Di Bawah Bayang-bayang Gunung Sinai | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Di Bawah Bayang-bayang Gunung Sinai Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 12:00 Rating: 4,5

Di Bawah Bayang-bayang Gunung Sinai

DI bawah matahari terik pagi aku berdiri di kaki piramida Gizeh yang mengerucut ke arah langit setinggi 147 meter. Dengan celana jins serta jaket kulit untuk menahan terpaan angin, aku menatap kubur kosong itu menjulang tinggi. Kaki piramida bagaikan permadani yang luas dan rata tanpa pepohonan, mengantarkan pemandangan ke kota di bagian selatan. Para raja Cheops (Khufu) mencoba mengabadikan tubuh, raga yang berharga yang diperlukan di "seberang" sana. Kekayaan para raja itu ironisnya menjadi bahan kehidupan bagi orang yang hidup ribuan tahun kemudian. Para penjarah kubur menggali kenangan mas alampau itu, menjualnya menjadi kenang-kenangan bagi pencinta benda konkret sejarah masa lalu dalam rawatan museum segala bangsa.

KUBUR itu telah kosong. Dalam kekosongan itu tertera sejumlah kisah, pada setiap batu yang bertindih, bagaikan sebuah keajaiban alam yang direkayasa. Orang-orang Ibrani yang diperbudak penguasa Firaun beratus-ratus tahun membangun sejumlah tugu bagi makam raja. Waktu yang empat abad bukanlah waktu yang singkat untuk membangun istana dan bangunan yang megah pada masa hidup penguasa itu, yang terus-menerus mengimpikan kejayaan dalam kematian yang abadi. Bersama kehidupan para penguasa itu berbarislah piramida kematian yang menjulang tinggi, yang terkapar di padang-padang gurun yang gersang saat mengungkit batu-batu raksasa tempat raja yang hidup dan mati bersinggasana. 

Aku termenung melihat kota besar di bawah kaki piramida. Segumpal kenangan masa lalu membungkah dalam benakku, dibawa aliran Sungai Nil yang membelah kota yang terus-menerus menghilangkan dahaga orang Mesir dari zaman ke zaman. Sungai yang menjadi air kehidupan bagi yang hidup dan yang mati, yang kuno dan modern berbaur di tepi sungai yang menorehkan kisah sepanjang zaman. Manusia bisa mati lalu digantikan generasi demi generasi, tetapi Sungai Nil tetap jernih di sana, yang dahulu dipuja Firaun sebagai berkah dari dewa. Kalau dahulu Musa diapungkan dalam keranda yang teranyam kemudian dipungut putri Firaun, tanpa disadarinya, bayi Musa itu menjadi petaka bagi kerajaannya delapan puluh tahun kemudian. Bagi putri Firaun, Musa adalah karunia dewa Sungai Nil. Seorang bayi yang tampan. Hadiah dari sungai tempat ia menyucikan diri setiap pagi. Kini, Sungai Nil juga tidak berhenti menjadi berkah ketika kapal wisata dari waktu ke waktu mengapung di sana dengan tari perut yang mendatangkan uang dolar. 

Sungai Nil adalah dewi kesuburan bagi Mesir sepanjang zaman. Para penguasa boleh silih berganti tetapi mereka selalu berdamai dengan Sungai Nil. Orang-orang Ibrani paling bahagia ketika mereka menghuni daerah yang tidak jauh dari aliran sungai ini sehingga kambing domba mereka tidak kehabisan padang rumput yang hijau. 

