Yang Abadi di Lumbini - Agustus - Tersebab Sunyi - Perempuannya Eliot | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Yang Abadi di Lumbini - Agustus - Tersebab Sunyi - Perempuannya Eliot Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 01:44 Rating: 4,5

Yang Abadi di Lumbini - Agustus - Tersebab Sunyi - Perempuannya Eliot

Yang Abadi di Lumbini

Daun daun bambu kuning bergoyang pelan dihembus angin pancaroba
Ikan ikan dalam kolam Puskarini berenang, menyembul dan menyelam tanpa suar. Sebatang pohon jambu bersitahan pada tanah hilang hara
Kukuh meski tanpa buah, menari bagi musim yang tiada mengasihinya

Segalanya ini, akan menjadi milik kenangan yang kini tengah termangu di taman kering itu, dalam diam seorang bisu. Di bibirnya sebuah kata menunggu suara; bunyi yang punya arti. Tapi lidahnya telah jera kepada makna. Kepada seluruh telinga yang telah menampik semua darmanya.

Darma adalah Ibu dari semua doa dan ziarah di ening sebuah vihara
Sebuah lengan yang terulur dari kaki Kuil Mayadevi pada bising dunia
Menjelma segera debu dihembus badai bayu di sepanjang Kapilavastu
Menetes di kening hening, di dawai jiwa ia berdenting. Musik yang asing

Musik yang memberiku sepasang sayap; pagi dan sepi, kemudian pergi dari Kathmandu yang sedih. Tak ada lagi buah jatuh dari reranting bodi
Tapi ada yang masih duduk tentram menatap cakrawala. Sebuah stupa
Ia tak abadi, karena itu bisa disentuh tubuh, tak mau mengelak dari kata

Tapi kita ingin ada yang abadi. Seperti sesuatu dalam diam seorang bisu
Di selubung kabut Taman Lumbini; kata yang tak bisa disampaikan lidah selain racau; seperti getar terakhir dari sebuah dawai. Kata yangs erupa
Ikan berenang di tenang kolam yang juga menjadi tempatnya tenggelam

Nepal 2016

Agustus

Di Timur pagi, Agustus seperti sebaris eucalyptus di lereng bukit yang mulai tandus. Hampir
rebah dan tersia. Tinggal jubah kemarau yang berdebu itu membungkus bahu legamnya. Bahu
Agustus yang penuh cidera oleh kenangan. Di jantungnya, kita masih bisa meraba denyut musim
yang harum, sisa musim hujan yang tak lagi bisa menepati janji.

Kenangan yang membuatnya terlunta di sepanjang jalan Cavenagh. Di lorong-lorong pertokoan
yang bersih, yang menampik Si Hitam atau para Gypsi, setiap orang tampak baik dan welas asih
Itulah permukaannya. Kelaziman yang acap membuatmu bisa berharap ada getar dari
penerimaan yang sekadar.

Tak seorang pun ingin menetap dalam kepura puraan. Tapi hari ini, pura pura adalah pakaian
yang kian mewah membungkus tubuh kita, tubuh Agustus yang kian kurus.

“Seharusnya kita bisa berbahagia seperti pagi, seperti Agustus yang membersihkan diri dari
kebencian pada kemarau panjang. Menunjukkan kebahagiaan, sedikit humor pada kenyataan.”

”Humor adalah dahak hitam seorang gypsi yang mati di sudut jalan. Dan kenyataan adalah orang
orang antre menyelamatkan seekor burung yang jatuh dari ketinggian.”

Di Timu pagi, matahari baru saja menggosok matanya. Mata yang tak sempat menyaksikan
Agustus yang berlari ke lereng bukit, di lampus sebaris eucalyptus. Mendatangi sebuah gereja
yang tersingkir ke pinggir kota. Gereja yang bersikeras menerima debu, dan kadang memberi
kita pertanyaan; manakan yang lebih berharga, seekor burung atau sebuah bangku kosong untuk
berdoa?

