Jalan Bukit Tidar - Aforisme - Hujan dalam Nada Sajak - Hutan - Suara | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Jalan Bukit Tidar - Aforisme - Hujan dalam Nada Sajak - Hutan - Suara Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 05:30 Rating: 4,5

Jalan Bukit Tidar - Aforisme - Hujan dalam Nada Sajak - Hutan - Suara

Jalan Bukit Tidar

Jalan ini seperti muka pintu
Setiap orang mengetuk dan membukanya
Juga seperti aquarium
Beragam ikan dan sirip-sirip yang tanggal
Tapi tak ada yang sejati tinggal seperti janji
Di jalan ini, mobil-mobil melesat cepat
Melewati tanda baca dan lampu merah yang darurat
Pada malam yang tumbuh dari kilau lampu-lampu
di sini aku tak menemukanmu
sebagai satu-satunya kesunyian yang tercatat
di baris-baris rubaiat.

Malang, 2017


Aforisme

Aku tak pernah benar-benar gila
Dan tersesat di ingatan sendiri
Mengecup duka-duka
Yang dilambaikan nama-nama
Kota dan kenangan

Aku tak pernah benar-benar gila
Dan menertawai diri sendiri dan dunia
Aku masih menangkis gaib nasib
Memilah macam peristiwa yang dikirim waktu

Oh, tuan, aku tak pernah benar-benar gila
Aku tak pernah benar-benar waras.

Kutub, 2017


Hujan dalam Nada Sajak

Hujan semalam
Nyaris semua terdiam
Bisik daun pada tangkai
Sisa arang yang sangsai

Entah pagi ini
Adakah suara lain pada rima puisi ini
Sampai matahari kuncup setengah duri
Hati berdegup setengah nyeri

Menunggu jawaban
Sampai tinta habis menulis ingatan
Dengan sedu sedan
Menampung harap di atas selembar daun pandan.

Kutub, 2017


Hutan

Aku tersesat ke dalam hutan
Ke dalam diriku yang sangsai
Cuaca mengerikan
Mengepung pandangku, aku terdesak
Sesak jiwa
Mengenang peta yang telah hilang

Dan aku mencium bau anyir pengkhianatan
Yang diramu hantu-hatu dan segerombolan setan
Aku tenggelam pada limbah darah
Dan busuk dendam
Hari-hari mengalir membentur usia
Sisa mimpi dan perjalanan

Ke dalam hutan, aku makin tersesat
Memasuki diri sendiri.


Kutub, 2017


Suara

Suaramu adalah tangga nada pada melodi
Membuka telinga dan mata riangku
Dari busuk masalalu. Setiap pagi ia membelai damai
Mengajari lentik jari melukis dunia yang indah,
Masadepan yang ah. Dan malam hari ia setia menunggui
kantuk
Pada mata, menjadi rahasia ranjang dan doa-doa.
Suaramu adalah muasal detak dalam diriku
Seluruh kenyataan alam semesta yang penuh damba.

Gowok, 2017


Anwar Noeris lahir di Sumenep, Madura. Mahasiswa Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini bergiat di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY). Dia menulis puisi, cerpen, dan esai budaya. (44)


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Anwar Noeris
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" Minggu 16 April 2017

0 Response to "Jalan Bukit Tidar - Aforisme - Hujan dalam Nada Sajak - Hutan - Suara"