Detailer | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Detailer Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 15:15 Rating: 4,5

Detailer

DARI lubuk hatinya yang paling dalam, sebenarnya Santi merasakan kegelisahan yang luar biasa. Masih terngiang di telinganya ajakan dr Anton tadi pagi, ketika dia sedang detailing tentang produknya yang baru di-launching satu minggu yang lalu.
"BAGAIMANA San, saya akan bantu you, tapi weekend ini you harus menemani saya refreshing di puncak!"

"Nggg...!?"

"Sudahlah.... you tidak perlu khawatir. Jangankan satu R, seratus R perhari pun  tidak masalah. You tahu 'kan berapa pasien saya dalam satu hari. Belum lagi di Rumah Sakit, saya bisa perintahkan semua co-ass saya untuk ikut menulis produk you."

"Tapi Dok..." Belum selesai Santi memberikan jawaban, dr Anton sudah menukas lagi. "Pokoknya amanlah San, tidak mungkin ada yang tahu. Lokasi villa saya jauh dari keramaian kok. Yang penting kebutuhan saya terpenuhi dan salos you masuk," dr anton mencoba meyakinkan Santi. "Bahkan kalau perlu nanti saya usulkan ke Managermu, siapa nama bosmu yang kepalanya agak botak itu?" tanya dr. Anton sambil mengelus kepalanya yang juga agak botak itu.

"Pak Hendarto Dok," jawab Santi dengan menahan senyum, kepala sendiri botak, ngomongin orang lagi, pikir Santi.

"Ya...ya...., Pak Hendarto. Saya kenal dia cukup lama. Kurang lebih sekitar lima belas tahunan. Waktu itu dia masih jadi detailer. Ya persis seperti you sekarang ini. Hebatnya ia selalu memberikan apa saja yang saya minta. Makanya karirnya melesat bagaikan bintang. Omzetnya selalu melebihi target. Nah, sebagian besar adalah kontribusi dari saya. Maka dari itu San, kalau you ingin karir you bagus, tirulah cara-cara Pak Hendarto. Pokoknya asal you  penuhi keinginan saya, saya jamin dalam waktu kurang dari dua tahun you sudah akan menempati posisi Area Manager." Dengan gaya  bicaranya yang khas dr Anton yang memang sudah dikenal di kalangan detailer agak genit itu melancarkan rayuannya.

Awalnya Santi tidak begitu percaya dengan rumor miring tentang dokter yang satu ini. Bahkan dia menganggap bahwa peringatan dari teman-temannya sesama detailer agar jangan terlalu dekat dengan dr Anton sebagais ebuah rasa keirian. dr Anton adalah kepala bagian Obstetry & Gyneacology di Rumah Sakit swasta terbesar di kota ini, sekaligus merangkap sebagai Ketua Komite Medik di Rumah Sakit tersebut. Dengan posisinya yang sangat strategis itu memang dr Anton mempunyai wewenang untuk menentukan  preparat mana yang layak digunakan di Rumah Sakitnya.

Santi masih ingat saat-saat pertama berkenalan dengan dr. Anton. Lebih kurang satu setengah bulan yang lalu, ketika dia masih joint-visit bersama senior yang posisinya dia gantikan sekarang.

Pagi itu dr Anton menatap lekat ke tubuh Santi --yang saat itu mengenakan kaos ketat turtle-neck berwarna hitam dipadu dengan setelan blazer warna krem hampir tanpa berkedip. Mungkin kalau waktu itu senior Santi tidak menyapanya, dr. Anton akan tetap mematung seperti itu. "Selamat pagi dr Anton...."

"Oh... eh... ya selamat pagi," dengan tergeragap dr. Anton membalas salam dari senior Santi. "Ada apa....?"

"Ini Dok....," lanjut senior Santi. "Saya mau berpamitan kepada Dokter sekalian memperkenalkan Rep kami yang baru."

"Ooo jadi si cantik ini yang akan menggantikan you,".kata dr. Anton tanpa basa-basi. "I... iya Dok, nama saya Santi," Santi mulai memberanikan diri untuk memperkenalkan dirinya.

"Mohon Dokter tetap bersedia membantu saya, seperti Dokter membantu senior saya," kata Santi mulau mempraktikkan probing yang diajarkan sewaktu dia training. "Kalau hanya masalah bantu-membantu sih soal gampang, asal ada imbalannya saja....!" dr. Anton menjawab sambil mengerdipkan sebelah matanya. Genit.