Darwin, 2016

Perempuannya Eliot

--Vivienne

Rumah dengan jendela jendela besar dan dinding bata merah yang lembab
Pintu berderak diterpa angin musim gugur. Angin, tamu yang lebih ramah
Melaluinya kau hirup aroma pohon pohon oak dan ruap sup dari dapur reot
Juga sebuah ciuman dan bau tembakau dari mulut yang cemas milik Eliot

Mulut itu, sepasang bibir yang kadang tampak kelam, menjadi lebih diam
Daripada batu batu hitam di tepi Camden Park. Mulut yang kau nantikan
Bisikannya di antara pekak gagak dan arus sungai yang mendesak sepi
Hingga ke pekarangan sebuah flat di Hampstead City, di antara pucat pagi

Di sini sebuah puisi lebih memiliki bunyi daripada degup jantungmu sendiri
Jantung yang menyimpan debar dua lelaki. Satu pergi, lainnya tak perduli
Tapi bukit bukit yang membentang di selatan itu, seperti sebuah jamuan
Memaksamu bertahan dengan insomnia, pil penenang, seberkas ingatan

Lalu kereta musim gugur menghelamu Vivienne, ke tempat yang lebih jauh
Pecahan awan bersitahan untuk tak hilang dihembus angin dari West Land
Kesedihan adalah men

yusuri kerumitan di daratan liar itu; tubuh perempuan
Tak bisa berakhir bahkan dalam sajak panjangdi mana kau tak dikenang

2016

Tersebab Sunyi

Aku bisa saja menulis sajak yang bukan tentang sunyi, misalnya seperti ini:

Di Manhattan, di sisi West Side, melaju dengan sebuah trem menuju Harlem aku cium lagi bau
kulit mengelupas di sekujur stalagnit yang kini menjadi Wall Street; Padang rumput tempat para
Indian menyalakan api itu telah dirampas Peter Menurit. Lalu di antara apartemen-apartemen bata
yang sunyi, dimana doa kaum Yahudi pernah terkunci, Sebuah dunia baru telah bangkit, dunia
yang menolak semua kitab suci dan menawarkan inflasi....

Atau yang seperti ini: Di Babilonia, kudengar lagi pekik Hammurabi. Di antara puingan
bangunan, di Timur dan Selatan Sebuah peradaban yang dibangun di atas genangan darah dari
pedang pemberontakan Elam. Tanah yang kini terbengkalai dan gersang, di sanalah kukenang
lagi Samsuiluna, Venus yang terbit dan terbenam, orang-orang Hitti yang tertindas dan
meradang. Dan kini, setelah ribuan tahun, seseorang menepuk bahuku seraya berbisik,

”aku bukan Semit, Elam, atau Mesir, Akulah Muasal Mereka, sebab aku Indo-Eropa“. Lalu ia
teguk lagi sebotol Vodka seraya mencium pipi kiriku dan berlalu, ke balik kabut. Menuliskan
namanya di kulit malam yang mengelupas di dinding kuil kecil. ”Akulah Semit yang
mengembara ke Mesopotamia, menembus Kanaan, hilang di antara Laut Kaspia dan Laut Hitam.
Tetapi akulah leluhur Para Arya di India." Tetapi Sejak Hammurabi menyapu Mesopotamia, Kau
diseru dengan nama ”Hitti“. Lalu kau belajar mengeja dan menulis, menuturkan sejarahmu yang
tragis. Serupa sebatang pohon kehilangan rumpun, seumpama onta tanpa gurun.

Tetapi aku hanya akan menulis padamu perihal lain, misalnya tentang pedas cabe di cobekku
sendiri dan bukan tentang anggur yang sangat kau puji. Mari saling mencicipi, sebab aku tak bisa
menanam anggur di pekarangan sempit ini, Meskipun kau bisa saja berkebun cabe di luas
lahanmu yang subur dan masyhur.

Manhattan, Februari 2011



Iswadi Pratamasutradara di Teater Satu, Lampung. Menulis lakon, cerpen, esai, dan puisi. Buku puisi yang terakhir terbit: Harakah Haru, Pustaka Cendikia, Bandung, 2015.




Rujukan:
[1] Disalin dari karya Iswadi Pratama
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" edisi 25-26 Maret 2017

0 Response to "Yang Abadi di Lumbini - Agustus - Tersebab Sunyi - Perempuannya Eliot"