Asmita | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Asmita Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 18:20 Rating: 4,5

Asmita

SUASANA di rumah itu masih sunyi. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari para penghuni. Semua membisu. Sesekali terdengar suara isak tangis nyonya rumah. Dan bayangan ular kobra masih menghinggapi benak Asmita, perempuan yang baru berusia belasan tahun, dengan rambut panjang sebahu. 

Kemarin ia dan Manisha, adik perempuan satu-satunya tengah memasak di dapur. Tidak ada yang tahu bagaimana ular kobra itu bisa masuk ke dalam rumah dan mematuk kaki Manisha hingga merenggut nyawanya. Tetapi bisik-bisik tetangga menyebut Asmita. Semua mata tertuju kepadanya.

"Ia seharusnya tidak di dalam rumah, karena tidak suci. Sekarang keluarganya yang harus menjadi korban karena keberaniannya."

Asmita teringat kejadian lima tahun lalu saat Saraswati, sepupunya menjadi buah bibir orang-orang kampungnya, karena dicap penyebab kematian sang ayah. Beberapa hari sebelumnya, Saraswati tidur di rumah ketika sedang datang bulan.


***
KALA darah kewanitaannya tidak lagi keluar, senyum kembali merekah di bibir Asmita. Dapur tempatnya bekerja sebagai seorang perempuan, sangat dirindukannya. Saat-saat seperti inilah ia merasakan kebahagiaan, bisa bersama-sama dengan ibunya, serta menyentuhnya.

"Bu, tahukah Ibu? Tiga hari yang lalu, para pria mabuk mendatangiku. Pria-pria itu...." Suara Asmita bergetar, namun tidak diteruskan karena dipotong ibunya.

"Jika waktu itu kamu tidak melanggarnya, Manisha pasti masih hidup sampai sekarang," jawab ibu dengan suara sendu.

"Manisha meninggal itu sudah menjadi kehendak Tuhan Bu, jangan hubung-hubungkan denganku."

"Kamulah penyebab Manisha meninggal. Seharusnya kamu tidak di rumah dan menyentuhnya."

"Darah yang keluar setiap bulan ini tidak ada hubungannya dengan petaka, Bu."

"Kamu itu tidak tahu apa-apa, lebih baik diamlah."

Ibu memang tidak pernah meninggalkan kepercayaannya. Ia tidak mau mendapat kesialan akibat perempuan tidak suci berada di dalam rumah. Menurut kepercayaan perempuan yang mengalami datang bulan, akan membawa sial bahkan kematian keluarga, sehingga mereka harus segera diasingkan. Perempuan menjadi tidak berharga, bagaikan sampah yang harus dibuang jauh-jauh, tak terkecuali itu anaknya sendiri. 

Sudah lima tahun hingga sekarang usia Asmita 17 tahun, setiap datang bulan, selama lima hari ia tidur di antara sapi-sapi peliharaan ayahnya. Asmita dilarang masuk ke rumah, memasak, mencuci, dan makan apapun kecuali roti atau nasi yang diasinkan. Menimba air pun dilarang, karena dipercaya akan menyebabkan sumur kering.


***
ASMITA meringis menahan sakit perutnya. Terlihat darah mengalir hingga ke kaki. Di kandang sapi itu, tubuhnya kian melemah. Sudah berkali-kali ia memuntahkan cairaan dari dalam perutnya hingga tubuhnya terkulai lemah. Jantung serta napasnya tak beraturan. Ingin ia berteriak, tetapi lehernya serasa dicekik. Hanya rintik hujan di luar yang ia dengar, dan semakin samar. Kini napasnya kian melambat.

Dengan matanya yang semakin terpejam, ia melihat sosok yang semakin mendekati tubuhnya. Bukan pria-pria mabuk itu lagi, melainkan cahaya putih terang, yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Rasa sakit itu perlahan hilang. Dan seulas senyuman menunggunya di alam lain.



Rizkia Hety Netarahim
Ngentak RT 76/38 Banjararum Kalibawang Kulon Progo DIY


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Rizkia Hety Netarahim
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 23 April 2017

0 Response to "Asmita"