Rupanya ini yang dimaksud sebagai imbalan oleh dr. Anton. Menemani berakhir pekan di puncak. Dan ini adalah kali ketiga dr. Anton mengajaknya rendezvous. Namun Santi tidak pernah menggubrisnya. Santi berpikir bahwa dr Anton hanya bercanda dengan ajakannya tersebut.

Tapi ajakannya kali ini sangatlah merisaukan hati Santi. Dengan sangat halus tapi tajam dr. Anton telah menunjukkan bahwa dia sangat mengenal atasan Santi. Sepertinya dia hendak mengatakan bahwa kalau Santi menuruti  ajakan dr. Anton, masa depan karier  Santi akan terjamin. tetapi sebaliknya, kalauSanti menolak, hal itu bisa berakibat fatal pada pekerjaannya.

Santi sudah mencoba mengkonsultasikan tentang hal ini kepada Pak Hendarto, marekting managernya. Tetapi di luar dugaan Santi, dia malah mendapat teguran keras dari atasannya itu. "Lha memangnya menurut Anda kenapa saya merekrut Anda dari tempat karaoke itu, kalau untuk memenuhi ajakan dr. Anton saja Anda tidak sanggup."

Santi agak kaget mendapatkan bosnya itu marah besar. Selama ini Pak Hendarto sangat baik kepadanya. Bahkan beliau sangat rajin memberikan tips-tips tentang cara menjadi detailer yang baik kepada Santi.

Makanya ketika menghadapi situasi yang sangat mengganggu nuraninya, Santi berusaha minta nasihat dari Pak Hendarto. "Asal tahu saja...," suara keras Pak Hendarto membuyarkan lamunan Santi. "Dr Anton itu adalah salah satu Top Prescriber kita yang sudah banyak memberikan kontribusi kepada perusahaan," kata Pak Hendarto sambil menekankan ujung jari telunjuknya ke meja kacanya yang dipenuhi dengan berbagai macam gimmick..

"Kita harus maintain dokter itu sebaik mungkin. Dengan cara apa pun. Mengerti...!" ujar Pak Hendarto.

Santi baru tersadar bahwa rupanya tips-tips Pak Hendarto tentang cara menjadi detailer yang baik, ujung-ujungnya adalah dengan menghalalkan segala cara.

Dengan hati yang sangat gundah Santi memacu Vespa Excel tahun 2000-nya meninggalkan Rumah Sakit. Sepanjang jalan pikiran Santi masih berputar-putar tentang masalah yang sedang merundungnya ini.

Dua bulan silam Santi memutuskan keluar dari karaoke tempatnya bekerja selama tiga tahun belakangan ini dan menerima tawaran Pak Hendarto untuk bekerja di perusahaan farmasi yang dipimpinnya karena Santi merasa mendapatkan pekerjaan yang lebih terhormat selain karier yang lebih pasti. Malam itu Santi bertemu dengan Pak Hendarto yang sedang mengentertaint sekelompok dokter dari daerah yang sedang berkunjung ke kota ini.

Sebagai seorang pemandu lagu, Santi dituntun selain pandai menyanyi juga harus mampu menemani mengobrol para tamunya. Menciptakan suasana menjadi meriah. Bergembira. Tak jarang beberapa tamu mencoba berbuat nakal kepadanya. Namun Santi selalu berhasil menampiknya dengan halus.

Tujuan utama Santi bekerja di tempat remang-remang ini semata-mata untuk mencari sesuap nasi. Lain tidak. Maka ketika malam itu Pak Hendarto menawarkan sebuah pekerjaan di perusahaannya, tanpa pikir panjang Santi segera menyanggupinya. Padahal dia belum tahu apa dan bagaimana kerja seorang detailer itu.

Ciiit...! Untung Santi masih sempat menginjak pedal rem excelnya. Nyaris dia menabrak gerobak tukang somay yang dengan seenaknya nyelonong dari perempatan gang tak jauh dari tempat kostnya. "Belegug siaak!" tukang somay itu memaki. Santi tidak mempedulikan makian tukang somay itu. Dia kembali memacu excel-nya menuju tempat kos.

