Dua Cerita dari Si Tuan Pengen Tahu Kepada si Tuan Resep | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Dua Cerita dari Si Tuan Pengen Tahu Kepada si Tuan Resep Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 18:39 Rating: 4,5

Dua Cerita dari Si Tuan Pengen Tahu Kepada si Tuan Resep

"HALO Kawan, apa kabarmu? Aku sih baik-baik saja. Semoga kau juga begitu. Berapa tahun kita tak jumpa. Barangkali sebelas atau tiga belas tahun. Tak pasti. Yang jelas, sejak perpisahan itu, kita seperti mencari jalan sendiri-sendiri. Kau ke utara. Aku ke selatan. Kau ingin mendalami ilmu masak-memasak. Aku menekuni ilmu ramal-meramal. Dan kabarnya, kau kini telah berhasil jadi juru masak yang top. Sekaliber master ya? Hmm, betapa hebatnya dirimu. Ingin sekali aku mencicipi masakanmu itu. Yang kabarnya juga, penuh aroma rempah dan rasa yang menggigit. 

Sebaliknya, Kawan, aku justru gagal jadi tukang ramal. Meski itu tukang ramal sekaliber marmut. Sebab, ternyata, selama di selatan, aku tak ketemu guru peramal seorang pun. Yang aku temui justru guru-guru pencerita. Guru-guru yang melihat bunga tak sekadar bunga. Tapi bisa juga simbol gadis atau kelaraan. Jadinya, di selatan, aku pun tak sempat belajar ilmu ramal-meramal. Ilmu yang sejak kecil aku mimpikan. Sebab dengan ilmu itu, aku menganggap, akan gampang meramal kapan seseorang akan naik derajat. Dan kapan pula sebaliknya, nyungsep.

Kawan, lewat ini, aku kirimkan dua ceritaku padamu. Dua cerita hasil belajarku di selatan. Tapi dua cerita ini belum aku perlihatkan pada guru-guruku. Terus terang saja, aku malu. Sebab, merasa, dua ceritaku ini masihlah cerita-ceritaan. Belum cerita yang sejati. Cerita yang memang muncul dari lubuk yang terdalam. Dan cerita, (yang meski simbol), apabila berbeda dengan tingkah penulisnya, akan balik melawan. Tapi, ya, sudahlah, kita lupakan itu semua. Yang pasti, aku kirimkan dua ceritaku ini. Dua cerita yang mungkin akan membuatmu terkenang pada hal-hal yang pernah kita alami dulu. Sewaktu aku memanggilmu Si Tuan Resep. Dan kau memanggilku Si Tuan Pengen Tahu. Selamat membaca. Salam. 


Air Mata Warna-Warni 

APA arti sebuah cerita bagiku? Itu adalah pertanyaan yang aku pikirkan. Tetapi tak dapat aku jawab. Sebab, setiap ingin menjawab, aku selalu teringat pada masa kecilku. Sekitar tujuh tahunan. Pada masa ketika ada seorang ibu yang selalu membuntutiku ke mana saja. Apa itu di alun-alun, di kampung sebelah, atau bermain kelereng. Dan ibu itu, yang aku panggil dengan nama Mak Ca, adalah pengasuhku. Pengasuh yang meski tidak punya hubungan darah dengan keluargaku, tapi rasa sayangnya padaku tak terukur. Pengasuh, yang sebelum meninggal, masih sempat membelikan aku sebungkus nasi campur kesukaanku. Nasi campur dari warung pojok pecinan yang sangat terkenal dengan kelezatan acarnya.

Lewat Mak Ca, yang setiap malam, aku tidur di sisinya di kamar belakang, kerap mendengar sekian dongengnya. Ada Jaka Kendil, Pangeran Manuk, sampai pada dongeng yang aku pesan sendiri. Anehnya, di antara keremangan lampu, dan di antara suaranya yang pelan itu, aku seperti membayangkan sesuatu yang luar biasa. Sesuatu yang terus aku bawa sampai kini. Yaitu, sebuah dunia yang gampang untuk diluweskan Dalam arti, mungkin kali ini cerita tokoh A kalah. Tapi besoknya malah menang. Dan ada obat sakti yang mampu menjadikan si buruk rupa jadi tampan, dst, dst, dst. Jadinya, segalanya pun bisa terjadi, atau gagal sama sekali. Atau malah akan ada tokoh lain yang nyelonong.

