Cecep dan Kusmana | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Cecep dan Kusmana Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 21:31 Rating: 4,5

Cecep dan Kusmana

SIMAKLAH baik-baik hikayat ini kawan, hikayat tentang pengorbanan dan keikhlasan antara dua sahabat yang harus terpisah selama-lamanya. Tentang kesetiaan dan kepercayaan antara dua makhluk Tuhan yang terlahir dengan takdir berbeda. Hikayat yang sering kali Sang Angin riwayatkan pada daun, semak, dan pohon. Dan ketika Sang Angin mengakhiri embusan ceritanya, mereka menggeleng tak percaya.

SANG Angin menjadi saksi yang merekam bagaimana persahabatan yang telah terjalin lebih dari delapan tahun itu harus kandas penuh darah. Menurut embusan cerita Sang Angin, hikayat persahabatan Kusmana dan Cecep itu bermula manis dan penuh kebahagiaan. Keduanya saling melengkapi sejak pertama kali bertemu, Cecep yang berperawakan kecil kering (bagai bambu mau patah itu) tetapi memiliki otak yang encer, berpadu padan dengan Kusmana yang berperawakan sangat bongsor, kuat bertenaga, berkaki tangan bulat, tetapi berotak lamban (bahkan lebih lamban dari siput) hingga tak mampu masuk sekolah bahkan mendekatinya pun sangat mustahil. Sekalinya masuk ke halaman sekolah, itu pun diajak oleh Cecep. Kusmana langsung diganjar hardikan dan usiran penjaga sekolah. Itulah sebabnya Kusmana hanya disuruh bekerja di sawah saja karena hanya itu yang ia pahami.

Sang Angin selalu ingat ketika embun pagi membiaskan goresan Sang Mentari yang baru saja bangkit dari peraduannya. Cecep dan Kusmana telah lebih dulu terjaga dan dengan cekatannya mereka mandi di sungai, tentunya Kusmana dimandikan oleh Cecep karena Ia tak tahu bagaimana cara mandi yang benar. Selepas mandi di penghujung dini hari, keduanya pergi ke sawah, mencari sumber penghidupan.

Cecep selalu menuntun Kusuma, karena bila lepas dari tuntutan Cecep, seringkali Kusmana salah jalan hingga tersesat walaupun jalan itu setiap hari mereka lalui. Akhirnya Cecep mengikat Kusmana dengan tali yang juga terikat dengan dirinya agar tidak terlepas. Di sepanjang perjalanan, Kusmana menjadi pendengar abadi Cecep yang senang bercerita, jika Cecep menceritakan hal yang lucu, Cecep akan tertawa terbahak-bahak dan Kusmana hanya melihat burung terbang. Jika Cecep menceritakan kesedihannya, Cecep akan menangis dan Kusmana berkata "Ooo." Jika Cecep mengutarakan kebahagiaannya, Cecep akan kegirangan dan Kusmana hanya diam dengan ekspresi wajah yang datar. Entah Kusmana mengerti apa yang diceritakan oleh Cecep atau tidak, Cecep tetap menyayanginya dan merawatnya penuh kasih, karena hanya Kusmana, sebuah gubuk kecil dan beberapa pakaianlah yang kini menemani hari-hari Cecep. Tak ada yang tersisa setelah ayah dan ibu Cecep meninggal akibat terserang malaria dan mereka tak mampu berobat karena kehabisan uang (beberapa minggu setelah Cecep berkenalan dengan Kusmana). Bagi Cecep, Kusmana adalah wujud pengganti ayah dan ibunya. Dia hadir di tengah kegetiran hidup Cecep yang menjadi yatim-piatu ketika berusia 10 tahun.

Di sawah milik orang lain itu, keduanya bekerja sama dalam paduan yang harmonis. Kusmana menuruti komando Cecep, dengan tenaga kuatnya menggemburkan tanah. Sedangkan Cecep dengan sigap menanam padi dan menyiangi semak liar yang nakal mengganggu Sang Dewi Sri. Pekerjaan yang upahnya tak seberapa itu, bagi Cecep dan Kusmana sudah cukup untuk memperpanjang napas keduanya.

Jika Sang Mentari mulai mengeja sepenggalan langit, dalam hitungan menit Cecep berganti pakaian menjadi seragam putih menguning dengan celana merahnya yang pudar. Cecep bersemangat menjejakkan kaki ke sekolah dengan terlebih dahulu mengikatkan Kusmana pada rimbunnya pohon kersen agar Kusmana tak jalan sendiri dan tersesat entah ke mana.

