Hari Kesepuluh Bulan Kesembilan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Hari Kesepuluh Bulan Kesembilan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:27 Rating: 4,5

Hari Kesepuluh Bulan Kesembilan

DI KOTA KYOTO, seorang lelaki samurai yang telah jatuh miskin, karena majikannya bangkrut, terpaksa meninggalkan rumahnya. Kemudian ia mengabdikan diri kepada seorang pejabat gubernur di suatu provinsi yang jauh dari rumahnya. Sebelum meninggalkan kotanya, lelaki samurai ini lebih dulu menceraikan istrinya—seorang wanita yang cantik dan baik hati—karena percaya ia akan mengalami nasib yang lebih baik di tempat majikan yang lain. Kemudian ia memperistri seorang gadis dari kalangan keluarga terpandang, dan ia memboyong istrinya ke tempat ia mendapat panggilan kerja.

Karena sikapnya sebagai orang muda yang kurang pertimbangan, dan pengalaman pahitnya hidup dalam kemiskinan, lelaki samurai ini tidak dapat memahami makna kasih sayang sehingga begitu saja mengabaikannya. Pernikahannya yang kedua ternyata tidak bahagia; istrinya yang baru itu berwatak kasar dan mementingkan diri sendiri.

Dengan perasaan sedih ia mengenang kehidupan sehari-hari di Kyoto. Ia tidak ingkar bahwa sebenarnya ia masih cinta kepada istrinya yang pertama, bahkan ia lebih cinta kepadanya daripada kepada istrinya yang kedua.

Ia merasa telah berbuat tidak adil dan tidak berterima kasih. Lama-lama penyesalannya berubah menjadi suatu penderitaan sehingga tidak ada kedamaian dalam hatinya.

Kenangan-kenangan dengan wanita yang telah dikecewakannya—tutur katanya yang lembut, senyumnya, kecantikannya, dan kesabarannya yang tulus—selalu membayanginya. Kadang-kadang dalam mimpi-mimpinya ia melihat mantan istrinya bersanding dengan alat tenun; istrinya sedang asyik menenun seperti pada saat ia bekerja keras siang malam untuk membantunya selama mereka menghadapi masa-masa yang sulit.

Sering kali ia melihatnya sedang berlutut sendirian di kamar yang sempit dan sunyi di mana ia telah meninggalkannya; ia sedang mengusap air matanya dengan lengan bajunya yang kumal. Bahkan pada jam-jam kerja, angan-angannya kembali melayang kepada mantan istrinya, sampai ia bertanya kepada dirinya sendiri bagaimana kehidupan istrinya sekarang dan apa yang sedang ia lakukan. 

Satu hal yang meneguhkan pendiriannya adalah bahwa tidak mungkin istrinya menerima seorang pria yang lain, dan bahwa tidak akan pernah istrinya menolak memaafkan kesalahannya. Dan dengan diam-diam ia memutuskan untuk mencarinya, segera setelah ia kembali ke Kyoto, lalu meminta maaf kepadanya, menerimanya kembali dan melakukan sesuatu yang layak dilakukan seorang pria untuk menebus kesalahannya. Tetapi waktu terus berlalu begitu saja.


AKHIRNYA masa jabatan gubernur habis, dan lelaki samurai ini juga bebas tugas. “Sekarang aku akan kembali kepada istriku tercinta,” janjinya kepada dirinya sendiri. “Oh, betapa kejam, betapa bodoh aku telah menceraikannya!”

Ia memulangkan istrinya yang kedua kepada kedua orang tuanya (istri keduanya ini belum memberinya seorang anak); selanjutnya ia cepat-cepat pergi ke Kyoto, langsung ia pergi mencari mantan istrinya, bahkan ia tidak sempat berganti pakaian perjalanannya.

Ketika ia sampai di jalan dekat rumah tempat mantan istrinya dulu tinggal, malam sudah agak larut. Saat itu adalah malam di hari kesepuluh bulan kesembilan. Suasana kota malam itu sunyi bak sebuah pekuburan. Tetapi cahaya rembulan yang kemilau membuat keadaan sekitarnya kasatmata; dan akhirnya ia berhasil menemukan rumah tujuannya tanpa mengalami kesulitan. Rumah tua itu tampak tak berpenghuni; atapnya penuh dengan tumbuhan rumput.

