Burung-Burung Membangun Masjid | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Burung-Burung Membangun Masjid Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 20:00 Rating: 4,5

Burung-Burung Membangun Masjid

GADUH penolakan meledak seperti bom di tengah ruangan rapat itu. Malam itu Kampung Karangnongko mengadakan musyawarah pembangunan masjid. Sudah lama memang Kampung Karangnongko memimpikan tempat ibadah yang lebih luas dan layak, bangunan indah tempat berdoa secara khusyuk dan berharap bertemu segala kebaikan. Kini cita-cita itu akan lekas terwujudkan, mengingat tempat ibadah yang acap mereka gunakan sebelumnya hanyalah mushala kecil. Itu pun milik tetangga kampung. Dan mereka harus menyeberangi sungai terjal serta licin terlebih dahulu. Belum lagi apabila air sedang naik, mereka harus berpikir dua kali untuk mengunjunginya.

Setelah mimpi indah untuk membangun masjid sudah di depan mata, mereka malah mendebatkan sesuatu yang tidak penting. Di ruang rapat itu mereka saling tikam kata, menghujat kalimat pedas. Hal-hal yang tidak pantas seharusnya dikatakan dalam musyawarah pembangunan masjid, menggelontor seperti deras air dari jamban pembuangan. Pekik orang-orang tersulut emosi terus terdengar. Wajah-wajah merah dan pias melekat di genangan air muka mereka. Perdebatan bahkan bertahan sampai satu jam lebih. Hingga musyawarah tidak menghasilkan apa-apa.

"Saya tidak setuju kalau masjid kita dibangun di RT 07," kata salah seorang warga. "Pokoknya harus dibangun di RT 08. Karena tempatnya yang lebih luas dan strategis."

Sanggahan juga dilayangkan oleh salah seorang warga RT 07. "Tidak bisa seperti itu! Kau tak paham apa? Tanah RT 08 tidak cocok untuk pembangunan. Mau masjid kita tiba-tiba roboh karena kesalahan teknis? Tidak! Masjid itu harus dibangun di RT 07!"

Rapat malam itu secara garis besar memang terbagi menjadi dua: antara RT 07 dan 08. Kampung K secara geografis cukup luas. Kampung K memiliki dua wilayah otonom yang melingkupi dua daerah. Karena hal inilah mungkin rapat pembangunan harus diadakan.

Semua warga dikumpulkan di balai desa mencari pemecah masalah dari pembangunan masjid tersebut. Namun, bukan solusi masalah yang mereka dapatkan. Mereka malah menambah runyam keadaan dengan perdebatan. Dua belah pihak masing-masing kukuh menginginkan masjid tersebut dibangun di daerah mereka.

Perdebatan terus terjadi. Sepanjang sore hingga larut malam, warga kampung masih mendebatkan hal yang sama. Sampai kemudian seorang kepala desa,yang memang sengaja didatangkan untuk menengahi silang pendapat, mengambil solusi. Kepala desa menyuruh warganya mengambil suara terbanyak. Semacam pemilihan kecil di mana nanti masjid tersebut akan dibangun. Begitulah. Seperti solusi yang diusulkan oleh kepala desa, satu per satu warga mengambil suara. Tentu setiap warga akan lebih mengutamakan daerahnya masing-masing. Namun, tidak menutup kemungkinan ada satu dua orang warga yang menghendaki masjid itu untuk dibangun di tempat lain.

Setelah beberapa saat berlalu, hasil pemilihan suara dapat dikumpulkan. Kepala desalah yang menghitung hasil pemilihan. Dengan wajah pucat kepala desa menatap ke setiap warganya yang cemas. Hasilnya memang di luar perkiraan. Hasil dari pemilihan seimbang. Kepala desa kembali menyarankan untuk mengambil suara. Dan sekali lagi hasilnya sama. Sampai empat kali pengambilan suara, hasilnya tidak berubah. Kepala desa yang menangani masalah ini lantas geleng kepala.

