Zikir Daun yang Jatuh - Riwayat Hujan Sore Hari - Tentang Seorang Kuli - Halaman - Angin Sore Pantai Lombang - | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Zikir Daun yang Jatuh - Riwayat Hujan Sore Hari - Tentang Seorang Kuli - Halaman - Angin Sore Pantai Lombang - Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:05 Rating: 4,5

Zikir Daun yang Jatuh - Riwayat Hujan Sore Hari - Tentang Seorang Kuli - Halaman - Angin Sore Pantai Lombang -

Zikir Daun yang Jatuh

pisah yang memisau ini
menanam takdirku dalam sunyi
namun kesunyian yang disyukuri
akan memberi ranting lain bagi diri
padanya aku akan melekat
menikmati makna hakikat

angin yang menghempaskanku sebelum subuh
kuamini sebagai tangan lembut
yang mentaati perintah Tuhan
untuk membuat hidupku bersekutu debu
merepih kepingan duka jadi sebaris doa
yang kupanjatkan dari pinggang tanah
sambil mengubur semua sisa getak
sebagai kenangan yang kembali kepada asalnya.

Riwayat Hujan Sore Hari 

hujan turun melamar sunyi
saling kecup dan merapatkan bibirnya di jendela
bunyinya ritmis mencipta susunan tangga nada
dilagukan jam dinding yang menggigil
mempersila waktu menyatu dengan air.

waktu yang menyatu dengan air
menghanyutkan ke sungai impian
batu-batunya hitam
ikan-ikannya berenang dengan sirip benang
arusnya membawa bau tubuh kita ke muara
kita eksodus ke jasad ganggang
seraya menyempurnakan sebuah pelukan.

sesaat ketika senja labuh bersanggul awan
 barulah kita sadar
ini hanya sungai impian
yang dicipta hujan di luar ruangan
untuk melengkapi kemesraan kita dalam kamar.

Tentang Seorang Kuli 

angin mengusap garis kerut dahi seorang kuli
yang berpeluh
matanya rampung menampung lelah
ia bersandar pilar beton
mendengarkan derak tulangnya sendiri
sambil menimbang suara hatinya
di antara tong sampah dan sayap lalat.

jika hidup semudah lalat lesat temukan
makanan
tentu bumi seburuk tong sampah
: yang terkandung adalah sisa-sisa
ulat dan bakteri menyatu dengan nyawa
bau busuk menjarum udara
membuat sarang nista di setiap dada
dan kehidupan diwarnai dengan perebutan dan
keributan
karena lalat selalu meletakkan hatinya
sentuh bersisi dengan duburnya.

Halaman 

aku menemani waktumu
lelap dalam senyap
menerima ludah langit
atau dicabik cakar kemarau
sambil terus berterima kasih kepada sapu lidi
yang merias wajahku setiap pagi.

aku menemani waktumu
dengan pasrah yang sempurna
mencatat kepergian dan kepulanganmu
pada tangan debu dan bahu batu
agar kelak kau tahu
akulah yang berguru hati ibumu

Angin Sore Pantai Lombang

di antara rambutmu yang legam
gelagat angin memendam dendam
karena rindu kepada pasir tetap berdesir
bergelayut tanpa akhir
meniru daun-daun cemara
mempertahankan tubuhnya di tangan cuaca.

ada yang mesti kita rahasiakan
atas gerak angin yang lembut ini
sebab segala yang ditiupkan
bakal terhempas ke mulut pantai
dikenali ikan sebagai sampah paling menji-
jikkan.

di antara rambutmu yang legam
angin menyimpan bau laut
kekal memeluk pangkal
sambil memperkirakan badan kapal
berlabuh membaw alokan dan bunga mawar
biar kita belajar menanamnya di sini
menunggu ia tumbuh atau mati
dalam sebuah sunyi.


A Warits Rovi: lahir di Sumenep, 20 Juli 1988. Berdomisili di Dusun Dik-kodik RT 7 RW 2 Desa Gapura Timur Gapura Sumenep Madura 69472.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya A Warits Rovi
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 26 Maret 2017

0 Response to "Zikir Daun yang Jatuh - Riwayat Hujan Sore Hari - Tentang Seorang Kuli - Halaman - Angin Sore Pantai Lombang - "