Daun Yang Terakhir | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Daun Yang Terakhir Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 15:10 Rating: 4,5

Daun Yang Terakhir

DI KOTA NEW YORK, di sebelah Washington Square terletak kampung yang disebut Greenwich. Jalan-jalannya yang sempit dan rumah-rumahnya yang dibangun pada abad ke-18 merupakan kombinasi yang menarik, terutama bagi para seniman, yang tertarik akan keunikan suasana dan sewa rumah yang murah. Karena itu kemudian daerah itu terkenal sebagai kampung para seniman.

Di tingkat teratas dari sebuah bangunan bertingkat tiga, Sue dan Johnsy menyewa sebuah ruangan yang kemudian mereka pakai sebagai studio. Johnsy sebenarnya bernama Joana, ia berasal dari California. Sedang Sue berasal dari Maine. Mereka bertemu pertama kali di sebuah restoran kecil. Ternyata mereka mempunyai selera seni yang sama. Tak lama kemudian mereka memutuskan untuk menyewa ruangan untuk dijadikan studio, dan sekaligus tempat tinggal mereka.

Di bulan November, datang seorang tamu asing, tamu yang dingin dan pendiam. Dokter memanggilnya Tuan Radang Paru-paru. Tamu ini dengan tenang mengelilingi kampung Greenwich dan berkunjung ke mana saja ia ingin berkunjung. Dengan jari-jarinya yang dingin dan menggigil ia memperkenalkan dirinya di mana-mana.

Tuan Radang Paru-paru sama sekali bukanlah seorang tamu tua yang peramah. Johnsy yang sakit dikunjunginya juga. Johnsy yang biasa menikmati udara California yang hangat, sama sekali tak berdaya untuk menolak kedatangannya. Dengan tenang Johnsy akhirnya terbaring di tempat tidurnya, gairah hidupnya membeku sedingin tempat tidur besinya. 

Johnsy yang manis, dengan pandangan yang kosong, hanya sanggup melihat dunia luar dari balik jendela ke arah dinding yang kosong dari bangunan rumah sebelah.

Suatu sore seorang dokter tua yang baik datang memeriksa keadaan Johnsy. Kemudian diajaknya Sue keluar dari kamar. Sambil mengguncang termometer, dokter itu berkata kepada Sue, “Kelihatannya tak ada harapan lagi bagi Johnsy.”

Johnsy yang malang.

“Apakah Anda tahu apa saja yang diinginkannya selama ini?”

“Oh kenapa dokter … kenapa?” Sue menggigit bibirnya, hatinya menggigil. “Oh dokter, Johnsy sering berkata bahwa ia ingin melukis pemandangan Teluk Naples ….”

“Melukis? Ah, kedengarannya agak kekanak-kanakan. Apakah ia tidak pernah memikirkan sesuatu … seorang pria, misalnya?”

“Seorang pria?”

“Ya … mungkin Johnsy punya seorang kekasih.”

“Tidak, dokter … saya yakin Johnsy tidak memikirkan itu.”

“Kalau begitu, ini hanya persoalan kesehatannya saja. Saya akan melakukan segala sesuatu yang saya sanggup. Tetapi kalau seorang pasien sudah kehilangan keyakinannya untuk dapat sembuh, maka keampuhan obat-obatan akan berkurang setengahnya. Jadi apabila Johnsy mulai menanyakan sesuatu, seperti … mode musim dingin, misalnya, maka saya dapat menjanjikan kemungkinan sembuhnya,” kata dokter tua itu sambil mengemasi peralatannya.

Setelah dokter itu pergi, Sue masuk ke dalam studio dan menangis. Kemudian memaksakan diri untuk tersenyum, Sue masuk ke kamar tidur Johnsy dengan membawa alat-alat lukis. Johnsy terbaring tenang dengan berlindung di bawah selimut bulu yang tebal, mukanya menghadap ke arah jendela.

Sue berhenti bersiul karena dikiranya Johnsy sedang tertidur. Diaturnya peralatan lukisnya, dan ia mulai membuat beberapa sketsa untuk ilustrasi suatu majalah wanita.