Sepulang sekolah, Cecep langsung menuju Perindangan Kusmana. Cecep mulai menghela lembar demi lembar buku kuning usangnya ditemani Kusmana yang khusuk melahap santapan siang. Dan ketika Sang Mentari menuju peraduannya serta serabut awan jingga mulai menggantung di angkasa, keduanya pulang ke gubuk kecil di dekat hutan. Tentunya dengan Kusmana terikat pada Cecep.

Sang Angin mengembuskan ceritanya melintang waktu. Mengisahkan Cecep dalam balutan seragam putih abu. Ketika Cecep yang hidup dalam keterbatasan itu, melalui ketekunan dan kesabarannya menjadi juara kompetisi di bidang Ilmu Pasti. Tak tanggung-tanggung, anak tak beribu-bapak ini menjadi juara satu di tingkat nasional. Dia menjadi bintang dan namanya termasyur seantero negeri. Roda nasib pun berputar dan takdir pun berubah, seragam putih menguning Cecep kini berubah menjadi seragam yang putih bersih seputih susu. Buku usangnya berganti dengan buku-buku yang baru, dan gubuk kecilnya yang reyot diperbaiki menjadi lebih layak huni.

Di tengah perubahan roda nasib yang terus berlanjut, Cecep tetap tak melupakan sahabat setianya, Kusmana. Namun Sang Waktu yang telah bersekongkol dengan Sang Takdir memisahkan ekduanya dengan paksa. Cecep mendapat beasiswa dan melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi di sbeuah Institut Teknologi di Kota Kembang. Dan dengan sangat terpaksa, Cecep harus meninggalkan Kusmana sendirian di desanya.

Kusmana tak paham dengan apa yang dilakukan Cecep yang kini sudah menjadi pemuda berbadan tinggi berisi dan membawa peti beroda di tangannya. Kusmana semakin tak keruan saat Cecep memeluknya lebih erat dari yang biasanya, seolah pelukan yang mengisyaratkan sebuah perpisahan. Kusmana tetap diam dan mungkin hanya diam yang mampu dilakukannya. Kusmana tak mengerti saat Cecep berbincang pada tetangganya dan menyelipkan ampop tebal serta menunjuk pada Kusmana. Kusmana pun tak pernah bertemu lagi dengan Cecep sejak hari itu, saat langit disesaki gerombolan awan kusam san Sang Angin berhembus syahdu meriwayatkan hikayat persahabatan keduanya.

Hari terus berganti minggu, minggu tetap mengalir menjadi bulan yang mengendap menjadi tahun. Kusmana kesepian, sesak dadanya oleh gejolak rindu pada Cecep. Doanya terpanjat setiap sepertiga malam terakhir ketika Tuhan Semesta Alam mengunjungi langit dunia. Dalam baris doanya terselip doa rindu ingin bertemu dengan Cecep. Rindu yang hampirsaja membunuhnya, nafsu makannya berkurang dan seringkali ia sakit-sakitan.

Sang Angin berembus dalam jaringan seluler dan mengabarkan kondisi Kusmana pada Cecep. Dengan sigap Cecep yang saat itu telah beristri dan memiliki seorang anak pulang kampung menuju desanya, memenuhi kewajiban di Hari Raya Haji dan menemui Kusmana.

Doa Kusmana terkabul, Sang Waktu memang bersekongkol dengan Sang Takdir untuk emmbuat sebuah persahabatan lebih bermakna dengan adanya perpisahan. Di awal hari takbir bergemuruh, Cecep bertemu Kusmana, memeluknya hangat seperti pelukannya saat akan berpisah lima tahun lalu, dan kini pelukan itu lebih erat mendekap.

"Bruggg.... Mouuu...Mouuu," Kusmana melenguh sejadi-jadinya tubuhnya yang tua tak lagi kuasa menahan jerat tali yang merubuhkannya.

"Kusmana... Terima kasih kawan atas segalanya... Terima kasih telah menemaniku selama ini, sekarang temuilah Ayah dan Ibuku di Surga dan angkatlah mereka di punggungmu nanti. Aku telah memiliki anak dan tahukah kau? Namanya Kusmana. Akan kuceritakan pada anakku nanti tentang dirimu agar kenangan kita akan terus hidup," ucap Cecep lirih ketika mata keduanya bertemu, tatapan yang dalam menghidupkan kenangan, melepaskan rindu yang telah lama terkubur.

Seketika golok tajam Cecep memotong urat leher Kusmana beriringan dengan gemuruh takbir, darah segarnya membuncah liar dan ia melenguh menghabiskan sisa, Kusmana yang meregang nyawa hanya mampu tersenyum bahagia. "Terima kasih Tuhan...." kata yang terucap bersamaan antara Cecep.... dan kerbaunya.***


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Aldi Aldinar
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" Minggu 16 April 2017

0 Response to "Cecep dan Kusmana"