berakhir pada cahaya - akulah kitabmu - frasa orang menangis - satwa rumpang - tidur di tepi sungai - di pulau terpencil - pecahan kapal - pada ayat ke-33 - satwa-satwa lembut | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
berakhir pada cahaya - akulah kitabmu - frasa orang menangis - satwa rumpang - tidur di tepi sungai - di pulau terpencil - pecahan kapal - pada ayat ke-33 - satwa-satwa lembut Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 04:00 Rating: 4,5

berakhir pada cahaya - akulah kitabmu - frasa orang menangis - satwa rumpang - tidur di tepi sungai - di pulau terpencil - pecahan kapal - pada ayat ke-33 - satwa-satwa lembut

berakhir pada cahaya

kita bermula dari tiada, berakhir pada cahaya

akulah kitabmu

"aku perlu kitab," katamu
"akulah kitabmu," katamu

frasa orang menangis

"sesekali aku akan menjelma kesedihan di mata kucing
itu," katamu, "sesekali aku akan bersembunyi di frasa orang-orang
yang menangis. sesekali aku akan menjadi salju beku di keheningan
rambutmu."

satwa rumpang

maka kau pun mengerti aku hanyalah satwa rumpang.
sel-sel di tubuhku tak sempurna. percintaanku denganmu tidak
sepadan. aku sonet kau suwung tak terindera. aku pengemis kau
pemilik senja. aku masa lalu kau surga. aku konon kau berita. aku
jendela kecil kau pintu yang menelan seluruh keindahan dunia.

tidur di tepi sungai

"tidurlah dahulu," katamu, "tidurlah di tepi sungai.
berbaringlah di bawah daun-daun yang gugur. bermimpilah
di dalam lembut nyanyian burung-burung yang terusir dari tanah
terpencil."

"aku ingin terjaga sepanjang waktu," kataku, "aku ingin
mendengarkan sepasang telur menggerutu. aku ingin melihat
sepasang cicak bernyanyi tentang ujung-ujung daun berulat
kuning."

"kalau begitu kau tidak akan pernah mendengarkan
sabdaku di dalam mimpimu. aku tidak ingin bersabda pada saat kau
paham warna hujan. aku tidak ingin menebarkan benih-benihh ayat
merah pada saat kau tahu laut memeluk kapal-kapal yang hendak
berlabuh."

"apakah aku harus selalu patuh padamu?"

di pulau terpencil

aku hanya ingin tinggal di pulau terpencil. pulau tanpa
nabi tanpa wali. pulau tanpa rongsokan kapal. tanpa cerita hantu.
pulau tanpa sekoci berisi tikus-tikus atau kucing-kucing. tanpa
anjing. tanpa ayam hijau.

lalu aku pun tinggal di pulau terpencil. pulau penuh
ganggang merah karang merah kepiting merah dan hujan merah.
pulau penuhh gema tralala aurora biru muda dan capung-capung
kuning tua.

"makanlah aku!" kata ganggang merah, "dan kau akan
segera paham betapa kau adalah tuhan bagi sekalian satwa
dan tumbuhan."

aku pun makan ganggang yang kugulung menjadi
semacam bola-bola kecil. aku pusing. aku mabuk. aku merasa
berada di pohon tertinggi dan bisa memandang segala satwa
dan pohon yang berkerumun mengelilingi danau berair hijau.

"makanlah aku lebih banyak!" kata ganggang merah,
"dan kau akan segera paham betapa tuan di seluruh alam yang tak
kaulihat maupun kaulihat akan bersujud kepadamu."

aku pun makan ganggang lebih banyak. aku kian
mabuk. aku kian pusing

"namaku agama," kata ganggang merah, "kian kau
mengenalku kau akan tahu siapa tuhanmu siapa iblis molekmu
siapa makhluk-makhluk yang berlomba-lomba mengkhianatimu."

aku pun melahap seluruh ganggang yang tersisa. aku
tak tahu apakah aku kian mabuk, terbaang ke langit sebelas malaikat.
atau menyelam ke laut tiga belas hiu.

aku pun berteriak, "aku bukan tuhan purbamu. aku
hanya ingin tinggal di pulau terpencil. aku tak butuh agama. aku tak
butuh nabi. aku tak butuh wali."

"kau telah jadi tuhan. jangan bermimpi jadi laba-laba
atau tungau. jangan pula ingin jadi sungai atau gunung atau sekadar
danau."

"aku tak ingin jadi tuhanmu. jangan kauciptakan agama
hanya karena kau ingin memujaku!"

pecahan kapal

dulu aku selalu menganggap pulau terpencil sebagai
salah satu pecahan kapal yang meledak. kapal yang hanya dihuni
seorang penyair yang tersesat, benih pohon kopi yang akan ditanam
di tanah perjanjian, tiga orang utan, tiga singa, tiga bangau, tiga
tapir, tiga tupai, tiga burung merak, tiga kelelawar, dan tiga kodok.
semua berwarna hijau

aku juga pernah menganggap pulau terpencil adalah
pecahan taman firdaus. taman tempat seorang pembunuh
bersembunyi di semak-semak bersama tiga semut, tiga lintah, tiga
kupu-kupu, tiga ulat, tiga lalat, dan tiga kadal. semua berwarna biru

sesekali aku menganggap pulau terpencil hanyalah
pecahan mars. mars yang dihuni oleh seorang pemurung, tiga batu
purba, tiga bukit hijau, tiga butir pasir, tiga jejak sepatu, tiga
bintang, dan tiga kaktus tanpa duri. semua berwarna hitam

ternyata aku keliru. pulau terpencil hanyalah hutan
sunyi tanpa badai daun tanpa badai bunga. tentu ada pembaca rasi
bintang yang selalu tampak tolol, tiga pohon pisang, tiga danau,
tiga zebra, tiga gorila, tiga buah jeruk yang terus menggelinding ke
sana ke mari, tiga matahari, tiga ikan nila, dan tiga kambing. semua
berwarna kuning.

