9 Haiku tentang Kopi - 4 Kwatrin tentang Kopi - Sepasang Barista - Lepau Menjelang 9 Pagi | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
9 Haiku tentang Kopi - 4 Kwatrin tentang Kopi - Sepasang Barista - Lepau Menjelang 9 Pagi Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:00 Rating: 4,5

9 Haiku tentang Kopi - 4 Kwatrin tentang Kopi - Sepasang Barista - Lepau Menjelang 9 Pagi

9 Haiku tentang Kopi

1.
kasihku: Eva
lingkar pinggang  Pring surat
terkecup hangat

2.
lebar Malabar
paras petani kopi
disekap kabut

3.
Secangkir cinta
Dalam pekat renjana
memagut Bromo

4.
marilah, Gayo!
setengah hari lagi
dirundung kopi

5.
tamasya mata
sepanjang Madailing
merenggut hasrat

6.
pertanyaanku:
mengapa di Toraja
kureguk candu?

7.
Bali kembali
terendam didih kopi
di Kintamani

8.
"Ambil sabitmu.
Mari ke Sidikalang."
Ziarah wangi

9.
terbang arwahku
robusta-arabika
di pangkal jantung


Jakarta, 2 Januari 2017


4 Kwatrin tentang Kopi

1.
Di anjungan yang tak tenang: horizon bergelombang
Tampak samar hutan tropis Brazilia di bawah kawanan tipis awan
Akan kukenang pertemuan kita seperti menjaling benang
Sebelum kopi dingin, sebelum hilang seluruh angan

2.
Cahaya membuka pagi dan pagi membuka kamarmu
Separuh malam penghabisan: setelanjang inikah hidup kita?
Dari Jambi ke Lampung, dari dahi ke lambung
Aroma kopi membuka rahasia sehelai demi sehelai

3.
Kedai Jasa Ayah tidur lebih larut malam ini
Kutanggap cerita Helena yang ikal mirip rambutnya
Tanpa musik, tanpa gambar, tanpa syahwat sang pemberani
Tokoh kisah menari lincah di selingkar cangkir kopi kita

4.
Kupesan kopi dengan susu dari penjual bersepeda keliling
Ia menawarkan riwayat hidupnya sebagai hadiah
Saat kubayar dengan uang gaji pertama setelah menganggur lama
Ia membekaliku inspirasi: "Bawalah untuk hari tuamu."

Jakarta, 2 Januari 2017


Sepasang Barista

Sepasang barista bercumbu di meja kafe yang
baru saja menutup pintu. Setengah jumlah lampu telah dipadamkan
tak terdengar lagi dengung lembut mesin pendingin udara. Tamu terakhir membawa mobilnya
pergi dengan sisa patah hati yang  masih dirasakan hingga matanya perih. Seekorr cicak melata
kencang di dinding yang tegak, di antara dua poster penyanyi jazaz legendaris,
berebut nasib dengan nyamuk yang mabuk. Aroma kopi arabika melayang perlahan, seperti bibir yang menyusuri ujung dagu, jenjang leher, dan bukit payudara.

Sepasang barista menyelesaikan percintaan dengan letupan di sana-sini. Peluh dari pori-pori
melekat keserat kayu meja menyatu dengan tetes kopi yang
belum dilap satu setengah silam. Jarum waktu bergeser menjauh, melentingkan detik yang
malas. Tiada lagi bunyi kesibukan jalan raya sealin seruan pedagan sate yang kemalaman,
menjajakan sisa daging sambil jalan pulang. Saatnya mengunci lagi, mencabut kabel listrik,
mematikan lampu di pantri, dan mengemasi busana yang berserak di lantai. Kecup perpisahan
di bawah tatapan bulan.


Jakarta, 2 Januari 2017


Lepau Menjelang 9 Pagi

Jarum jam kerja belum memanggilmu, karena gosip di sini lebih penting
Seruap kepul Padang yang terhidang setelah kalimat pertama, mengawali
bualan pagi. Keramahan mengusir dingin, merayu kawan datang bergabung

Mata kembang berbinar sejak rahasia si Fulan tersiar-siar
Politik hari ini hampir terpisah dengan petuah ninik-mamak. Tak mempan
lagi cerita si Malin Kundang untuk menakut-nakuti
Uang lebih bernyawa dari hati yang kini terpedaya

Gempa tahun lalu sudah terlupa. Guncangan kemarin siang tak panjang
dibincang. Namun kini, tak musim lagi pagar dipasang gembok kencang
"Kita susah lari lintang pukang tinggalkan rumah gadang. Tiang-tiang
terban lebih cepat dari pikiran kita."

Seteguk demi seteguk kopi macam ramuan energy untuk separuh hari
Jelang sore nanti ada lepau lain menanti-nanti, mirip godaan serunai
Menggaji perlu iman sembahyang butuh imam, berniaga bersama teman
Sebelum saluang melelehkan rindu rantau, mari simpan masa lampau

Jakarta 3 Januari 2017


Kurnia Effendi dilahirkan di Tegal, Jawa Tengah, 20 Oktober 1960. Menulis puisi dan prosa pertama kali untuk publik pada 1978. Sepanjang karier sebagai penulis, telah menerbitkan 16 buku, 3 di antaranya antologi puisi. Buku terbarunya adalah Senarai Persinggahan (kumpulan puisi, 20116). Buku kumpulan cerpen Anak Arloji (Serambi, 2011) menerima penghargaan sastra dari Badan Bahasa 2013. Sejak Oktober 2015 pensiun dari pekerjaan formal, selanjutnya bergiat di dunia seni dan budaya. Tinggal di Jakarta.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Kurnia Effendi
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" edisi 1-2 April 2017

0 Response to " 9 Haiku tentang Kopi - 4 Kwatrin tentang Kopi - Sepasang Barista - Lepau Menjelang 9 Pagi"