Ketika Sue sedang asyik menggambar di kertas, ia mendengar suara bisikan yang berulang-ulang. Sue bergegas ke tempat tidur Johnsy. Johnsy ternyata sedang memandang ke luar jendela, matanya terbuka lebar.

“Dua belas,” katanya. Kemudian …. “Sebelas.” Kemudian, “Sepuluh.”

Sue penasaran dan segera melihat ke luar jendela. Apa yang sedang dihitungnya? Di luar sana hanya ada halaman sempit yang suram. Beberapa meter ke sebelah sana terdapat tembok kosong dari rumah sebelah, pohon anggur tua dengan akarnya yang rapuh menjalar ke atas tembok itu.

Angin musim gugur yang dingin telah merontokkan daun-daunnya sehingga cabang-cabangnya tampak gundul.

“Ada apa, Johnsy? Beri tahu aku.”

“Enam,” kata Johnsy hampir seperti berbisik. “Mereka sekarang berguguran lebih cepat. Tiga hari yang lalu masih ada seratus lebih. Saat itu sulit bagiku untuk menghitungnya, tapi sekarang lebih mudah …. Itu gugur lagi satu, sekarang tinggal lima.”

“Lima apa, Sayang? Ayolah katakan kepadaku.”

“Daun-daun anggur itu. Apabila daun yang terakhir gugur, aku merasa akan pergi juga. Aku telah merasakan itu selama tiga hari ini. Apakah dokter tidak memberitahukan kepadamu, Sue?”

“Ayolah, Sayang, jangan berkhayal yang tidak-tidak, tidak ada hubungannya sama sekali antara daun-daun anggur dengan kesembuhanmu. Dan biasanya kau sangat menyukai daun anggur itu. Jangan aneh-aneh.

“Ayolah, Sayang, cobalah makan sup ini. Aku harus bekerja sekarang. Nanti aku beli makan malam untuk kita berdua, dan siapa tahu aku akan mendapat uang lebih untuk membeli anggur. Kau kan senang anggur hijau. Ayolah, Johnsy.”

“Kau tidak perlu membeli anggur lagi,” kata Johnsy. Ia tetap melihat ke luar, ke pohon anggur itu.

“Itu gugur satu lagi. Tidak, aku tidak mau makan sup. Sekarang hanya tinggal empat daun, aku ingin melihat daun yang terakhir gugur. Kemudian aku pun akan pergi juga.”

“Johnsy, Sayang …” kata Sue sambil membungkuk.

“Maukah kau berjanji untuk tidak melihat ke luar jendela itu lagi? Aku harus menyelesaikan gambar-gambar ini sebelum besok pagi. Aku perlu cahaya dari luar. Kalau tidak, sebenarnya aku ingin menutup jendela itu.”

“Dapatkah kau bekerja di kamar lain?” kata Johnsy dengan dingin.

“Aku lebih suka bekerja di sini, sambil menemanimu,” jawab Sue cepat. “Lagi pula aku tidak senang kau terus melihat daun anggur itu.”

“Beri tahu aku kalau kau sudah selesai bekerja,” kata Johnsy. Dipejamkannya matanya dan kembali berbaring dengan tenang. “Aku ingin melihat daun yang terakhir gugur. Aku sudah lelah. Aku ingin pergi seperti halnya daun anggur itu.”

“Johnsy … cobalah tidur sekarang, aku harus ke bawah menemui Pak Behrman untuk model ilustrasiku. Aku tidak akan lama.”


PAK BEHRMAN SATU TINGKAT di bawah kamar mereka. Umurnya lebih dari enam puluh tahun, berjanggut panjang dan berombak. Ia seniman yang gagal. Selama empat puluh tahun ia selalu membual akan melukis suatu adikarya, suatu lukisan yang agung. Tetapi ia tidak pernah mulai melukisnya, bertahun-tahun tak ada satu pun karya yang dibuatnya, kecuali beberapa gambar yang dipesan oleh perusahaan reklame. Ia mendapat uang dengan cara menjadi model untuk pelukis-pelukis muda di daerah itu yang tidak sanggup membayar model profesional.

Pak Behrman seorang pecandu alkohol, tapi ia baik hati dan berani, dan selalu menganggap dirinya sebagai pelindung kedua seniwati muda yang tinggal di atas kamarnya.