Dan suatu hari, ketika Mak Ca diminta ayahku ke Surabaya, aku diajak serta. Kami berdua naik oplet yang berwarna hijau. Ongkosnya masih sekitar 25 rupiah. Sesampai di Surabaya (tepatnya di daerah Praban), aku melihat sebuah toko komik. Komik-komik yang dipajang begitu banyak. Kover-kovernya pun menyala dan bagus-bagus. Oleh Mak Ca, aku dibelikan dua buah komik. Harganya per komik 125 rupiah. Jika tak salah, komik itu bercerita tentang sekuel Labah-Labah Merah karya Kus Bram. Dan di sekuel itu, aku bisa melihat gambar-gambar yang menggetarkan. Gambar-gambar tentang kefantastisan sebuah perjuangan, misalnya: perjuangan Labah-Labah Merah melawan Manusia Kadal, atau Labah-Labah Merah melawan Manusia Kelelawar.

Nah, atas dua pengalaman masa kecil itu (dongeng Mak Ca dan komik), maka aku pun (mungkin) dapat menulis cerita. Dan karena, apa-apa yang aku rasakan sejak kecil adalah sebuah cerita yang gampang diluweskan, juga menggetarkan, dan fantastis, maka jangan heran jika di hampir semua cerita yang aku tulis pun begitu. Yang kata teman-teman (yang setelah membacanya), tak masuk akal, semau gue, dan jungkir-balik. Ha ha ha, aku cuma tersenyum mendengarnya. Yang jelas, ketika kata pertama aku pilih, maka cerita yang akan aku rajut, adalah cerita yang tak bisa aku bohongi. Seperti cermin yang menegak di hadapanku. Selalu menampilkan balik apa-apa yang ada di diriku. Apakah itu yang kelihatan nyata. Atau yang tersembunyi di lipatan diri yang paling dalam.

Akhirnya, sekali lagi, izinkan aku mengingat Mak Ca. Terutama pada kalimat yang pernah diucapkannya ketika sakit keras, bahwa dia tak mau meninggal. Sebelum melihat aku menikah dan punya anak. Dan memang, apa yang dikatakan itu terwujud. Mak Ca pun sembuh dari sakitnya. Dan sekian puluh tahun kemudian, setelah aku menikah dan punya anak pertama, barulah Mak Ca meninggal. Meninggal dengan masih sempat membelikan sebungkus nasi campur kesukaanku. Nasi campur yang dalam tatapanku saat itu, seperti sebungkus dunia yang gaib. Yang ketika aku buka, pun berlompatan apa-apa yang ada di dalamnya. Apa-apa yang tak pernah bisa tamat. Dan apa-apa yang membuatku cuma bisa menangis. Tangisan yang berair mata warna-warni.


Kau Mendirikan Rumah

KAU mendirikan rumah. Aku mendirikan rumah. Rumahmu dan rumahku berhadapan. Seperti sepasang kekasih yang saling menatap. Dan sesekali merajuk dan melengos. Lumrah. Pintu dan jendela rumahmu terbuka. Begitu juga pintu dan jendela rumahku. Dan dari sana aku kerap mengintip dirimu? Apa kau memasak, membaca, atau memasang foto? Sayangnya tak jelas.

Dan pernah di suatu pagi rumahmu terkunci. Lampunya mati sejak malam. Guguran daun dan sampah bertebaran. Kenapa tak kau sapu? Rasa cemasku menebal. Aku, ya, aku, begitu liar menggambarkan setiap depa dirimu. Dirimu yang diam-diam ingin aku masukkan ke kotak kaca. Aku pajang di beranda rumahku. Lampunya aku biarkan kedap-kedip.

Dan aku memutarinya sambil menebak. Tentang waktu mendatang. Waktu aku sudah tua. Dan gagal menulis hikayat kenangan. Kenangan tentang kita. Juga tentang rumahmu dan rumahku. Yang kerap membuat aku menceburkan kepala sendiri ke bak mandi. Agar dapat melepaskan semua hal yang ada tentangnya. Sebab nanti, pastilah, akan ada yang menjadi perhitungan yang tak meleset.

Perhitungan yang tak meleset? Perhitungan apa ini? Kata orang, itulah yang kelak akan menghadang kita di hari pembalasan. Sekaligus menguak sendi yang ada di diri kita. Terus ditanya: "Apa tanganmu pernah mencuri. Apa matamu pernah berbohong. Apa kakimu pernah menginnjak. Apa dagingmu pernah beracun. Apa lidahmu pernah bermain?" Sampai habis. Sampai kita tinggal nama. Nama yang sebenarnya.

