33 | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
33 Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 14:25 Rating: 4,5

33

TADI malam lelaki itu datang kepadaku.

Seperti dalam mimpi-mimpi sebelumnya, lelaki itu muncul dari dunia entah dan berjalan melewati jalan setapak. Dengan langkah pasti ia memasuki halaman rumahku dan berdiri menunggu di depan beranda. Baju putihnya berkibar saat angin sejuk dari arah perbukitan bertiup kencang. Rambutnya yang sedikit gondrong jatuh menutupi dahi. Wajah tampannya bersinar saat aku menghampirinya. Ia tersenyum. Mutiara putih berderet rapi di antara bibirnya yang tipis. Senyum terbaik yang pernah kulihat. Senyum yang membuatku sanggup merelakan seluruh hidupku untuk bisa melihatnya setiap waktu.

“Aku menjemputmu, sayang,” suaranya tegas namun selembut sutra. 

Aku terpana memandangnya. “Apakah kau yang ditakdirkan untukku?”

Ia mengangguk. Matanya yang teduh menatapku. Aku seperti memasuki telaga jernih yang menyejukkan. Telaga matanya.

“Bukankah dalam ramalan kau akan datang saat usiaku tiga puluh tiga?”

“Ya. Tapi aku tidak sabar lagi menunggumu, aku merindukanmu, sayang.”

Aku tersipu, wajahku seperti tersulut api. Pasti rona wajahku semerah tomat matang yang baru saja dipetik ibu dari kebun belakang. Mendengar kata-katanya saja membuat seluruh tubuhku menghangat, apalagi jika aku sanggup menyentuh lengannya yang kokoh itu. Tetapi ia tidak pernah mengulurkan tangannya meskipun aku ingin menggapainya.

Setelah kegagalan demi kegagalan yang pahit, aku mencicipi lagi manisnya jatuh cinta. Mungkin dialah jodoh yang ditakdirkan untukku. Seperti keyakinan ibuku, jodohku ada di suatu tempat, hanya sedang menyembunyikan dirinya rapat-rapat. Suatu hari nanti ketika waktu itu datang, sang jodoh akan menampakkan dirinya secara nyata. Aku memercayai itu seutuhnya.

“Ikutlah denganku sekarang,” bujuknya dengan tatapan penuh harap yang tulus.

Untuk pertama kalinya sebagai perempuan, aku merasakan indahnya sungguh-sungguh diinginkan dan indahnya sungguh-sungguh dicintai. Wahai lelaki berbaju putih, setelah aku menelan pil-pil dusta dan meminum berbotol-botol sirup pengkhianatan, aku bisa mendeteksi bahwa hatimu tulus. Bagaimana mungkin aku menolak pinanganmu?

“Tunggu sebentar, aku akan pamitan pada Ibu.”

Aku berlari ke dalam rumah mencari ibu. Ketika menemukannya di dapur wajah ibu tampak berkabut. Air mata menetes satu-satu menuruni pipinya. Kegembiraanku seketika sirna. Aku merengkuh bahu ibu dan mengusap air matanya.

“Kau akan pergi, nak?” suaranya parau.

Aku tersenyum lalu memeluk ibu.

“Bukankah harusnya ibu bahagia? Ibu dan aku sudah lama menantikan lelaki ini. Ibu menginginkan aku memiliki lelaki yang selalu melindungiku, Ibu menginginkan cucu yang lahir dari rahimku dan Ibu menginginkan aku bahagia. Sekarang waktunya tiba, Bu. Ini takdirku! Tapi kenapa Ibu bersedih?”

“Jangan tinggalkan Ibu, nak. Jangan sekarang.”

Aku terpaku menatap air mata yang bergulir di pipi keriput ibuku. Berpuluh tahun hidup bersamanya membuatku memahami arti air matanya. Aku bisa menerka air mata yang jatuh karena kesedihan atau air mata yang jatuh karena kebahagiaan. Sejak kecil aku tidak mengizinkan diriku menjadi penyebab jatuhnya air mata kesedihan ibuku.

“Baiklah, aku akan mengatakan padanya untuk menjemputku lain waktu,” kataku kemudian.

Ibu menghela napas lega lalu menyusut air matanya. Aku mengusap lembut lengannya lalu kembali ke beranda. Tetapi, begitu menginjakkan kaki di beranda, lelaki berbaju putih itu sudah menghilang. Aku disergap kekosongan yang parah, seperti perjalanan sunyi melewati lorong-lorong gelap. Angin berembus tak bersahabat, menampar pipiku kencang dan menyakitkan.

Aku terbangun dari mimpi dengan tubuh penuh peluh.