Sue mendapati Pak Behrman di studionya yang suram, penuh dengan bau minuman keras. Di satu sudut terletak kanvas kosong yang telah menunggu selama 25 tahun untuk mulai dicoreti dengan garis-garis yang nantinya jadi adikarya.

Sue menceritakan pemikiran dan perasaan Johnsy yang aneh mengenai daun-daun anggur tadi. Sue berkata bahwa ia akan benar-benar khawatir akan keadaan Johnsy. Ia begitu kurus dan lemah. Mungkin saja ia akan benar-benar meninggal begitu daun yang terakhir gugur. Pak Behrman tampak menjadi tidak senang. Perlahan ia menggelengkan kepala.

“Tidak ada orang di dunia ini yang begitu tolol dengan mengira hidupnya tergantung dari gugurnya selembar daun anggur. Mengapa kau biarkan ia berpikir yang tidak-tidak? Ah … kasihan Johnsy.”

“Johnsy sangat lemah dan demamnya menyebabkan pikirannya penuh dengan hal yang aneh-aneh,” kata Sue lirih.

Pak Behrman menyanggupi untuk menjadi model. Ia juga sangat cemas dengan keadaan Johnsy. “Tempat ini sangat tidak baik bagi seseorang yang begitu manis seperti Johnsy. Apalagi dia sedang sakit seperti ini. Suatu hari aku akan melukis adikarya itu, dan kita bersama-sama meninggalkan tempat ini. Ya, aku akan mulai melukis adikarya itu.”

Johnsy sedang tidur ketika mereka masuk ke dalam kamar itu, Sue menutup tirai jendela dan mengajak Pak Behrman ke kamar sebelah. Di sana mereka melihat ke luar jendela ke arah pohon anggur itu. Kemudian mereka berpandangan tanpa berkata-kata. Hujan dan salju turun dengan lebatnya.

Pak Behrman, yang mengenakan baju biru tua dan celana warna abu-abu duduk di atas panci yang terbalik. Dengan janggutnya yang panjang dan berombak, ia tampak sangat sesuai sebagai model seorang buruh tambang yang sedang duduk di atas batu. Sue mulai menggambar.

Ketika Sue bangun esok paginya, dilihatnya Johnsy dengan pandangan aneh sedang melihat ke arah jendela yang tertutup tirainya.

“Tolong bukakan tirainya, Sue, aku ingin melihat ke luar,” Johnsy berkata lirih. 

Dengan perasaan segan Sue membuka tirai jendela. Mereka melihar ke luar dengan perasaan aneh. Walaupun semalam hujan sangat deras dan angin bertiup sangat kencang, di pohon anggur itu masih terdapat selembar daun. Daun yang terakhir. Warnanya masih hijau pada tangkainya, namun mulai menguning di ujungnya. Ia tergantung dengan kokoh pada sebatang ranting, tergantung sekitar setengah meter dari permukaan tanah.

“Daun yang terakhir,” bisik Johnsy. “Aku sudah menduga bahwa ia akan gugur semalam. Aku dengar angin begitu kencang. Ah … tentu ia akan gugur hari ini dan aku pun akan pergi seperti daun itu.”

“Johnsy,” kata Sue, ditangkupkannya mukanya ke bantal. “Apa yang bisa kuperbuat tanpa kau?”

Tetapi Johnsy tidak menjawab. Kelihatannya kata-kata Sue menyentuh sudut-sudut hatinya, perasaan itu membuat hatinya risau.

Hari itu berlalu dengan perlahan. Di sore hari mereka masih dapat melihat daun anggur terakhir itu tetap tergantung di tangkainya, hampir merapat pada tembok rumah sebelah yang putih kusam.

Dan setelah malam tiba, angin utara yang kencang datang, sementara hujan terus-menerus memukul-mukul kaca jendela. 

Esok paginya, ketika matahari mulai memancarkan cahayanya. Johnsy meminta Sue membuka tirai jendela. Sinar matahari dengan ramahnya menghangati ruangan itu, dan … daun itu masih tetap di sana.

Johnsy termenung mengawasi daun itu, kemudian dipanggilnya Sue yang sedang memasak sup ayam di dapur. 

