Instalasi Sajak | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Instalasi Sajak Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:00 Rating: 4,5

Instalasi Sajak

Tolong masukkan beberapa butir es batu 
ke dalam sajakku yang ini! 

airmata yang dibekukan 
berisi asin garam 
lahir dari akar pada lamunan 
di sebuah ruang tunggu 

bisu. 

biar kesunyian tetap segar 
                  tegap nan tegar 

setiap dinikmati pembaca yang tak 
sengaja menengok selintas-selintas. 

jatuhkan irisan lemon 
buat teman mengambang kata-kata 
sekadar mengusir 
aroma anyir makna. 

setelah lalat-lalat dosa 
mengerubungi penggalan kata jadi 
tak terbaca 
alias sia-sia. 

sedikit gula akan memaniskan 
perih yang larut di tiap pahit baitnya. 

ke dalam aku 
kau memerah sesuatu – bunyi 
angin yang menabrak lembut kain. 

cakrawala yang ditambal 
oleh cahaya lampu menjelang 
ajal sore. 

langit memang arsip berdebu 
dan sepatu bintang atau bulan 
berkali-kali terantuk di sana. 

kerumunan kelelawar lewat 
matanya seperti sangkur serdadu 
terasah dalam jantung musuh. 

perlu tisu untuk melap 
air liur pada tipografi 
yang bebas meluncur. 

kawanan tanda seru 
memarkir banyak tabiat 
di pikiran yang tak keruan. 

jangan lecut huruf-huruf 
di dalam antrian menyusun 
lagi nama-nama benda! 

gelas tempat sajak 
tertampung sudah penuh 
dengan kemampuan 
mendahagakan rupa. 

warna bening disangka 
tak berisi apa-apa. 

penyair hanya ruang 
pameran lain, tiket kosong 
yang tak mengantar siapa-siapa 
tak juga ke mana-mana. 

keramaian hanyalah 
opera dari serangga kecil 
yang suaranya mengingatkan 
pada kertas di mana sajak itu 
ditulis lalu terbakar. 

jam atau detak runtuh 
ke lubang yang sama 
gaya yang itu-itu juga 
daya-tarik yang membutakan 
pena. 

tidakkah seharusnya 
sajak ini sendiri, muak? 

karena tak ada 
yang bisa dilewatkannya 
selain garis setipis benang 
menyelematkan tafsir 
dari labirin berbagai 
cara membayangkan. 

Tolong masukkan beberapa butir es batu 
ke dalam sajakku yang ini!

ada kalanya
ia ingin menemani duduk
di sbeuah kafe, di mana
musik merdu mempermainkan cuaca
dari dalam maupun luar batin.

seandainya sajak ini
membubungkan asap
barangkali itu pintu masuk
yang dicari selama ini

kenal atau akrab
pada udara yang hampir
tak bisa dibedakan
pada gerimis yang keterlaluan


rembes atau menciptakan
dunia air, tapi malah
bukan menghapus sajak ini 
dari jagat jahanam

padahal di seluruh haus
akan tanda koma dan titik
selalu kita memisahkan
rangkul bunyi berbeda
selalu ada maksud
dari diri yang sok kuasa

kosakata, pakaian
dalam sajak ini
lusuh tak berharga
sembunyi-sembunyi
ke balik umpama
dipelihara demi
kenyamanan tertoreh
di tapal telinga
petak-umpet dalam
tata eja yang bisa dimurka

para perias tiba
berjejalan di awal pagi surga
sepuas diri mereka
membawa penuh upeti
setelah tandas-lunas
secangkir kopi di mulutnya
menyeru namanya sendiri
tapi syair serapuh itu
terus saja diulang-ulang lagi
disebut sajak lagi
dipaksa murni lagi
dibiarkan membuat berdecak lagi

yang tak pernah jadi tua
hanyalah berahi
jadi lebih berharga dituangkan
dalam berbagai gaya

cangkang biru
pada lebam memukul batang
sajak ini, telah pecah

darahnya hitam
tak dikenal, hanya menyuburkan
dendam terus-terusan

periode kebosanan
yang memaku tiang kepenyairan
hanyalah pelarian

estafet ketakutan
yang smabung-menyambung
merantai nama besar
asyik bergumul
di balik benteng puji-pujian

Tolong masukkan beberapa butir es batu
ke dalam sajakku yang ini!

tentu akan lebih kalem
dari selembar daun gugur

tentu akan lebih kristal
dari sepungguk embun meluncur

tentu akan lebih kunang-kunang
dari sebara kenang-mengenang

seandainya sajak ini
dilahirkan dan bisa bercermin
ia sendiri yang akan memutasi
bagian paling berkarat atas nama diksi
di tiap barisnya sendiri

2017


Mugya Syahreza Santosa lahir 3 Mei 1987 di Cianjur, Jawa Barat. Kini, ia tinggal di Bandung. Buku puisinya Hikayat pemanen Kentang (2011) dan novel popnya Memeluk Kehilangan (2016)



Rujukan:
[1] Disalin dari karya Mugya Syahreza Santosa
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" edisi Sabtu 1 April 2017

0 Response to "Instalasi Sajak"