"Sepertinya Tuhan menyuruh kita untuk memecahkan masalah ini dengan kepala dingin. Musyawarah ini harus menemukan hasil yang adil. Tapi selalu saja ada hal aneh terjadi. Suara yang saya hitung selalu jumlahnya sama," kata kepala desa.

Kejadian ini tidak masuk akal. Secara kebetulan hasil suara selalu sama; seolah jumlah warga di kampung ini memiliki jumlah yang genap. Namun, masalah mengenai 'Di mana masjid ini akan dingun?' harus lekas dipecahkan. Kepala desa menarik napas. Udara yang menggumpal di dadanya diembuskan berat. Ia tatap larik demi larik wajah warganya. Dengan sikap, yang mungkin, putus asa, ia melempar kalimat ke tengah warganya yang masih menunggu solusi.

"Adakah di antara kalian yang ingin mengalah dan membiarkan masjid itu dibangun pada salah satu kampung. Karena nanti pada akhirnya, masjid ini kalianlah yang menggunakan," ujar kepala desa lagi.

Perdebatan malah kembali terjadi. Bahkan, adu pukul hampir tumpah di balai desa tersebut. Masing-masing warga Kampung Karangnongko kukuh dengan pendiriannya, kalau masjid itu harus dibangun di tanah RT mereka. Sampai kemudian karena sudah kehabisan ide, kepala desa menyarankan untuk membagi saja material dan uang yang telah dikumpulkan. Hal ini disetujui. Dua RT itu lantas membagi dengan berusaha seadil mungkin material barang dan uang yang telah terkumpul. Mereka memutuskan membangun masjid sendiri di daerah masing-masing.


***
KARENA tidak ada pilihan lain akhirnya pembangunan itu dilakukan. Kini masing-masing warga Karangnongko mulai sibuk menata masjid yang telah diimpikan. Mereka dengan giat dan gotong royong membangun masjid tersebut. Mereka merancang dengan teliti, sembari menyesuaikan dengan modal, pembangunan masjid tersebut. Pembangunan pun mulai berjalan di kedua belah pihak. Namun di sela-sela pembangunan, masih saja muncul gunjingan mengenai masjid yang sedang mereka bangun.

Seorang warga RT 07 menggunjing masjid yang akan dibangun RT 08. "Masjid tetangga kita sepertinya akan lebih mewah dan besar dari milik kita. Kita harus membuat masjid yang tak kalah besar, luas, dan indaah dari mereka."

Arkian warga RT 07 berusaha membangun masjid yang lebih besar dari tetangga mereka. Warga pun berusaha membangun dengan mengumpulkan uang lebih banyak lagi dari warganya. Gotong royong setiap sore dan akhir pekan semakin giat dilakukan. Karena melihat semangat warga RT 07, masyarakat RT 08, tidak terima dengan pembangunan masjid RT 07 yang pesat. Bahkan, saat melihat kerangka bangunan yang lebih besar, warga RT 08 seolah terbakar kecemburuan.

"Kita tidak boleh kalah oleh warga kampung RT 07. Mereka tidak boleh memiliki masjid yang lebih baik dari kita."

Persaingan terus terjadi. Bahkan, kini di benak warga berlangsung perang dingin. Mereka tidak saling menyapa satu dengan lain. Anak-anak mereka pun tidak boleh bermain dengan warga yang menjadi saingan. Pembangunan masjid itu berjalan semakin parah ketika modal salah satu RT habis. Mereka dengan curang mencuri material bangunan dari RT pesaing masing-masing. Pertengkaran bertambah memanas dan acap kali menimbulkan konflik pertengkaran yang tidak terhindarkan.


***
SENGIT perasaan warga memang telah menimbulkan perpecahan. Hubungan yang sebelumnya baik menjadi runyam. Bahkan ada seorang warga, RT 08, yang akan menikahkan anaknya ke RT 07, batal karena persaingan pembangunan masjid. Dan mungkin dari semua warga yang sedang berkepala batu itu, hanya Karta seorang yang dapat berpikkir jernih. Karta merupakan salah seorang warga RT 07. Setiap sore, ketika membangun masjid di daerahnya, Karta berusaha menjembatani hubungan dua RT agar kembali akur. Namun, selalu saja penolakan yang didapatkan Karta.

