Duwet | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Duwet Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 16:00 Rating: 4,5

Duwet

MBAH Marto segera bangkit ketika mendengar Reni mengidam duwet. Pujek yang duduk tidak jauh dari Mbah Marto kembali membaca keras-keras WhatsApp dari Bowo. 

“Jek, Reni mengidam buah duwet. Sebelum kau ke sini, bila sempat tolong cari dan bawakan sedikit saja.”

“Reni dan suaminya sedang di Yogyakarta?” tanya Ahmad. 

“Ada urusan apa?”

“Bowo masuk Sardjito, Mad. Di Brebes tidak ada rumah sakit mumpuni, sehingga mereka berobat untuk mengatasi radang saluran pernapasan di sini.” jawab Pujek. “Barusan saja aku dikabari Lik Gimin, orang-orang akan menjenguk ke rumah sakit.”

“Lalu, duwet itu?”

“Aku mengabari Bowo lewat WA, aku akan turut menjenguk bersama orang-orang. Ia lalu berpesan, bila sempat tolong carikan duwet karena istrinya mengidam.”

“Ngomong-ngomong, ke mana kau akan mencari buah duwet?“ tanya Ahmad. 

”Tanaman langka, tentu akan sulit mendapatkannya.“

“Aku juga tidak tahu.” 

Pujek bangkit dari lincak, menyambar helm dan segera menyalakan motor. 

“Kau ikut aku, Mad. Kita cari di pasar atau di ladang milik tetangga. Siapa tahu masih ada yang punya dan sedang berbuah.“

“Lagian aneh, biasanya orang sakit dibawakan buah tangan jeruk atau apel. Baru kali ini ada orang ke rumah sakit dengan membawa duwet,” kata Ahmad yang segera menyusul dan turut membonceng Pujek.

Mendengar percakapan antara dua pemuda itu, Mbah Marto teringat lagi tujuannya. Laki-laki tua itu segera menuntun sepeda keluar dari halaman rumah. Begitu sampai di jalan, dikendarainya perlahan. Dikayuh dengan tenaga seadanya. Bagi orang tua sepertinya, tak usah mengebut dalam berkendara. Tenang-tenang saja yang penting sampai tempat tujuan. Alon-alon asal kelakon.

Seperti halnya guyonan Sprite Jawa untuk sebutan air putih, maka buah duwet juga kerap disebut sebagai anggur jawa. Buah bulat setengah lonjong tersebut memang memiliki warna kulit seperti anggur. Reni kecil sangat menyukainya. Bocah perempuan itu kerap merengek minta dicarikan ketika bertandang ke desa saat liburan sekolah.

“Mbah, Reni mau duwet!”

Serta merta, demi cucu tersayang, Mbah Marto segera mengumpulkan buah duwet dari tegalan belakang. Buah ungu gelap setengah lonjong berukuran sebesar jempol tangan orang dewasa dicuci. Reni dengan semangat mencocol buah ke sejumput garam, kemudian menghabiskannya sendirian. Rasanya enak; manis agak sepat dan sedikit asin. Saat meringis, mulut dan juga gigi bocah itu terlihat berwarna ungu.

Buah duwet sekarang memang susah dicari. Barangkali Pujek dan Ahmad tak akan berhasil mendapatkanya. Tapi, tidak bagi Mbah Marto. Ia tahu di mana menemukan sebatang pohon duwet untuk diambil buahnya dan dibawa untuk mengobati rasa kangen Reni.

Sepeda Mbah Marto membelok ke sebuah ladang terlantar di pinggir desa yang sepi. Tak lama sebungkus tas plastik penuh duwet dicantolkan setang. Laki-laki sepuh tersebut pergi ke rumah sakit masih dengan naik sepeda.

Begitu tiba di bagian informasi, Mbah Marto melihat Pujek dan Ahmad dan beberapa pembesuk lain menuju bangsal Dahlia 5. Laki-laki itu turut menyusul di belakang dengan membawa sebungkus duwet. Karena terlalu ramai dan tak boleh mengganggu kenyamanan pasien lain, pembesuk tak diizinkan semuanya masuk menjenguk. Sebagian boleh bertandang ke kamar, sementara sebagian yang lain menunggu di luar.

Mbah Marto berhasil masuk menyusuri lorong tanpa ketahuan perawat yang sedang bertugas. Ia berdiri menunggu di depan pintu kamar.

“Sori, Ren,” kata Pujek. “Aku dan Ahmad tidak berhasil menemukan duwet.”

Wajah manis perempuan yang sedang hamil itu cemberut. “Ya, sudah deh tidak apa-apa.”

“Lagian kamu, Ren, mengidam kok buah langka,” komentar Ahmad.
“Itu buah kesukaanku!” jelas Reni. 

“Seumpama Simbah masih sugeng—masih ada, aku pasti….” Perkataan Reni berhenti. Sigap kepalanya menengok ke arah luar pintu kamar. “Simbah!” pekiknya.

Orang-orang di dalam kamar menoleh serentak. Reni bergegas keluar kamar. Di lorong, ia tak melihat ada siapa-siapa di sana. Hanya seorang perawat berseragam putih lewat sambil menggeledek tiang infus. Setelah memastikan benar-benar, Reni kembali ke kamar dengan muka murung.

“Aku tadi seperti melihat Simbah,” isaknya lirih. “Berdiri di depan pintu kamar dengan membawa sekantong plastik buah duwet.”

Pujek dan Ahmad dan beberapa pembesuk lain saling berpandangan.

“Mbah Marto, simbahmu, kan sudah meninggal belasan tahun yang lalu, Sayang.” Bowo suaminya menenangkan. Ia tahu betul, Reni sangat sayang dan dekat dengan simbahnya. 

“Besok, bila sudah diizinkan pulang oleh dokter, sebelum kembali ke Brebes kita mampir sebentar untuk berziarah ke makam beliau. Ya?”

Reni mengangguk..

Sementara itu, Mbah Marto masih berdiri di depan pintu kamar. Menunggu Reni kembali keluar dan menyambut seplastik duwet yang dibawanya. Laki-laki sepuh itu mengira pandangan Reni minus sehingga tak mampu menyadari kehadirannya. Barusan cucunya kembali masuk kamar mestinya untuk mengambil kacamata.

Mbah Marto terus menunggu.  (e)


Desi Puspitasari, penulis novel Jogja Jelang Senja (2016), Alang (2016). Novel terbarunya berjudul Membunuh Cupid (2017). Novel lebih baru lagi yang hendak terbit berjudul Mimpi Kecil Tita.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Desi Puspitasari
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi 9 April 2017

0 Response to "Duwet "