***
Dulu, aku tidak memercayai ramalan itu.

Seorang lelaki tua yang kutemui dalam sebuah perjalanan mengatakan ramalan itu kepadaku. Aku akan menemukan jodohku pada usia tiga puluh tiga. Aku membantah ramalannya mentah-mentah. Lelaki tua itu tersenyum sabar. Sebelum menghilang ia menyuruhku membuktikan ramalannya. Benar-benar mustahil! Kala itu usiaku dua puluh lima tahun dan aku memiliki kekasih. Bahkan kami sudah merencanakan pernikahan. Lagi pula aku tidak mau menikah setua itu. Aku ingin memiliki keluarga dan anak-anak yang lucu. Lelaki tua itu pasti membual! Aku yakin itu hanyalah modus lelaki pengidap puber kedua untuk menarik perhatian gadis muda. Lelaki tua itu tidak tahu bahwa aku bukanlah gadis yang mudah takluk pada bujukan manis atau ramalan mustahil seperti itu. Aku tak percaya!

Tetapi, rencana pernikahanku pada tahun berikutnya gagal. Kekasih yang aku percayai sebagai lelaki paling setia di dunia, memiliki banyak perempuan. Lalu kisah cintaku bergulir pada rencana-rencana pernikahan yang kemudian gagal. Sampai kemudian aku mulai letih, putus asa dan berhenti mengharap. Hingga usiaku menjelang tiga puluh tiga dan lelaki berbaju putih itu datang dalam mimpiku.

“Mungkin ramalan lelaki tua itu benar, Bu,” kataku pada Ibu.

Ibu tersenyum. Tangannya sibuk mencetak gunungan nasi kuning menggunakan daun pisang. Selama tiga puluh tiga tahun, ia tak pernah absen melakukan upacara nasi kuning itu pada hari ulang tahunku. Sebagai tanda syukur atas usia yang dikaruniakan Tuhan kepadaku, begitu kata Ibu. Dan sehari selama setahun, aku menjadi orang paling berharga di seluruh dunia karena gunungan nasi kuning ibuku. “Apa lelaki berbaju putih itu datang lagi dalam mimpimu?” tanya Ibu.

Aku mengangguk. “Ya, Bu. Untuk kedua kalinya. Dia semakin tak sabar menungguku.”

Aku meneliti wajah ibu. Tak kutemukan kesedihan seperti dalam mimpiku semalam. Ia menghentikan kesibukannya dan memandang hasil karyanya penuh kebanggaan. Nasi kuning sudah membentuk gunungan cantik dengan hiasan ayam goreng, telur dadar, kacang tanah, dan acar mentimun. Terakhir ibu menaruh beberapa potong bakwan jagung kesukaanku di samping ayam goreng. Aku menelan ludah membayangkan nikmatnya.

“Dan kau sudah siap menyambut jodohmu?”

Aku mengangguk, tersipu. Ibu memelukku haru.

“Kalau begitu ayo kita rayakan! Sekaranglah saatnya! Ayo, potong tumpeng nasi kuningnya!”

Ibu selalu begitu. Meskipun aku baru saja terbangun dari mimpi panjang, aku harus segera memotong tumpeng itu. Ia tak ingin menunda perayaan sampai siang. Menurut ibu, keberkahannya akan memudar begitu tumpeng itu menunggu terlalu lama. Dan aku tak pernah keberatan untuk kemauan ibu yang satu ini. Ibu memberikan sendok kepadaku dan aku memotong tumpeng nasi kuning itu. Aku memberikan potongan pertama tumpeng kepada ibu dan menyuapkan ke bibirnya yang mulai mengeriput. Ibu tersenyum bahagia.

“Selamat ulang tahun ketiga puluh tiga, sayng. Jemputlah takdirmu,” kata ibu mencium pipiku lembut.

Aku mengangguk penuh terima kasih. Mendadak sesuatu yang hebat menghantam perutku, seolah ribuan pisau dihunjamkan seketika. Tubuhku ambruk menimpa tumpeng nasi kuning. Aku mengejang menahan sakit yang parah. Pandanganku mengabur. Aku mendengar jeritan ibu dan merasakan lengannya memelukku. Sesaat kemudian, aku lenyap dalam pelukannya.

***
Lelaki berbaju putih itu menghilang dari mimpiku.

Malam-malam panjang yang menyakitkan antara tidur dan pingsan aku menunggunya. Sakit tak menyukai orang yang penuh harapan. Setidaknya begitulah yang kuyakini saat ini. Sejak memotong tumpeng ulang tahun ketiga puluh tiga sebulan lalu, hingga sekarang terbaring di ruang putih ini, aku tidak menyerah. Sel-sel yang membelah diri penuh kekejaman ini memang menyakitiku. Ia terus beranak pinak serupa kawanan perampok jahat yang menjajah tubuhku. Tetapi aku tetap bertahan. Aku masih menunggu waktu terbaik itu datang. Bukankah usia tiga puluh tiga itu terjadi sepanjang tahun? Aku masih memiliki sebelas bulan untuk berharap.