Begitu juga, yang dilakukan Karta ketika berkunjung dan berusaha menyambung silaturahim dengan tetangga satu kampungnya. Bukan tanggapan baik yang Karta dapat. Ia malah dianggap sebagai mata-mata RT 07. Bahkan, Karta nyaris dihajar ramai-ramai karena kedatangannya ke RT 08. Karta tidak lelah mencoba menghubungkan kembali tali persaudaraan yang sempat putus itu. Pun dirinya yang mulai dikucilkan oleh warga sekitar rumahnya karena dianggap berkhianat, tidak ambil pusing. Karta, di tengah segala keterbatasan, akhirnya membuat rencana, yaitu mempertemukan ketua RT masing-masing. Dan seperti yang telah direncanakan, dua RT tersebut datang.

"Apa maksudmu menyuruhku datang ke sini! Lebih-lebih aku harus bertemu orang yang tak mau mengalah seperti ketua RT 07!" kata ketua RT 088.

"Ehh, lihat! Siapa yang tak mau mengalah!" Balas ketua RT 07. "Karta, apa maksud semua ini!"

Karta yang merasa muak dengan persaingan dua RT satu kapung ini menjelaskan maksudnya. Karta mengundang mereka dengan maksud jalur damai. Namun, bukan tanggapan baik yang Karta dapat. Karta malah seperti menuangkan minyak di celah tungku api. Kemarahan dan kebencian dua belah pihak semakin membara. Karta kebingungan dengan hal itu. Sampai kemudian, ketika Karta menengadah kepala, melihat puluhan burung bangau terbang melintassi kepala mereka. Karta menyuruh kedua RT tersebut menengadah.

Ujar Karta, "Kalian tidak malu dengan burung-burung itu. Mereka terlihat kompak dalam segala hal. Apa hati kalian tidak terketuk? Kita manusia diciptakan dengan akal daan pikiran lebih dari mereka."

Penjelasan Karta seperti angin lalu yang tidak mengubah apa pun.


***
USAHA yang dilakukan Karta tidak menghasilkan apa-apa. Persaingan yang mendekam di hati masing-masing warga semakin hitam menggumpal. Seperti mendung malam itu. Setelah mempertemukan dua pihak, Kampung Karangnongko diterjang hujan deras sempanjang malam. Petir tidak luput hadir. Bahkan, banjir menggelogok deras menenggelamkan kampung. Sampai pagi menyingkap tirai malam, masing-masing RT menyadari kalau masjid yang mereka bangun roboh, rata dengan tanah.


***
SORE harinya, di tengah segala kedukaan atas robohnya dua masjid yang dibangun, hal aneh terjadi. Sekelompok burung bangau datang dalam jumlah ribuan. Burung-burung bangau itu membuat bayangan gelap di atas kampung. Sampai salah satu warga menyadari kalau burung-burung bangau itu memunguti material bangunan dua masjid sebelumnya yang roboh. 

"Burung-burung bangau itu membangun masjid! Lihat burung-burung itu!"

Semua warga berkumpul menyaksikan keajaiban itu, ketika satu per satu batu disusun kembali dengan ajaib oleh burung-burung bangau. Pun sembari memandang burung-burung bangau yang terlihat kompak itu, di benak masing-masing warga terbetik rasa malu dan menyesal dengan apa yang mereka lakukan. 


Risda Nur Widia pernah juara dua sayembara menulis sastra mahasiswa se-Indonesia UGM (2013), Nominator Sastra Profetik Kuntowijoyo UHAMKA (2013). Penerima Anugerah Taruna Sastra dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa; Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia (2015). Nominator tiga besar buku sastra terbaik Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Yogyakarta 2016. Buku Kumpulan cerpen tunggalnya: Bunga-Bunga Kesunyian (2015) dan Tokoh Anda Yang Ingin Mati Bahagia Seperti Mersault/ (2016). Cerpennya telah tersiar di berbagai media. 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Risda Nur Widia
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Republika" edisi Minggu 23 April 2017

0 Response to "Burung-Burung Membangun Masjid"