Entahkah jalan itu yang ditempuh Musa ketika berusia delapan puluh tahun, aku tidak tahu pasti. Para leluhur selalu memiliki kearifan, mungkin saja orang modern mengikuti jejak yang dirintis mereka melalui padang gurun atau lewat kilometer 101 yang terkenal dalam Perang Enam Hari antara orang Ibrani modern melawan Mesir dan koalisinya yang sepakat mempertemukan pucuk senjata tanpa peluru tanda gencatan senjata. Tetapi kini telah menjadi jalan beraspal dan pelbagai jenis kendaraan melintas di atasnya. Musa membawa berjuta manusia dan ternak mereka yang banyak meninggalkan tanah Mesir pada malam petaka dan perkabungan karena kematian anak sulung di seluruh Mesir, kecuali kawasan Gosyen yang dihuni oleh orang Ibrani yang eksodus menuju padang gurun. Pasukan tanpa senjata yang tidak habis-habisnya. Puluhan ribu orang tua, orang dewasa, anak-anak, berbaur dengan ternak: unta, kuda, domba, kambing, dan keledai. Berjuta makhluk hidup dengan tendatenda mereka berbaris menuju Laut Merah. Sebuah rombongan pengungsi yang baru lepas dari perbudakan, menuju tanah kemerdekaan yang dijanjikan kepada mereka. 

Bayang masa lampau sekilas berlalu dan aku melihat di sisi jalan, di tengah padang gurun moncong meriam di atas tank yang dikendarai serdadu yang berdiri di atasnya dengan uniform abu-abu dan tank yang disaput debu. Ia menyandang senapan, yang kemudian membersitkan kenangan dalam benakku, pasukan Firaun yang menguber orang Ibrani dengan kereta perang yang bergemuruh. Hari-hari berkabung sudah berlalu, kini dendam kesumat merasuk dada Firaun. Pastilah budak-budak itu dapat diambil kembali dan dipekerjakan demi pembangunan kota dan istana-istananya. Mereka memerlukan tenaga. Ratusan pasukan yang terlatih dengan kereta perang, ribuan dengan pasukan berkuda, menyusul rombongan yang tidak berdaya itu. Mendengar deru kereta di belakang mereka, orang Ibrani terbentur pada laut. Kekacauan di baris belakang disertai ratap tangis anak-anak yang ketakutan. Kutuk serapah entah diarahkan kepada siapa berkobar. Keluh kesah, penyesalan, membuat segelintir orang ingin berontak kepada Musa seraya berteriak, ”Apakah tidak ada kuburan di Mesir sehingga kita dibawa mati ke gurun pasir ini?” 

Rombongan dari belakang berdesak-desakan. Deru kereta berkuda semakin gemuruh. Teriakan-teriakan karena panik di mana-mana. Tiba-tiba awan gelap bagaikan guntur bergema di belakang barisan yang kocar-kacir itu. Awan lembut menyelubungi mereka sehingga mereka reda dari rasa panik. Berjuta-juta makhluk hidup menapakkan kaki ke dasar laut yang tiba-tiba terbelah bagaikan dinding beton. Puluhan jam mereka berjalan di dasar laut ketika pasukan Firaun berputar-putar di tempat tidak mampu menerobos kabut awan yang hitam. Musa memukulkan tongkatnya ke atas air saat pasukan Firaun menerobos awan yang lenyap seketika. Pasukan itu menderu ke dasar laut yang masih kering dengan gagah perkasa. Ribuan prajurit tangguh menerobos ke tengah dasar yang kering ketika Musa memukulkan tongkatnya ke atas air dari seberang. 

Ringkik kuda yang terkejut diterjang arus laut meninggi. Barisan belakang hendak berbalik arah, tetapi dari pantai air menderu ke tengah dan pasukan itu tenggelam ke dasar laut. Keesokan harinya, orang-orang Ibrani melihat tubuh yang mengapung di atas air. 

Bus sebentar-sebentar berhenti. Pemeriksaan penumpang. Prajurit berseragam memeriksa setiap bus dan penumpang pada jarak-jarak tertentu. Pos-pos pemeriksaan pada jarak tertentu membuat perjalanan agak lambat. Lewat tengah hari, bus berhenti di kota Sharm el-Sheikh yang indah. Alun-alun kota yang rata ditumbuhi bunga yang mekar di sana sini dengan aneka warna. Luar biasa kota indah ini dengan lautnya yang tenang. Kapal-kapal pesiar dan kapal dagang tampak di tengah laut. Vila di atas bukit berdiri tegak dengan keindahan bangunannya. Restoran dan toko yang sarat dengan pelbagai jenis pakaian dan barang elektronik menunjukkan bahwa kota ini makmur. Jalan-jalan yang lebar, bangunan yang tertata rapi, kebersihan kota ini sangat memesona, berbeda dengan beberapa bagian dari kota Kairo yang tampak kumuh. 