Setelah memarkir excelnya di garasi, Santi langsung masuk kamar dan membantingkan badannya yang langsing ke tempat tidur. Mata Santi menerawang menatap langit-langit kamar kostnya yang sudah berwarna kecoklatan, mungkin sudah beberapa tahun tidak tersentuh kuas cat. Pikirannya melayang-layang. Membayangkan masa-masa indah ketika kedua orangtuanya masih bersama.

Meskipun penghasilan bapaknya sebagai pedagang sayuran tidaklah besar, namun hidup mereka sangatlah bahagia. Setiap pulang dari pasar ada saja yang dibawa Bapak Santi  sebagai tanda cintanya terhadap keluarganyaa. Kadang makanan. Pakaian. Atau hanya sekadar sayuran tak terjual yang bisa dijadikan lauk mereka. Singkat kata Bapak Santi sangat mencintai anak semata wayangnya. Dan tentunya istrinya. Ibu Santi.

Namun, keindahan itu mulai berubah ketika Santi duduk di bangku kelas lima SD. Bapaknya tergoda rayuan perempuan muda. Perempuan sesama pedagang sayuran di pasar tempat mereka biasa berdagang.

Santi tidak tahu setan mana yang telah merasuki hati bapaknya. Sikap bapaknya terhadap keluarganya berubah drastis. Tidak ada lagi tawa ceria di rumah mereka. Muram. Alih-alih pulang dengan membawa buah tangan. Pulang pun sudah jarang. Mungkin karena usia perempuan itu yang lebih muda dari ibunya. Atau karena badannya yang lebih sintal dan montok. Santi kecil tak pernah tahu. Yang Santi tahu Bapaknya tak pernah pulang lagi. Tak ada lagi buah tangan untuknya. Hampa. Kerontang.

Santi masih ingat malam durjana itu. Sepulang mengaji dari surau, dia menemukan ibunya telah menjadi mayat. Tergantung di dapur rumah mereka. Di lehernya teerikat selembar selendang yang dikaitkan ke kayu plafon. Lidahnya terjulur dan matanya melotot.

Santi menangkap kesedihan yang amat dalam di mata tersebut. Ibu Santi memang sangat mencintai suaminya. Dia adalah wanita kuno yang berprinsip bahwa keluarga adalah segalanya. Dia rela melakukan apa pun demi keutuhan keluarganya. Pengabdian adalah hidupnya. Pengkhiatan adalah aib. Dan aib artinya mati.

Malam durjana itu selalu menghantui hati Santi. Membuat Santi berjanji dalam hati untuk tidak merusak rumah tangga orang. Makanya ketika bekerja sebagi Pe-eL-pun, Santi tidak pernah menuruti godaan laki-laki hidung belang yang merayunya. Santi takut akan terjadinya sebuah pengkhianatan. Karena pengkhianatan berarti kematian.

Sekarang Santi sudah menjadi seorang detailer. Seorang medical representative. Seseorang yang -- dalam training disebutkan -- bertugas mewakili perusahaan dalam berpromosi. Mempromosikan obat-obatan kepada para tenaga medis. Kepada para dokter.

Dalam training tidak disebutkan bahwa seorang medrep harus menemani kliennya berakhir pekan di Puncak! Tidak ada! Tetapi kenapa kini ketika Santi menolak menemani seorang dokter untuk berakhir pekan, dia mendapat teguran keras dari atasannya?

Alunan melodi Kenangan Terindah dari handphone di dalam tas detailing-nya mengembalikan Santi dari lamunannya. Sekilas Santi melirik nama Anton dr pada display HP-nya.

"Dr Anton menelefon," gumam Santi. Pasti dia mau menanyakan jawaban atas ajakannya. Santi kembali teringat penderitaan ibunya ketika ditinggal pergi oleh bapaknya. Dia ingat janjinya untuk tidaak merusak keluarga orang. Dia teringat bahwa pengkhianatan adalah kematian. Dan dia tidak ingin menjadi penyebab kematian itu.

"Aku harus menentukan sikap," kata Santi dalam hati. "Apa pun risikonya." Santi menekan tuts bergambar telefon berwarna hijau pada HP-nya. Dia menarik napas dalam-dalam, kemudian tanpa menunggu kata halo dari dr Anton, dia menirukan kata-kata tukang somay siang tadi.

"Belegug siaak!" ***


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Pranowo Heri Dewanto
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" Minggu 23 April 2017


0 Response to "Detailer"