“Sue, selama ini aku telah berpikir yang tidak patut,” kata Johnsy. 

“Sesuatu telah menahan daun itu agar tidak gugur, untuk menunjukkan betapa tak terpujinya sifatku selama aku sakit. Sangatlah berdosa mempunyai keinginan untuk mati. Sue … maukah kau membawakan sup untukku dan sedikit susu? Campurkan sedikit anggur pada susu itu. Tapi tolong bawakan aku cermin dan beberapa bantal agar aku dapat duduk dan melihatmu memasak.”

Beberapa jam kemudian Johnsy berkata, “Sue, suatu hari nanti aku akan melukis Teluk Naples itu. Aku kagum akan keindahannya.”

Dokter datang pada sore harinya. Sue mengikutinya ke luar ketika ia selesai memeriksa kesehatan Johnsy

“Johnsy sekarang mempunyai kemungkinan besar untuk sembuh,” kata dokter itu. “Dengan perawatan yang baik ia akan sembuh. Nah … sekarang aku akan melihat seorang pasien lain. Di tingkat bawah ada seorang yang sakit, namanya Behrman. Ia seniman. Kurasa ia juga terserang radang paru-paru. Ia sudah sangat tua dan lemah, sedangkan penyakitnya sudah kronis. Kurasa sudah tak ada harapan lagi untuknya, tapi aku akan mengirimnya ke rumah sakit. Mungkin ia dapat tertolong. Hanya Tuhan yang tahu.”

Besoknya dokter itu datang lagi. Diperiksanya Johnsy dengan cermat.

“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi dengan penyakit Johnsy. Yang diperlukannya sekarang hanyalah makanan dan perawatan yang baik.”

Pada sore harinya Sue datang mendekati Johnsy. Ia sedang tekun membuat sketsa dengan pensil. Sue memeluk Johnsy dengan halus. Dengan lembut pula ia berkata kepada Johnsy, “Johnsy, Sayang, ada sesuatu yang harus aku sampaikan kepadamu. Hari ini, di rumah sakit, Pak Behrman meninggal dunia karena radang paru-paru.”

Johnsy tertunduk diam, dan Sue melanjutkan bicaranya, “Kemarin, pagi-pagi sekali, pemilik gedung ini dan istrinya mendapati Pak Behrman di kamarnya, terbaring lemah dan kedinginan. Pakaiannya basah kuyup dan sepatunya kaku karena kedinginan. Mulanya mereka tidak tahu dari mana saja Pak Behrman malam itu, kemudian mereka menemukan lampu minyak yang masih menyala dan tangga yang kelihatannya bekas diseret dari suatu tempat. Mereka juga menemukan beberapa kuas dan palet dengan cat warna hijau dan kuning yang masih melekat. Lihatlah ke luar jendela, Sayang. Lihatlah daun anggur itu. Tidak kau heran mengapa ia tidak pernah bergoyang walaupun angin berembus dengan kencangnya? Itulah adikarya Pak Behrman. Ia mengecatnya di tembok itu pada malam hari ketika daun anggur yang terakhir gugur.”[]


O. Henry adalah nama pena William Sidney Porter, penulis cerita pendek Amerika yang cukup terkenal. Dia lahir tahun 1862. Ketika usianya tiga tahun, ibunya meninggal, dan dia diasuh oleh ayahnya yang dokter, dan bibinya yang disiplin. Will belajar di sekolah yang dibuka oleh bibinya, Lina Porter.
Ketika dewasa dia mulai menulis dengan memakai nama samaran. Mungkin alasannya adalah karena ceritanya mengandung kebenaran. Ketika dia tinggal di New York dia menjadi penulis terkenal. Misalnya, selama 1904-1905 dia menulis untuk Sunday World seminggu sekali. Dia memang lebih banyak menulis tentang New York City ketimbang kampung halamannya di North Carolina. Will yang pernah menikah dua kali meninggal tahun 1910.


Catatan:
Judul asli: The Last Leaf
Penulis: O Henry
Alih bahasa: Anita Ernawati

Rujukan:
[1] Disalin dari karya O Henry
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Majalah Femina" edisi No. 18/XXXI 1 – 7 Mei 2003


0 Response to "Daun Yang Terakhir"