Di Langit, Ayub Melaut | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Di Langit, Ayub Melaut Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:00 Rating: 4,5

Di Langit, Ayub Melaut

SETELAH sampannya sampai di kejauhan tertentu, air laut semakin naik dan sampannya berada di atas mega-mega. Laki-laki tua bernama Ayub itu tertawa sendiri karena berpikir bahwa lamunannya telah sedemikian merasuk dalam pikiran sehingga menjadi mengada-ada. Namun, ketika dia hampir bisa menyentuh bulan dan kecipak air oleh kayuhan dayungnya masih tercipta sementara mega-mega berada di bawah sampannya, Ayub tahu itu bukan khayalan. Air laut benar-benar naik ke atas, dan dia menebarkan jaring di atas awan.

“Ini seperti mimpiku dulu,” gumamnya, sambil mencipakkan air laut dengan dayungnya. Memercik ke mukanya sendiri, dan dia terkekeh merasai asin di bibirnya.

Seekor hiu besar melintas di bawah sampannya, tampak dari kejernihan air dalam cahaya purnama yang begitu dekat. Ayub diam membeku, berdoa hiu itu segera berlalu. Tapi Sang Hiu justru menolehinya, mengangakan mulut sehingga taringnya yang tajam tampak berkilauan. Dari nganga itu, berloncatan ikan-ikan sebesar sandal. Ikan-ikan yang kemudian berenang-renang dengan gembira di sekitar jaring Ayub. Ayub menarik jaringnya dan ikan-ikan itu terperangkap.

Laki-laki itu tertawa. Lalu bergegas pulang. Tak perlu membawa banyak-banyak ikan. Sampannya terlalu kecil dan dia toh tidak butuh banyak-banyak ikan.

Mengayuh sampan pada arah berlawanan, air laut kembali turun dan sampailah Ayub di tepian. Dia mendayung sampan melewati kapal-kapal yang temalinya bertaut di tiang-tiang dermaga; kapal-kapal yang tidak pergi melaut; kapal-kapal dengan motor; kapal-kapal dengan pukat hela dan pukat tarik.

Dulu, Ayub memprotes kapal-kapal pendatang itu. “Jangan habiskan ikan-ikan kami,” katanya. Tapi dia justru dicemooh dan ditertawakan.

“Mana bisa ikan di lautan habis?”

“Jika serakah, mungkin akan habis,” sahut Ayub. “Mau melaut di mana kita?”

“Di langit!” Mereka bersikukuh. Apa daya Ayub jika para nelayan kampungnya justru belajar menggunakan pukat-pukat itu? Justru merasai melimpah-ruahnya hasil tangkapan?

Ayub mengingat itu sembari beristigfar.

Sekarang, sampan Ayub telah menepi di ujung jauh dermaga. Dijinjingnya keranjang berisi ikan-ikan yang menggelepar-gelepar. Meniti jalan setapak di antara tambak-tambak, di antara semak-semak, dalam keremangan senter dan cahaya bulan, Ayub sampai di gubuknya. Sebuah gubuk bambu yang agak miring oleh tanah pondasi yang longsor sebelah.

Ayub berjalan ke belakang gubuk. Ada kali kecil yang mengaliri tambak-tambak dan sawah-sawah di sana. Dia membungkuk, menyemplungkan keranjang ikannya dalam air yang mengalir, agar ikan-ikan itu tetap hidup dan masih segar ketika besok dibawa ke pasar.

Lelaki tua itu kemudian masuk ke rumahnya. Setelah berganti pakaian, dia merebahkan badan, tersenyum sambil memejamkan mata, dan berbisik, “Terima kasih, Tuhan.”

Dia tidur begitu lelap. Hingga subuh tiba dan dia mendatangi musala. Setelah salat berjamaah bersama tiga lansia, Ayub membawa keranjang ikannya ke pasar. Ikannya dibeli tengkulak yang terheran-heran.

“Hanya sedikit kapal melaut semalam, dan semua tak dapat banyak ikan,” gumamnya, disaksikan beberapa orang di sekitar, yang sama heran dan bertanya-tanya. “Kau melaut di mana, Pak Tua?”

Ayub menunjuk ke atas. “Di langit, ikan-ikan dikirim hiu ke sekitar jaringku,” katanya.


***
MUSALA satu-satunya di kampung nelayan itu, dulu dibangun Ayub di atas tanah miliknya. Sampai sekarang masih berdiri, setelah bertahun-tahun; setiap habis maghrib Ayub mengajari anak-anak kecil mengaji dan istrinya memberi hadiah jajanan yang dibuatnya bagi anak-anak yang mau mengaji. Sekarang tak ada hadiah, anak-anak yang mengaji sedikit sekali.

Ah, Ayub rindu istrinya. Berapa tahun mereka telah hidup berdua—hanya berdua?

“Aku tak bisa punya anak, Mas,” kata Maleha, istrinya, dulu ketika dokter mengangkat rahimnya karena penyakit.

“Tidak apa-apa, Leha. Kita akan berdua sampai tua.”

“Tapi siapa yang akan merawat kita kelak?”

“Aku yang akan merawatmu.”

“Dan siapa yang akan merawatmu?”

“Tuhan.”

Sudah setahun lalu Maleha diminta pulang Tuhan. Setelah sakit-sakitan dan semua harta Ayub telah habis untuk pengobatan. Yang tersisa hanya sepetak tanah bangunan musala. Ayub tak hendak menjualnya. Dia memilih tinggal di tanah bantaran, dengan bangunan ala kadarnya.