Ia mengetuk pintu, tetapi di dalam tidak ada jawaban. Kemudian, tahu bahwa pintu itu tidak terkunci dari dalam, ia mendorong kedua daun pintu dan pintu terbuka, lalu ia pun masuk. Ruang depan tidak beralas dan kosong: angin malam dingin berhembus melalui celah-celah pada papan, dan cahaya rembulan masuk melalui sebuah lubang kasar pada dinding kamar. Kamar-kamar lainnya menunjukkan kondisi yang menyedihkan.

Tampak semakin jelas rumah itu tidak berpenghuni. Akan tetapi, lelaki samurai itu tetap berniat memasuki satu kamar lainnya yang berada di ujung sana rumah itu—kamar sempit yang dulu menjadi kamar kesukaan istrinya untuk beristirahat.


KETIKA mendekati tirai yang menutup pintu kamar itu, ia terhenyak melihat seberkas terang di dalamnya. Ia menyibakkan tirai, dan teriak suka cita terucap oleh bibirnya. Ia melihat istrinya ada di situ; ia sedang menjahit tenun dengan penerangan sebuah lampu. Kedua mata istrinya seketika menatap pandangannya; dan dengan pandangannya dan sekilas senyum bahagia sang istri menyambutnya, sambil bertanya: “Kapan engkau pulang kembali ke Kyoto? Bagaimana engkau bisa menemukan aku di sini, melalui kamar-kamar yang gelap itu?”

Tahun-tahun berlalu tidak membuat istrinya berubah. Istrinya itu masih tampak secantik dan semuda seperti dalam kenangannya semasa ia masih bersamanya. Tetapi yang lebih indah dari setiap kenangan yang ada, terasa olehnya nada suara istrinya dengan getaran yang melegakan. 

Kemudian dengan suka cita ia berada di samping istrinya, dan ia mengatakan semua kepadanya: betapa ia sangat menyesali sifat dirinya, betapa ia telah merana tanpanya, betapa ia terus menyesal telah meninggalkannya, betapa lama ia telah menanti dan bermaksud menebus kesalahan. Sementara itu ia memeluk istrinya dan berkali-kali meminta maaf kepadanya.

Istrinya menjawab dengan kelembutan kasihnya, sesuai dengan keinginan hatinya. Istrinya memohon dengan sangat kepadanya supaya tidak menyalahkan diri sendiri. Tidaklah benar, kata istrinya, kalau ia harus menderita karena dirinya: sang istri selalu merasa bahwa dirinya tidak layak menjadi istrinya.
Bagaimanapun, sang istri maklum bahwa ia telah berpisah darinya hanya karena kemiskinan. Sang suami juga maklum bahwa ketika hidup berdua, ia selalu bersikap baik kepadanya, dan bahkan ia selalu berdoa bagi kebahagiaan suaminya. 

Meskipun ada alasan untuk berbicara soal menebus kesalahan, pertemuan yang indah itu sudahlah lebih dari cukup untuk menebus kesalahan. Bukankah kebahagiaan saat itu lebih dari sekadar bertemu, meskipun andaikata itu hanya sebentar!

“Hanya untuk sebentar!” jawab sang suami itu, sambil tertawa gembira, “Lebih baik engkau katakan untuk selama tujuh keturunan! Istriku sayang, kecuali jika engkau tidak mau, aku pulang kembali untuk hidup bersamamu selalu, selalu, dan selalu! Tak ada yang akan memisahkan kita lagi. Sekarang aku punya harta dan banyak kawan: kita tidak perlu takut miskin. Besok harta bendaku akan dibawa ke sini; dan beberapa pembantuku akan menemanimu; dan kita akan menjadikan rumah ini indah …. Malam ini,” tambahnya menghibur, “Aku datang begitu terlambat, bahkan tidak sempat berganti pakaian, hanya karena kerinduanku untuk bertemu denganmu, dan mengatakan semua ini kepadamu.”

