Drupadi - Pagi yang Ramah - Menemukan Rendra - Sajak Seorang Ayah - Sajak Penyair - Bangunlah Nak | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Drupadi - Pagi yang Ramah - Menemukan Rendra - Sajak Seorang Ayah - Sajak Penyair - Bangunlah Nak Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 01:30 Rating: 4,5

Drupadi - Pagi yang Ramah - Menemukan Rendra - Sajak Seorang Ayah - Sajak Penyair - Bangunlah Nak

Drupadi

/1/
Aku ingin hidup di langit
sebagai burung yang terbang
bebas pada selingkung pelangi
berkeliaran bebas menggendong waktu
tak melulu di ranjang dan dapur menunggu
seorang lelaki yang disebut suami
menunggangiku

/2/
aku ingin hidup di hutan
sebagai angin liar yang menampar
tangkai atau daun kering
yang sebentar lagi tanggal
sebab pipi sudah merah bekas tangan
leher dan dada bergantian merah
dicengkram Nakula dan Sadewa

/3/
aku ingin hidup di dalam goa
sebagai petapa menyerahkan
dirinya pada dewata atau sang sepi
bukan melulu bergumul menyerahkan
diri pada Yudhistira, Bima atau Arjuna


Pagi yang Ramah

Aku tak dapat membedakan pagi yang ramah atau awan yang marah
di atas sana langit begitu sengit menabur hujan menahan langkah kakiku
di kota yang rusuh ini, kembali aku dan kau sekali lagi gagak bertukar
ciuman yang sudah berminggu-minggu tertahan dan terasingkan.
Aku tak dapat menterjemahkan pagi yang ramah dan hati yang marah
memendam seribu kecewa yang dihanyutkan pada banjir di jalan raya
sebelum pesan darurat seperti SOS yang dikirim udara kubaca,
"Sayang sepertinya bibirku belum bertakdir untuk kaurengkuh hari ini,
tapi aku berjanji bulan depan bibirku tetap merah membara menyala
siap untuk membakar bibirmu yang kemarau itu."


Menemukan Rendra

Di jalan becek dan berlubang
bercampur bau amis dan kecut pedagang
aku melihat Hamka, Pram, hingga Pak Harto
wajah mereka lusuh menghadapi hidup
yang keruh dan rusuh sebelum akhirnya luruh.
Di samping restoran cepat saji, bank,
dan apotek, aku menemukan Rendra
yang sedang dijemur matahari
meski sudah terkoyak aku tetap memburunya
"Inilah yang aku cari-cari dalam seminggu ini,
akhirnya aku menemukan" kataku pada
penjual buku loakan di pinggir jalan siang itu.


Sajak Seorang Ayah

Kasihan ayahku di usianya yang sudah senja
sekalipun ia belum pernah mencium bau asin laut
juga belum pernah mengunyah renyah paha
dan menjilat kenyal dada fried chicken di KFC
juga belum pernah merasakan dinginnya mal
dalam hidupnya alpa perihal kemewahan.
Kasihan ayahku saat rambutnya berwarna perak
kumis dan jenggotnya lebat seperti rumput belum dibabat
belum pernah ia naik motor sendiri, bukan tak bisa
melainkan hanya sepeda tua peninggalan zama Belanda
yang dipunyainya.
Kasihan ayahku saat umurnya tinggal menghitung
bulan sebentar lagi menyamai usia nabi akhir zaman
tabungan untuk naik haji selalu habis dikikis
ditukar dengan berass segantang setiap anaknya lapar
dibongkar kalau tagihan listrik, iuran sekolah, utang
istrinya di warung yang menggunung belum dibayarkan.
Kasihan ayahku. Panas kepanasan, hujan kehujanan
sungkem sembah wangi tabur doa untukmu di kubu-
ran ayah


Sajak Penyair

: Hasan Aspahani

Hanya ada dalam bair sajak penyair
untuk membunuh seseorang yang
dicintainya ia harus menikam
jantungnya sendiri.

Hanya ada dalam bait sajak penyair
untuk merasakan kesedihan kekasihnya
ia harus mengganti kepalanya sendiri
dengan kepala kekasihnya.

Hanya ada dalam bait saajak penyair
benda-benda mati mendadak bisa
bicara, bercerita, bercinta dan
saling membunuh dengan kata-kata

Hanya ada dalam baik sajak penyair
kopi di depa matanya terasa fiksi
yang nyata adalahh wajah kekasihnya
yang sudah lama mati.

Hanya ada dalam menulis baik sajak
penyair memunguti kata-kata sambil
menjaga malam yang tak pernah
terpejam.

"Sudah pagi rupanya, kata-kata
belum juga mendengkur" katanya


Bangunlah Nak

Bangunlah Nak, matahari sudah bertahta di atas kepala
hujan semalam tinggal beceknya saja di jalan-jalan
ayam jago juga sudah pulang mungkin sudah kenyang
makan dan mengawani ayam betina milik tetangga.
Bangunlah Nak, kemerdekaan bangsa kita tidak direbut
dari igauan di atas ranjang, juga bukan turun dari rembulan.
kau tak tahu ada yang melulu terampas dariu
ia bernama waktu.

Jakarta, 2017



Rujukan:
[1] Disalin dari karya Arian Pangestu
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi 10 April 2017

0 Response to "Drupadi - Pagi yang Ramah - Menemukan Rendra - Sajak Seorang Ayah - Sajak Penyair - Bangunlah Nak"