Aku berharap ia datang menyambangi mimpiku seperti biasanya. Mengulurkan tangannya dan mendekapku. Bukankah ia berjanji akan menjemputku di usia tiga puluh tiga tahun? Wahai lelaki berbaju putih, aku merindukanmu. Sebelum jam berdentang dua belas kali, sebelum labu-labu menjadi abu. Datanglah! Jangan biarkan mereka menemukanku mengenakan baju jahitan kain kelambu dan kereta dari labu. Datanglah!

Tetapi sampai kapan aku menunggu dalam kesakitan ini? 

Semua orang bergegas mengikuti arus hidupnya. Melewati fase demi fase yang terjal. Masa kanak-kanak yang cengeng, masa remaja yang manis, masa dewasa yang penuh kenyataan; menemukan pasangan hidupnya, beranak pinak, bercucu cicit, terkubur dalam tanah lalu mengalirlah generasi baru. Dan aku masih di sini, menunggunya datang mengulurkan tangan, melepaskan semua selang yang membelit tubuhku, mendekapku ke dalam dadanya yang bidang lalu membawaku terbang ke langit berpelangi.

Ya, aku masih di sini. Menunggu.

Hingga malam paling meyakitkan itu datang. Gelenyar rasa sakit meyebar dari perut ke seluruh tubuh seolah ada melata yang merayapi aliran darahku dan menebarkan racun mematikan. Aku mengejang dan meronta. Dalam pandanganku yang mengabur, ibu tampak seperti lukisan yang meleleh terkena air hujan.

Dengan susah payah, aku meraih tangan ibu.

“Apakah dia benar-benar akan datang tahun ini, Bu?”

Ibu mengangguk. Wajahnya kuyu dan kerut di kedua pipinya tampak semakin nyata. Matanya yang cekung menatapku iba. “Aku akan menunggunya, Bu.”

“Sabar ya nak, dia pasti datang untukmu.”

“Apakah ibu juga masih menunggunya?”

Ibu terdiam, berusaha menahan aliran air matanya.

“Tentu, nak. Ibu masih menunggunya.”

“Aku tak akan sendirian lagi, Bu. Dia akan menjagaku. Ibu akan menimang cucu. Aku dan ibu akan bahagia.”

Mendadak sebuah sentakan yang hebat dan menyakitkan menerjang perutku. Napasku tersengal-sengal. Aku kembali menggelepar. Samar-samar aku mendengar ibu tergugu dan beberapa orang berlarian. Mereka menempelkan berbagai alat di dadaku. Menimbulkan suara berisik yang timbul tenggelam di telingaku. Lalu aku mendengar suara selembut sutra itu. Seketika seluruh kesakitanku menguap.

“Sayang, apa sekarang kau sudah siap pergi?” tanyanya seperti sepoi angin gunung yang lembut menerpa wajahku.

Aku menelengkan kepala dan melihat sosok berbaju putih berjalan mendekati pembaringanku. Bibirnya masih menyungging senyum terbaik dan wajahnya bersinar cemerlang. Aku ingin bertanya ke mana dia menghilang selama ini, kenapa dia tidak menjemputku tepat di hari ulang tahun ketiga puluh tiga dan kenapa membiarkan aku sendiri melawan sakit yang hebat. Tetapi aku tak bisa berkata-kata, dadaku meledak oleh rindu berkepanjangan yang menemukan muaranya. Suara-suara di sekelilingku menghilang. Aku menoleh kepada ibu yang hanya terlihat seperti bayangan.

“Ibu, dia datang! Dia menjemputku, Bu! Aku dan ibu akan bahagia!”

Lelaki itu menatapku penuh kesejukan. “Ibu sudah mengizinkanmu pergi, sayang. Ayo! Jemputlah takdirmu.”

Bayangan ibu menghilang. Lelaki berbaju putih itu tampak semakin nyata. Ia mengulurkan tangan dan aku menyambutnya penuh suka cita. Tangannya yang kokoh membimbingku turun dari pembaringan dan menuntunku keluar kamar. Di halaman daun-daun hijau bergoyang ditiup angin, kupu-kupu beterbangan dan bunga-bunga bermekaran. Kami terus melangkah melintasi taman tanpa lelah. Kami terus tersenyum dalam gairah. 

Seluruh kesakitanku sirna.

Bogor, 1’1’2012

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sri Lestari
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Tabloid Nova" edisi 1248/XXIV 23 – 27 Januari 2012

0 Response to "33"