Sang istri tampak sangat lega dengan kata-kata ini; pada gilirannya ia bercerita kepada suaminya semua yang telah terjadi di Kyoto sejak kepergiannya. Satu hal yang tak ia ceritakan, yaitu kesedihannya. Dengan lembut ia menolak bercerita tentang kesedihannya itu.

Mereka bercengkerama hingga jauh tengah malam. Selanjutnya wanita itu mengajak suaminya menuju ke sebuah kamar yang lebih hangat, sebuah kamar menghadap ke selatan. Kamar itu dulu menjadi kamar pengantin mereka.

“Apakah kau tidak punya pembantu di rumah ini?” tanya sang suami, sementara sang istri menyiapkan tempat tidur untuknya.

“Tidak,” jawabnya, sembari tertawa renyah. “Aku tidak mampu menggaji pembantu. Jadi aku tinggal sendirian di rumah ini.”

“Mulai besok kau akan punya banyak pembantu,” kata sang suami, “Mereka orang baik-baik—dan semua yang kau perlukan.”

Suami istri itu merebahkan badan untuk beristirahat, tetapi bukan untuk tidur. Keduanya punya banyak pengalaman yang dapat mereka ceritakan. Mereka bercerita tentang masa lalu, masa kini dan masa depan, sejak malam sampai fajar merekah. Akhirnya sang suami memejamkan mata begitu saja, dan tertidur.

KETIKA lelaki samurai itu terbangun, sinar matahari pagi masuk melalui celah-celah daun pintu. Dalam keheranannya, ia sadar bahwa dirinya berada di lantai beralaskan bilah-bilah papan kayu yang sudah lapuk …. Apakah ia hanya bermimpi? Tidak. Istrinya berada di sampingnya. Ia masih tetap tidur ….

Lelaki itu membungkuk menatap istrinya; ia berteriak terkejut, sebab orang yang masih tidur itu tidak punya wajah …! Di depannya terbaring mayat seorang wanita, tertutup sehelai kain kafan. Mayat wanita itu tinggal tulang belulang dan rambut hitam panjang terurai kusut. 

Ketika ia keluar dari rumah itu, gemetar menatap sinar matahari pagi, perasaan takut yang mencekamnya berubah menjadi rasa kecewa yang tak tertahankan. Ia benar-benar diejek dan dipermainkan oleh bayang-bayang keraguan. Kemudian berpura-pura tidak mengenal tetangga sekitar, ia memberanikan diri menanyakan jalan yang menuju rumah tempat tinggal mantan istrinya.

“Tidak seorang pun tinggal di rumah itu,” jawab seseorang yang ditanya. “Dulu rumah itu milik istri seorang samurai yang meninggalkan kota beberapa tahun lalu. Sebelum pergi, lelaki samurai itu menceraikan istrinya supaya ia dapat menikah dengan wanita lain. Sejak ia diceraikan oleh suaminya, wanita itu sangat menderita, bahkan ia jatuh sakit. Istri samurai itu tidak punya sanak saudara di Kyoto, dan tak seorang pun memperhatikannya. Akhirnya ia meninggal pada musim gugur tahun itu juga, pada hari kesepuluh bulan kesembilan ….”[]


Catatan:
Judul Asli: Reconciliation 
Alih Bahasa oleh: Nurlaela Fatimah


Lafcadio Hearn (1850-1904) adalah penulis kelahiran Yunani dari ayah seorang Inggris dan ibu berdarah Yunani. Setelah tinggal di berbagai belahan dunia, antara lain Irlandia dan Amerika, ia menetap di Jepang dan menikahi wanita setempat. Kemudian, ia banyak menulis tentang suasana kehidupan di Jepang, antara lain diterbitkan sebagai A Japanese Miscellany (1901) dan Kwaidan (1904). Ia meninggal karena serangan jantung pada usia 54 tahun.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Lafcadio Hearn 
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Majalah Femina" edisi Femina No. 17/XXXI 24 – 30 April 2003

0 Response to "Hari Kesepuluh Bulan Kesembilan"