Pemandangan yang eksotik ini sulit terlupakan. Makanan di restoran yang nikmat tidak jauh dari selera orang timur pada umumnya. Pelayan restoran yang ramah dan profesional amat menyadari bahwa kehadiran orang asing adalah rahmat bagi mereka. 

Bus meninggalkan kota pelabuhan yang indah ini lewat pukul dua siang. Tidak banyak kendaraan yang lalu lalang. Hanya sesekali berpapasan dengan kendaraan lain ketika bus merangkak keluar kawasan kota menuju arah ke timur yang semakin mendaki. Deru kendaraan yang ber-AC merangkak dengan kecepatan enam puluh kilometer pada jalan yang agak rata. Di kiri kanan adalah bukit batu yang tidak kalah tingginya daripada piramida di Gizeh. Mengapa firaun-firaun Mesir tidak memakamkan jenazah mereka di celah-celah bukit batu ini, pikirku. Di kiri kanan jalan semuanya bukit batu yang tinggi. Pikiranku kembali ke masa silam, beribu-ribu tahun yang lalu orang Ibrani melintasi jalan berdebu, membawa beban keperluan sehari-hari, tenda yang diangkut unta dan anak kecil yang harus berjalan perlahan dan setiap beberapa kilometer rombongan besar ini harus berhenti. Berminggu-minggu, berbulanbulan mereka harus berhenti di dataran sepanjang jalan yang terbuka. Bagaimana mereka mendapat air? Bagaimana mereka memberi minum ternak mereka? 

Menjelang petang bus berhenti di sebuah permukiman penduduk barangkali bukan permukiman. Lebih tepat dikatakan bangunan-bangunan berupa restoran, hotel, dan tempat istirahat. Katanya, inilah kawasan Gunung Sinai. 

Satu hari naik bus dari Kairo dan tiba menjelang senja di kaki Gunung Sinai membuat badan rasanya letih. Bagaimana orang Ibrani yang berjalan berbulanbulan, dengan gerutuan yang ditujukan kepada Musa baik soal perjalanan yang tidak kunjung sampai, soal makanan dan minuman yang membuat mereka berontak. Ke mana akhir perjalanan ini? Tanya mereka. Di kaki gunung ini mereka berbulan-bulan istirahat memasang tenda, memberi makan kambing dan domba serta ternak lainnya. Kebosanan dan keluhan yang tidak habis-habisnya ditujukan kepada Musa yang membawa mereka keluar dari negeri yang penuh bawang dan daging. Perjalanan apa ini? Ketika air tidak ada, mereka marah dan memaki-maki Musa. 

Bayangan itu kubawa tidur yang lelap. Tiba-tiba tengah malam dering telepon di kepala tempat tidur berdering. Aku segera bangun dan mengenakan jins dan sepatu kets, jaket, dan topi. Istriku sudah siap. Aku bergabung dengan rombongan pejalan malam. Lima belas menit naik kendaraan ke kaki Gunung Sinai. Bus berhenti tidak jauh dari biara St Catherina. Puluhan ekor unta menanti rombongan kami. Istriku naik unta di depan, aku menyusul di belakangnya. Setiap orang punya senter sendiri. Unta berjalan di kegelapan malam mengandalkan cahaya bintang di langit yang cerah dan malam yang sunyi. Hanya sesekali orang Beduin yang memegang kekang unta berteriak sesekali ketika unta tampaknya mengantuk dengan berjalan perlahan. Saat sorot senter menyorot ke kiri aku melihat jurang di bawah, sebelah kiri, sedangkan di kanan bukit batu yang tinggi. Aku berpegangan pada kayu yang menonjol di tempat duduk. Berjam-jam aku berdiam diri melihat bintang gemerlapan di langit. Kalau lihat ke kiri aku merasa ngeri. Jalan berbatu-batu yang semakin mendaki semakin tinggi. Tidak jauh dari puncak Sinai ada goa yang dijadikan warung yang diterangi lampu dinding. Unta merayap di tanah, aku mencoba melepaskan diri dari kursi kayu yang mengikuti lekukan pundak unta. Susah sekali. Dua orang Beduin melepaskan kedua kakiku yang kaku. 

