Bulu Perkutut Majapahit | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Bulu Perkutut Majapahit Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:00 Rating: 4,5

Bulu Perkutut Majapahit

JOKO bercerita setengah berkelakar, bisa hidup sukses karena menyimpan bulu perkutut majapahit. Bulu perkutut itu pemberian dari Pak Tua, yang berdagang buku bekas keliling di kampus. 

Kini, Joko kini memang telah jadi tokoh publik sejak novel trilogi karyanya menjadi best seller. Joko, dengan nama pena Andrea ElShirazy, tak hanya populer. Dia termasuk salah seorang dari 1.000 miliarder di negeri ini. 

Aku tak mengagumi kesuksesan dia. Aku paham dan tahu benar secara detail jejak langkahnya. Penampilan Joko sangat tak meyakinkan bagi siapa pun. Sosok Joko sebagai guru dapat dikatakan memprihatinkan. Tubuh kurus kering, rambut keriting, tatapan mata layu. Saat dia berpakaian seragam kusam, orang menduga paling mentok dia tukang kebun di sekolah. 

Aku tak bermaksud merendahkan. Namun begitulah kesan pertama saat guru cum penulis itu bertamu ke kantor penerbitan yang kupimpin. 

Kini, penampilan Joko tak berubah. Namun tak seorang pun berprasangka dia tukang kebun di sekolah. Tak ada lagi, terutama aku, yang berani menyatakan dia sungguh memprihatinkan. Semua orang tahu, dialah Andrea El-Shirazy. 

Meskipun bukan penggemar fanatik yang membaca karyanya dan hafal di luar kepala tokoh-tokoh novelnya, aku bisa menceritakan ulang dengan sangat baik novel Perkutut karya Andrea El-Shirazy. Dalam novel itulah dia menceritakan tentang bulu perkutut majapahit. Akulah orang pertama yang membaca novel itu dan langsung memutuskan untuk menerbitkan, meski tim redaksi tak merekomendasikan. 

Begini awal cerita dalam novel itu. 

“Mas, maukah kau menyimpan bulu ini di sela-sela bukumu?” tanya Pak Tua, si penjual buku. 

“Untuk apa, Pak?” tanya Joko agak heran. 

Pak Tua menoleh ke kanan dan ke kiri. Lalu mengambil napas panjang. Raut wajah Pak Tua serius, agak gusar. 

Saat itu memang cuma Joko yang memilih-milih buku Pak Tua yang tergelar di bawah pohon mangga dekat gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa. padahal, tak biasanya Joko sendirian membaca-baca buku bekas dagangan Pak Tua. Melihat gerak-gerik Pak Tua yang mencurigakan, Joko gelisah. Hatinya dag-digdug. Dia ingin segera beranjak, meninggalkan Pak Tua. Namun kakinya seolah tertanam di tanah. Dia tak berdaya untuk bangkit dari posisi jongkok. 

“Mas, ini bukan bulu biasa. Ini bulu burung perkutut majapahit. Bulu ini sudah saya simpan secara turun-temurun. Menurun dari kakek saya ke bapak saya, dan tersimpan sejak zaman Majapahit. Bahkan dulu disimpan oleh Mahapatih Gadjah Mada. Gadjah Mada sukses mewujudkan Sumpah Palapa menyatukan Nusantara karena menyimpan bulu ini.” 

“Bagaimana bisa dia yang menyimpan?” batin Joko heran. 

Muncul praduga dalam pikiran Joko, Pak Tua adalah trah Gadjah Mada. Namun dia menyangkal dugaan itu. Masa trah Gadjah Mada hanya jadi penjual buku bekas keliling? Betapa mungkin keturunan Mahapatih Gadjah Mada yang tersohor hanya jadi orang pinggiran? Tak masuk akal! 

Dalam benak Joko berkecamuk bermacam perkara soal klenik, rasionalitas, sejarah Kerajaan Majapahit, kesuksesan, dan kemusyrikan. Joko tertegun. Dia tersentak sadar saat mendengar, “Nanti saya ceritai. Simpan dulu bulu ini di selasela bukumu, sebelum ada orang melihat,” kata Pak Tua sambil menyerahkan bulu itu kepada Joko, setelah mengambil buku yang terbungkus kain putih dan memasukkan ke kantong plastik. 

Seolah tersihir, Joko segera menyimpan bulu itu. Lalu dia berdiri dan mundur selangkah. Joko berbalik dan melangkah pergi. Seolah ada hawa sihir menyelimuti tubuhnya, dia tak mengucapkan terima kasih. Padahal, Pak Tua belum sempat bercerita. 

Belum genap sepuluh langkah, Joko menoleh. Dia melihat ada mahasiswa lain datang ke lapak Pak Tua. Degup jantung Joko mengeras dan mengencang. Dia mempercepat langkah. Dia khawatir mahasiswa itu memanggil dia, hendak mengetahui bulu perkutut pemberian Pak Tua. 

Bukan perkara rahasia atau tak. Namun Joko yakin bulu perkutut itu berbau klenik. Menerima pemberian bulu perkutut memang sederhana, tak bisa disebut gratifikasi. Wong dia bukan pejabat. Namun bila mengandung maksud agar bisa hidup sukses, itu berbahaya. Joko yakin cuma kecerdasan, kerja keras, dan ketakwaanlah yang membuat seseorang sukses. 