Tapi Ayub bahagia. Dia telah hidup bersama wanita yang membuatnya selalu bahagia.

Malam ini Ayub kembali melaut. Dia memang tidak setiap malam melaut. Tubuhnya sekarang mudah lelah. Tidak kuat seperti dulu ketika setiap malam dia selalu berada di antara gelombang.

Sampan Ayub meluncur pelan meninggalkan muara sungai, mengombang-ambing di laut lepas. Angin berkesiut dan ombak bergulung. Tapi Ayub tetap melaju. Karena yang dia tahu hanyalah menjaring ikan yang disediakan Tuhan di laut dalam. Ombak dan angin serupa lubang dan kerikil di jalan tanah. Tak melewatinya tak akan sampai pada tujuan.

Sampai di kejauhan yang tak Ayub ukur, ombak semakin naik ke atas dan sampannya mengapung di awan. Bulan masih tampak purnama. Cahayanya memantul di air.

Kali ini, sebelum menebarkan jala, Ayub mendayung sampannya mendekati bulan. Sampai teramat dekat dan Ayub bisa menyentuhnya. Oh, amboi…. Bulan itu indah, dari jauh maupun dekat. Dia teringat sebuah lagu yang dulu sering dinyanyikan istrinya. Lagu yang bilang bahwa bulan tak seindah yang tampak. Lagu yang sekarang dia pikir seharusnya diralat.

“Andai Maleha masih hidup,” gumam Ayub, sendu. Dia mengusap-usap permukaan bulan yang berkilauan. “Bulan ini akan kukerat sebagian dan kutatah menjadi mata kalung dan gelang dan cincin juga giwang.”

“Aku tak butuh perhiasan,” demikian dulu istrinya berkata, ketika Ayub melamar dengan mas kawin hanya sepotong selendang.

“Tapi perempuan-perempuan tetangga kita berlomba memamerkan emas berkilauan.”

“Aku memiliki dirimu, dan emas di hatimu.”

Ah, mengenang itu, betapa Ayub ingin waktu-waku lampau bisa diulang.

Seekor paus tiba-tiba menjulang. Ayub diam, menunggu apa yang akan binatang itu lakukan. Mulut paus yang lebar menganga, menelan sampan dan dirinya.

Ayub memejamkan mata.


***
DALAM rongga mulut paus, Ayub merasa diayun-ayun. Geligi kokoh di belakangnya menjadi tembok yang menghadang air agar tidak masuk. Dan dari tenggorokan serupa gua itu Ayub mendapatkan kehangatan. Hingga kemudian geligi paus terbuka dan hembusan dari tenggorokan paus mendorong sampan Ayub keluar dari rongga mulutnya. Sampan Ayub meluncur ke arah pantai yang bersih dan ombak yang tenang. Kerindangan hijau pepohonan bersenyawa dengan semburat kemerahan yang memulas sekitar.

“Apakah hari sudah pagi?” gumam Ayub seperti linglung.

Melangkah masuk ke daratan, Ayub melihat delapan wanita tengah bercengkerama di teras rumah kayu, di bawah naungan pohon rindang. Semakin dekat, dia mengenal salah satunya; Maleha, sedang menyulam selendang, ditemani tujuh wanita jelita.

Ketika mereka berhadapan, senyum Maleha mengembang. “Mas Ayub….”

“Maleha, benarkah ini kau?”

“Iya, Mas. Ini Leha….”

“Di mana kita?”

“Di Negeri Senja, yang selalu senja dan tak pernah beranjak.”

Serupa belia mabuk asmara, Ayub memeluk Maleha. Mereka lalu masuk ke dalam rumah: bercengkerama, bercerita, bercinta. Seolah tak habis-habis. Seolah tak puas-puas.

Hingga Ayub mendadak teringat waktu. “Aku harus pulang,” katanya.

“Maukah kau tinggal di sini?” tanya Maleha, yang sedang mencabuti uban di kepala Ayub.

“Tidak, Maleha. Anak-anak kampung masih butuh guru ngaji.”

Maleha tak menahan. Dia sangat mengenal suaminya: laki-laki yang teguh pada pendirian.

Setelah paus kembali mengantar Ayub ke tempat semula, dan waktu menjelma lagi dalam gulita, Ayub mengayuh dayung ke arah pulang. Kali ini dia tak menebar jala. Tapi dalam perjalan pulang, ikan-ikan berloncatan ke dalam sampan. Ayub memungutinya dengan riang. 


***
MEMASUKI muara sungai yang keruh, pandangan Ayub yang telah agak kabur masih bisa melihat kapal-kapal di dermaga kecil kampung itu poranda seolah diamuk mala. Orang-orang yang tengah bergerombol-gerombol di sana memandang ke arah sampan Ayub yang meluncur pelan melawan arus. Mendekati jorokan ranting pohon yang selalu dipakainya untuk menambatkan sampan.

Orang-orang yang terkesima itu, sebagian memburunya, dan berseru, “Puji Tuhan, semalam badai mengguncang dan kau tak apa-apa, Pak Tua?”

“Aku bertemu Maleha.”

“Di mana?”

“Di langit,” sahut Ayub sambil mengangkat keranjang ikannya, dan terkekeh, “Ikan-ikan berloncatan masuk sampan.”


(Teruntuk Ida Fitri yang membawa imajinasiku ke langit)


Aveus Har lahir pada 20 Januari 1977. Novelnya berjudul Sejujurnya Aku, Bentang Populer, 2015. Tinggal di Pekalongan, Jawa Tengah.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Aveus Har
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" edisi 8-9 April 2017

0 Response to "Di Langit, Ayub Melaut"