Aku bergabung dengan yang lain. Untuk menghilangkan rasa haus kupesan segelas susu seharga tiga dolar. Di sebelahku ada dua orang yang berkata-kata dalam doa mohon pengampunan dari Tuhan, dengan isakan suami-istri itu mencium tanah. Lagu setengah suara mengalun syahdu dalam keheningan malam disaksikan bintang-bintang di langit. Doa-doa menggetarkan hening malam. Kembali digugah oleh nada kepasrahan kepada Tuhan. 

Satu jam di puncak Sinai, mungkin di goa Yoshua menanti Musa di puncak sekali Gunung Sinai. Alangkah sunyinya Yoshua seorang diri 40 hari 40 malam menunggu Musa di puncak bukit itu. Menyaksikan kabut hangat dan teduh yang menyelimuti Musa dan Yoshua pada malam hari, bagaikan hangatnya api yang menyala entah di mana. 

Terbayang di mata batinku, Musa bercakap-cakap dengan Tuhan bagaikan dua sahabat yang sangat akrab. Musa tidak melihat wajah Tuhan serta-merta, tetapi kehadiran-Nya yang terasa amat nyata berselubungkan kabut kemuliaan. Bagi Musa waktu berjalan dengan cepat karena keakraban itu melekat dalam batinnya dan segala pesan itu direkam dalam benaknya. Yoshua menanti dan menanti, dengan kesabaran yang luar biasa tanpa merasa lapar dan dahaga. 

Dari renunganku aku terbangun ketika pemimpin rombongan menggamit lenganku bahwa saatnya tiba untuk turun. Tanpa unta. Ya, turun dengan unta tentu sangat menakutkan. Siapa yang dapat menahan badan dan jantung mengikuti irama unta yang amat menurun? Hanya bintang yang tertegun di angkasa sana. 

Aku tebayang Musa yang dikawal. Yoshua yang turun dari Gunung Sinai. Mereka yang mendengar sorak-sorai, bunyi musim bersipongang. Genderang perang? Musa bertanya-tanya. Yoshua pun menyangka. Barangkali perang, katanya. Tidak! Itu suara tarian dan musik puja-pujaan kepada dewa Firaun. 

Mendekati kaki bukit tempat bani Israel berkemah, wajah Musa memerah penuh angkara. Musa melihat abangnya, Harun, memimpin penyembahan kepada patung anak lembu. Ia mendekat dan melemparkan dua buah loh batu yang berisi 10 firman kepada patung anak lembu itu, jatuh berkeping-keping. Harun terkejut dan ketakutan, berdalih. Orang-orang Ibrani yang terlibat dalam pemujaan itu disuruh minum dari air yang diramu dengan abu patung. Tidak kepalang tanggung, Musa menyuruh orang Lewi menebas dan menikam mereka yang memuja patung lembu. Tiga ribu orang yang tewas pada hari itu. 

Kepala-kepala suku menjadi ketakutan. Mereka bertanya-tanya kepada diri sendiri, beginikah nasib kami? 

Menjelang subuh aku tiba di tembok biara St Catherina dan bersandar karena kaki yang terasa amat letih, penat dan kaku. 

Aku baru saja turun dari Gunung Sinai, dengan celana jins dan jaket kulit, dan sepatu kets.


Wilson Nadeak, lahir di Porsea, Tapanuli Utara, 74 tahun yang lalu. Telah menulis sejumlah kumpulan cerpen, esai, kritik, dan kumpulan puisi. Kini tinggal di Bandung.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Wilson Nadeak
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" edisi Minggu 2 April 2017

0 Response to "Di Bawah Bayang-bayang Gunung Sinai"