Joko dan aku sudah sering bersama menghadiri bedah buku atau jumpa penggemar. Terutama, sejak novel pertama karyanya kuterbitkan. Awalnya sih dia kuminta ikut mempromosikan novel Perkutut melalui road sow dari kampus ke kampus. Setahun berlalu mulai ada undangan atau permintaan dari komunitas pencinta sastra agar penulis novel Perkutut menghadiri diskusi dan bedah buku yang mereka selenggarakan. Sebagai penerbit, aku mendukung aktivitas Joko itu. Pada tahun kedua, Joko berhasil menyelesaikan novel kedua, Zaman Majapahit, dan tahun berikutnya novel ketiga, Burung. Singkat cerita, setelah empat tahun kami bersama-sama, kini kami jadi sahabat yang sama-sama menikmati kesuksesan. Saya tak lagi memanggil dia Pak Joko, dia pun tak lagi menyapaku Pak Jono. Entah sejak kapan, kami tak menyadari hal itu. 

Suatu malam, pada peresmian sanggar penulisan fiksi milik Joko, tiba-tiba aku ingin melihat bulu perkutut majapahit itu. “Apakah bulu perkutut itu masih ada, Jok?” tanyaku. 

“Mungkin,” jawab Joko ringan. 

“Lo?” 

“Sejak jadi sarjana sampai punya rumah, telah puluhan kali aku pindah tempat tinggal. Bahkah sampai menikah dan anak keduaku lahir, kami masih tinggal di rumah kontrakan.” 

“Aku cuma ingin melihat. Sama atau tidak dengan bulu ayam warisan ibuku yang kusimpan di sela-sela buku harian.” 

“Apa wasiat ibumu saat kau menerima bulu ayam itu?” tanya Joko. 

“Ibu meninggal setelah melahirkan aku. Bulu ayam itu kuterima dari kakak sepupuku ketika aku berumur 11 tahun. Dari Kak Puspa, yang pernah berkenalan denganmu.” 

“Oh ya, aku ingat,” sahut Joko. “Kata kakakku, ‘Ini warisan dari ibumu yang dititipkan pada ayahmu. Sebelum wafat, ayahmu menitipkan padaku.’ Begitu.” 

“Apa bulu itu bisa membuatmu sukses? Atau agar kamu selamat? Atau agar dicintai dan dikasihi banyak orang?” tanya Joko penasaran. 

“Ah, jangan melantur. Mana bulu perkutut majapahit itu? Cepat ambil, aku mau lihat.” 

“Mana kutahu!” 

“Ah, yang benar saja!” 

“Setelah menerima bulu perkutut itu, aku tak jadi kuliah hari itu. Perasaan dan pikiranku campur aduk. Aku bahkan menggigil di kamar kos.” 

“Apa itu pengaruh magis bulu perkutut itu?” 

“Tak tahulah. Aku khawatir bila mengikuti kuliah kemungkinan besar akan membuka buku itu. Bayanganku, semua teman akan menertawakan atau jijik melihat bulu di bukuku. Aku khawatir mereka bertanya-tanya bulu apa yang aku bawa dan untuk apa. Mengapa aku menyimpan bulu? Bagaimana bila bulu itu mengandung virus flu burung?” 

“Itu kan cuma perasaanmu.” 

“Entahlah. Aku juga khawatir bila bertemu Mirza, bunga kampusku.” 

“Lo? Kau punya utang pada dia dan belum bayar?” 

Ngaco! Semiskin-miskin aku, mana mungkin utang pada dia? Itu akan menjatuhkan citraku ke titik nadir. Aku laki-laki normal, wajar jika naksir gadis secantik Mirza.î 

“Kamu nembak dia?” 

“Ya, iyalah... Tapi tak secara langsung.” 

“Bagaimana kau mengungkapkan cinta?” 

“Kutulis puisi tentang dia, tentang kecantikannya yang tiada dua di dunia, tentang cintaku dan mimpiku pada dia.” 

“Sudah kauberikan puisi itu pada Mirza?” 

“Seharusnya kuberikan hari itu. Namun ternyata bulu perkutut majapahit terselip dalam buku kumpulan puisi itu.” 

“Yah..., mana Mirza tahu kau mencintai dia!” 

“Pupuslah harapan hidupku, semangatku, cintaku. Tiba di kos, kusimpan buku itu dalam kardus bersama buku-buku bekas lain.” 

“Lalu?” 

“Sejak saat itu aku tak pernah melihat lagi bulu perkutut itu. Oh ya, mana bulu ayam itu? Aku mau lihat.” 

“Mana kutahu!” 

“Yang benar saja?” 

“Benar. Jujur, aku belum pernah lihat lagi sejak menerima bulu itu dari Kak Puspa. Saat itu langsung kuselipkan dalam buku harian.” 

“Apa pesan Kak Puspa?” 

“Katanya, bulu ayam itu warisan dari kakek moyangku sejak zaman Majapahit.” 

“Apa buku harian itu bernasib sama dengan bukuku?” 

“Ah, kau sudah tahu jawabnya bukan?” (44) 



Mujiana A Kadir, menulis cerpen dan novel. Novelnya yang telah terbit Dua Perempuan (penerbit Tinta Institute Yogyakarta).




Rujukan:
[1] Disalin dari karya Mujiana A Kadir
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" Minggu 23 April 2017


0 Response to "Bulu Perkutut Majapahit"