"Tapi, siapa namamu yang sebenarnya?" Dan itu pernah aku tanyakan padamu. Yang saat itu aku lihat sedang sibuk di genting rumahmu. Kau menyahut. Tapi tak jelas. Menyahut lagi. Tak jelas lagi. Lalu kau melengos. Meneruskan kesibukanmu. Aku merajuk sekaligus menggeleng. Waktu itu, aku melihat ada selengkung pelangi mengitari badanmu. Pelangi yang menyala. Pelangi yang lentur. Yang bergerak secergas ular.

Kadang menegak. Lalu menjulur. Terus membebat. Menegak lagi. Menjulur lagi. Membebat lagi. Dan kembali melengkung seperti sediakala. Tapi kau tetap saja sibuk. Seperti tak merasa apa-apa. Malamnya, dari buku peninggalan kakekku, aku membaca, bahwa jika ada orang (laki-laki atau wanita), yang badannya dikitari selengkung pelangi, pertanda orang itu adalah insan dari sorga.

Astaga! Apakah kau memang insan dari sorga? Aku tak berani menjawab. Aku hanya menyimpan pertanyaan itu di dalam dada. Dan di dada itu, biarlah berdenyut. Seperti denyut si makhluk lembut. Ia makhluk lembut yang hidupnya cuma menunggu. Menunggu kedatangan si ksatria yang dipuja. Yang akan menciumnya. Terus membawanya ke negeri yang terimpikan. Aneh.

Dan keanehan pun memuncak. Ketika di suatu malam, aku melihat sebelas bayangan hitam bergentayangan di atas rumahmu. Sebelas bayangan hitam bersayap dan bersenjata lengkap.

"Ini rumahnya?"

"Benar."

"Yang telah menewaskan teman kita?"

"Benar."

"Ayo, kita libas!"

Dan menyerbulah sebelas bayangan hitam itu ke dalam rumahmu. Menyerbu dengan gesit dan terlatih. Suara letusan, teriakan, dan tubuh jatuh bersilangan. Aku ingin keluar dan membantumu. Tapi, kakiku terasa kaku.

Sejurus kemudian, aku melihat sebelas gumpalan api melesat dari rumahmu. Melesat dengan teriakan panjang. Terus ke langit-langit. Dan meledak jadi sebelas bintang yang baru. Dan aku gemetar. Aku tak yakin dengan yang aku lihat. Tapi sebelas bintang yang baru itu demikian terang. Pasti jika ada peneropong yang melihatnya, segera mencatat sebagai temuan bintang baru yang mendebarkan.

Lalu, paginya, aku melihatmu kembali menyapu halaman rumahmu. Kali ini, rasanya gerakan tanganmu demikian enteng. Dan juga baru aku tahu, jika kakimu tak lagi menjejak. Tapi mengambang. Mengambang sejengkal di atas tanah. Tak ada keringat. Tak ada bayangan dari badanmu. Semuanya tampak indah.

Sampai kemudian kau melirik padaku. Lirikan yang bukan milik laki-laki atau wanita. Tapi tetap saja membuat aku terpesona. Apalagi, selangkung pelangi yang mengitari badanmu tetap lentur Dan tetap bergerak secergas ular. Dan, akh, tiba-tiba selengkung pelangimu itu melesat ke arahku. Aku tergeragap. Tapi terlambat. Aku dibebat olehnya. Dibebat sampai megap-megap. Dan rasanya aku masuk ke kedalaman. Kedalaman warna-warni. Dan aku tak tahu lagi, apakah aku masih berbentuk, atau sudah terurai?

Yang pasti, aku merasa tak lagi ingin apa-apa. Dan semua yang aku pegang pun ingin dilepas. Lepas, lepas, lepas. Dan aku yakin: "Dengan terlepasnya semua yang terpegang, aku pasti akan kembali ke sediakala. Untuk kemudian menceburkan kepala sendiri ke bak mandi." Hmm, hari berlalu. Minggu pun berganti. Dan ternyata kita tetap seperti biasa. Dan rumahmu tetap di tempatnya. Rumahku juga begitu. Berhadapan. Seperti sepasang kekasih yang saling tatap. Yang sesekali merajuk dan melengos. Lumrah. (*)

(Gresik, 2017)



Mardi Luhung lahir di Gresik, 5 Maret 1965. Lulusan Fakultas Sastra Jurusaan Sastra Indonesia Universitas Jember. Puisinya tersebar di berbagai media. Tahun 2010 mendapatkan anugerah Khatulistiwaa Literary Award. Buku cerpen pertamanya: Aku Jatuh Cinta Lagi pada Istriku (2011)




Rujukan:
[1] Disalin dari karya Mardi Luhung
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" edisi 22-23 April 2017

0 Response to "Dua Cerita dari Si Tuan Pengen Tahu Kepada si Tuan Resep "