"kau boleh memerintah semua makhluk," bisik suara
dari langit, "kau boleh meminta mereka berkembang biak. kau
boleh menulis ayat-ayat indah untuk mereka. kau boleh..."

"boleh membunuh apa pun dan siapa pun?"

tak ada jawaban

"boleh berkhianat pada apa pun dan siapa pun?"

tak ada jawaban

"boleh menista apa pun dan siapa pun?"

tak ada jawaban

"baiklah kuubah pertanyaanku: boleh mengasihi apa
pun dan siapa pun?"

masih tak ada jawaban


pada ayat ke-33

pada ayat ke-33 hujan hijau mengucur dari langit yang
juga hijau. kau meninggalkan aku di hutan penuh kera, babi, dan
ular kobra

kau menghilang dari bukti dari penginapan turis-turis
bodoh dari pohon-pohon yang tidak pernah diberi nama

'"jadikan aku babi!" aku berdoa, "beri aku agama tanpa
nabi. jadikan aku satwa manis tak mahir berkelahi tak mahir
membunuh lintah atau makhluk daif."

tetapi kau selalu tak mau mendengar doa jahat doa para
pengancam. kau justru memberiku kebun binatang tanpa pawang

maka muncullah babi merah, dua ekor anjing jingga,
ayam-ayam betina cokelat tua, burung-burung merpati kuning, biri-
biri biru, dan sapi merah

muncullah kuda-kuda bersayap, lalat bermoncong
kupu-kupu, kambing-kambing bertanduk oranye, itik-itik bercula,
dan kucing-kucing tanpa mata

"jangan jadikan aku adam," aku berseru, "aku tak bisa
memberi nama satwa-satwa liar. aku tak mampu mengubah seluruh
makhluk hutan menjadi pemujamu!"

kau tidak menjawab pertanyaanku. kau hanya
meninggalkan wangi lumpur. kau hanya meninggalkan wangi
bulan. kau hanya meninggalkan wangi laut

"aku juga tak ingin jadi nuh," aku kian panik," aku tak
bisa menghanyutkan kapalku setelah banjir besar itu
meluluhlantakkan rumah-rumah dan klinik para tabib."

tetap tak kaujawab pertanyaanku. kau meninggalkan
suara burung unta. kau meninggalkan aum sepasang harimau. kau
meninggalkan berisik rusa-rusa

"sungguh, aku juga tidak mau jadi rusa," aku meratap,
"aku tak sanggup mengalahkan raja-rajah brengsek. aku tak bisa
membelamu dari pengkhianatan iblis molek."


satwa-satwa lembut

"ketakutan adalah satwa-satwa yang selalu
berkerumun di danau mati saat aku tafakur bersama nekton-nekton
berotot kuat dan ganggang-ganggang yang menolak menghuni
neraka," kataku.

"tetapi kau tidak perlu bergidik pada makhluk-makhluk
bersel satu yang memujamu bagai menyembah naga bersisik
bunga-bunga besi," kata cacing, "kau tidak perlu gentar pada
medusa-medusa merah yang selalu memandangmu sebagai kekasih
tak setia. pandang dengan mata nanar. jelmakan mereka
jadi batu-batu purba yang tak teraba oleh petapa suci."

aku tetap saja gemetar memandang paku-paku gerimis
yang menusuk mata, aku cemas ketika dari balik pohon hitam
menggelegar suara, "apakah kau nger merasuk ke dalam meditasi
babi atau gelak tawa nabi? apakah kau ngeri mengalun di lagu
demit putih atau racau malaikat hijau?"

aku tak berani menjawab pertanyaan itu. aku bergidik
ketika paham aku hanya kera yang ke mana-mana mendekap mayat
kekasih tanpa rupa

aku waswas ketika tahu aku hanya burak yang lupa
bertanya kepada nabi arah surga sembilan puluh sembilan ayat

maka aku pun merinding saat dari balik danau muncul
semacam ikan berkepala kerbau mendengus-dengus
dan menghardikku, "jangan pernah menyembah ketakutan
sebagaimana kau memuja gunung-gunung berlumut. beranilah
meniru guru tak berpayung, penyanyi tak berharpa, atau daun pahit
tak berjamur."

tentu saja aku bimbang memilih sungai atau bukit
hanya agar aku tetap jadi batu. aku segan mengembara ke kota-kota
yang kelak dibakar dan digucang gema dan gempa hanya agar aku
tetap menjadi pohon majal. pohon yang membunuh nabi adam.
pohon yang membunuh nabi nuh dan nabi sulaiman

karena itu mengertilah, wahai cacing segala cacing,
hanya ketakutanku kepada yang selalu memilih sirnalah yang
menyelamatkanku dari amuk kabut

mungkin amukmu. mungkin

amuk halimun. mungkin

amuk kelam, kelammu

kelam silam. kelam

yang tak teraba

oleh mata. tak teraba

oleh doa



Triyanto Triwikromo menulis kumpulan puisi "Kematian Kecil Kartosoewirjo" (2015) dan "Pertempuran Rahasia" (2010)


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Triyanto Triwikromo
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" edisi Sabtu, 22April 2017

0 Response to "berakhir pada cahaya - akulah kitabmu - frasa orang menangis - satwa rumpang - tidur di tepi sungai - di pulau terpencil - pecahan kapal - pada ayat ke-33 - satwa-satwa lembut"