigil. Raut wajah mama merah, matanya menjegil. Aira hapal benar, itu raut wajah mama saat sedang marah. Aira menunduk.

”Jaga mulutmu! Dia menyelamatkanku dari kotoran yang kautabur di kepalaku!“ Suara Mama melengking dan Aira melengkung. Pensil di tangannya terlepas. Jemari mungilnya gemetar. Tamu itu meradang, wajahnya menegang, pelipisnya mengencang,

”Aku sudah memintamu, tapi kau mengkhianatiku!“

”Hidupku sudah tenang. Jangan coba-coba mengusikku lagi.“

”Aku tak akan mengusikmu, jika kaubiarkan anak itu ikut denganku. Aku tahu dia tidak bahagia hidup bersamamu!“

Setelah teriakan itu, Aira meletakkan pensil ke dalam lipatan buku gambar. Dia berlari kemudian bersembunyi di balik gorden kamar, seperti saat mama sedang marah. Dia mendengar akuarium pecah. Airnya melimpah ke lantai. Batu-batu kerikil dan ikan-ikan kecil menggelepar. Asbak ikut-ikutan terjatuh tersepak kaki mama. Mama terbatuk-batuk. Matanya mendelik. Lidahnya terjulur. Jemari tamu itu tak lepas dari leher mama sampai mama tertidur diam.

Tamu itu sering datang. Aira mengingat jelas kedatangannya pertama kali. Papa mengusirnya disertai todongan sebila pisau. Tapi sekarang papa tidak ada dan mama diam, jadi mama tak mungkin mengusirnya pergi. Aira berharap pada papa, tapi dia tahu, papa tak pernah bicara halus padanya.

Aira sungguh takut pada papa. Papa serin membuatnya menahan rasa sakit, bentuk rasa sakit yang diberikan papa beragam. Papa kerap melumat dan menggigit bibir Aira. Dia tak pernah melawan atau mengadu pada mama. Puncak rasa sakit itu adalah saat darah menetes dari paha kecilnya.

Saat tu mama sedang tidak di rumah. Darah meresap di sofa merah darah dan tersamar dari penglihatan mama. Kejadian itu hanya tersimpan di kepala Aira. Aira terus merasakan kesakitan itu sampai tamu itu datang dan papa mulai jarang menyakitinya seperti sebelum-sebelumnya.

Aira selalu tenang jika papa tidak ada. Ia akan bertambah tenang jika papa tidak pulang. Namun kali ini, Aira mengiginkan papa pulang. Aira ingin papa mengusir tamu itu. Aira menyangka tamu itu bersahabat padanya, sebab dia tidak seperti papa, tamu itu baik pada Aira. Boneka beruang berbulu halus merah jambu yang ada di atas ranjangnya saat ini adalah pemberiannya.

Tamu itu melangkah, menuju tempat persembunyian Aira. Aira memeluk lutut dan menggenggam erat pensil dan buku gambarnya. Bola mata gadis itu berputar-putar, napasnya mendengus-dengus, sudut matanya berair. Aira ketakutan.

Langkah itu kian dekat. Aira menggigil dan ingin berteriak memanggil mama, namun tidak bisa. Dia ingin berbicara, tapi dia tak bisa melakukannya. Langkah itu berhenti tepat di depan gorden kamarnya. Di luar terdengar deru sepeda motor. Papa pulang! Bola mata Aira bergerak pelan dan tak bergerak-gerak liar seperti tadi. Aira mulai tenang.

Dia memasang pendengaran lebih tajam. Langkah itu menjauh, sepertinya berjalan menuju ruang tamu. Aira mengintip dari balik gorden dan melihat sebilah pisau di balik punggungnya. Aira menjejaki puncak rasa takutnya dan dia tak sadarkan diri.

***
AIRA tak mengerti dan tak tahu bagaimana mengatakannya pada semua orang rangkaian peristiwa yang terjadi tadi malam. Peristiwa yang terlukis begitu rapi di buku gambar kesayangannya. Orang-orang yang mengucap bela sungkawa itu juga tak ada yang tahu, bahwa tamu yang datang tadi malam adalah orang yang sedang mengusap kepalanya saat ini. Dia yang membuat papa dan mama tertidur lelap di bawah gundukan tanah merah pagi ini. • (e)

Adham Yudhistira, Jalan Batu Raja Kampung 5 Desa Tanjung Agung TanjungAgung Muara Enim Sumatera Selatan 31355

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Aham Yudhistira
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 26 Maret 2017

0 Response to "Tamu yang Datang Tadi Malam"