Amplop Kematian | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Amplop Kematian Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 09:30 Rating: 4,5

Amplop Kematian

”DIA sudah tidak mau berdoa dengan Tuhannya, katanya malu, sering maksiat dan banyak dosa yang dia lakukan,” kabar yang sudah tersebar luas di kampung Ciwungu ini, menjadi topik utama para warga terutama ibu-ibu. Akibatnya banyak orang yang mengucilkannya, tak sedikit dari mereka juga mencibir dengan kata-kata yang kurang enak untuk di dengar. 

Semenjak kabar itu tersebar luas, Masjid Al Hadi sekarang jarang dibuka, karena takut dengan lelaki yang sudah berambut perak itu. Pak Lurah pun ikut disibukkan mencari jalan keluar untuk menyelesaikan kabar yang mengganggu warganya ini. 

”Sharman sekarang juga jarang ke masjid,” tutur kang Fikri. 

”Rumahnya saja dekat sama lelaki itu, paling ikut ketularan” jawab Kang Jamal dengan nada agak keras. 


*** 
PAGI ini suasana masih terlihat sepi, hampir semua rumah masih tertutup rapat-rapat, kecuali rumah Pak Rasyid yang sudah terbuka dan terlihat sedang asyik duduk di depan rumah sambil menikmati kopinya. 

Angin pagi yang mendesis sedikit kencang membuat suasana lebih runyam, kabut hitam yang dari tadi menyelimuti putihnya langit pun ikut ambil bagian. Satu persatu pintu-pintu yang dibicarakan tadi terbuka. Dengan menampakkan wajah-wajah yang tak asing lagi, satu persatu penghuni rumah keluar dari balik pintu dengan wajah yang terlihat berkaca-kaca dan mengalungkan sarung selimutnya di leher. 

Seketika suasana yang tadinya terlihat sepi sekarang menjadi ramai. di tambah lagi ibu-ibu yang sedang asyik bergunjing di dekat masjid untuk menunggu tukang sayur lewat. Tak lain halnya yang dibicarakan pastinya lelaki yang katanya yang tak mau berdoa itu. 

”Dengar-dengar Pak Rosyid sudah tidak mau berdoa ya?” tutur Bu Inah mengawali pembicaraan. 

”Iya, kata suamiku juga begitu, lebih parahnya sekarang jarang ke masjid lagi.” Ibu Lisa ikut ambil suara dan membenarkan omongan Bu Inah. 

”Kok bisa seperti itu memangnya kenapa?” tanya salah satu ibu yang belum tau tentang kabar lelaki yang tidak mau berdoa itu. 

”Sayur, sayur, sayur” suara tukang sayur membubarkan perbincangan tentang lelaki yang sudah menduda itu. Salah satu pertanyaan yang tadinya belum terjawab , akhirnya menjadi tanda tanya oleh ibu-ibu yang belum mendengar kabar tentang lelaki itu. 

Ibu-ibu yang tadinya disibukkan dengan memilih-milih sayuran kini sedikit mengerutkan dahi, Laki-laki yang dibicarakan tadi, tak terduga sudah ikut memilih sayuran di sebelahnya. Entah suara apa yang memanggil lelaki itu hingga cepat ia sampai di dekat orang yang membicarakannya. 

”Ini berapa Pak?” tutur Bu Inah pada tukang sayur” 

”Semua Rp 9.000 Bu”, jawab tukang sayur dengan logat penjualnya. 

Satu persatu ibu-ibu meniru apa yang dilakukan Bu Inah , hingga suasana yang tadinya ramai dengan suara dan cetus ibu-ibu, kini sudah terlihat sepi. Tukang sayur mulai heran dengan apa yang dilakukan ibu-ibu tadi, tak seperti biasanya mereka membeli dan memilih secepat itu.” biasanya mereka bergunjing atau asyik mengacak-acak daganganku dulu baru pulang” batinnya. 

Melihat kepergian ibu-ibu tersebut, lelaki itu senyum-senyum sendiri, sampai tukang sayur yang ada di dekatnya ikut nyengir tak atau apa yang dibicarakan, dan lucunya lelaki itu tidak membeli sayur. Bahkan, tidak ada sepatah katapun yang di katakan ketika meninggalkan gerobak dan tukang sayurnya. 


*** 
HARI mulai gelap oleh awan hitam yang dari tadi menyelimuti cerahnya keputihan langit. Sang surya hari ini tidak memperlihatkan wajah cerahnya. Warga yang biasanya di sibukkan dengan profesinya di ladang seakan hari ini menjadi tanggal merah untuk berlibur bersama. 

Seketika mendung yang dari tadi menghukum warga untuk berdiam di rumah, tumpah dengan derasnya. Tarian bintik-bintik air yang terjatuh sedikit terlihat dengan berhembusnya arah angin. Atap-atap rumah sudah terlihat basah dengan derasnya hujan, tidak mau ketinggalan, kilat juga ikut serta untuk meramaikan nya. 

Terlihat dua anak seberang desa sedang bermain dengan mobil-mobilan yang terbuat dari kayu randu dan terkesan tradisional itu mulai meninggalkan pelataran depan rumah Pak Rasyid. Dengan wajah yang getir dan dua mata yang terlihat menuai kesedihan Sharman berlari di bawah payung hitam dan celana yang menjinjing ke atas agar tidak basah dari cipratan air yang sedikit mengenang di setapak jalan yang dilewati nya. 

”Kenapa kamu lari-lari Nak?” tanya Pak Amir dengan agak penasaran 

”Mau ketemu sama Pak Lurah, Pak Rosyid meninggal” 


*** 
SETENGAH jam berlalu, amplop kematian sudah di sebarkan lewat pengeras suara yang ada di masjid, keheningan mulai terasa dengan orang-orang yang baru dibicarakan tadi pagi. 

Satu persatu mereka keluar dari balik pintu dengan memakai baju hitam, baju khas kematiannya dan membawa bekal beras dan kantong kematian. Mereka menuju rumah Sharman yang akan mengurus jenazah lelaki itu. 

Tidak terlihat ada wajah yang menyedihkan ataupun merasa sedih dengan kepergian lelaki yang katanya tak mau berdoa ini. Terlihat wajah mereka dengan santai dan terkesan biasa saja, ibu-ibu yang disibukkan membaca Yaasiin untuk jenazah juga ada yang masih bergunjing dengan kematian yang tak ada sebabnya itu. 

Hingga jenazah sudah siap untuk di bawa ke liang lahat. Entah apa yang membuat heran desa ini, seketika terasa banyak sekali yang mengikuti perjalanan jenazah ke liang lahat, lantunan syair Tuhan juga terasa nyaman dilontarkan dari bibir mereka, bau wangi khas kematian terasa menyengat di balik hidung, tidak ketinggalan juga, payung kematian juga mengiringi langkah mereka yang memikul jenazah. 

Setengah jam sesi pemakaman selesai, warga mulai pulang dengan sendirinya, tanpa meninggalkan suara yang membicarakan tentang orang tidak pernah mau berdoa itu. Lelaki itu memang telah pergi bersama Tuhannya. ❑ - e 

*) Penulis, seniman di Garawiksa Institute Yogyakarta. 


Rujukan:
[1] Disalin dari karya  Suroso
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" Minggu 16 April 2017


0 Response to "Amplop Kematian"