Kami Telah Membunuh Anjing Itu | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kami Telah Membunuh Anjing Itu Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 17:08 Rating: 4,5

Kami Telah Membunuh Anjing Itu

KEMUNCULAN pertama kali si anjing hitam itu, benar-benar membuat kami kaget. Ia keluar dari mulut bapak. Gonggongannya sudah terdengar begitu ganas semenjak ia dilahirkan. Tiga tahun bapak mengandung binatang itu dalam mulutnya. Kata emak, tepatnya semenjak bapak kehilangan pekerjaan tetapnya di pabrik garmen, empat tahun silam. Saat itu beliau senang bergaul dengan dunia malam. Mungkin ada anjing jalanan yang berhasil menghamili mulut bapak. Setelah beberapa bulan-- bapak tak pernah menemani malam-malam kami di rumah, akhirnya lahirlah anjing itu dari dalam mulut bapak. Mungkin itu pulalah sebab mengapa bapak suka memuntahkan kalimat-kalimat tak sedap dari mulutnya.

"Apa kau masih ingin punya Bapak?" tolehku ke arah Ana ketika kami sama-sama terhipnotis sebuah pemandangan yang memanggil rasa iri. Anto dan Ani terlihat bermanja-manja dengan bapak mereka sepulangnya dari menonton taman hiburan keliling. Tangan mereka disibukkan aneka mainan yang pasti mereka beli dari sana.

"Tentu saja masih," jawab Ana, masih tak mau melepas pemandangan itu.

"Tapi nasib kita berbeda dengan Anto dan Ani."

"Karena anjing itu?" tanya Ana, yang seperti gumam.

Aku hanya diam. Menarik napas dalam-dalam.

"Apa Kakak punya cara untuk mengembalikan anjing itu ke keadaannya yang semula?" tanya Ana lagi. Sebuah pertanyaan yang selama ini juga tengah aku cari jawabannya.

Sejak saat itulah beragam rencana mulai berkecambah dalam benak kami.


***
ANA terlonjak dari tempat tidurnya begitu mendengar gonggongan yang amat riuh itu. Gonggongan yang disusul teriakan-teriakan emak di dapur: Meski sudah sering, tetap saja insiden seperti ini membuat kami terkejut.

"Apa sebaiknya kita bunuh saja, Kak? Aku sudah bosan. Kita takkan mungkin bisa nyaman seatap dengan anjing galak. Aku sudah enggak tahan." Ana berusaha kembali meyakinkanku melalui tatapan mata. Bahwa jalan ini bisa saja kami ambil sewaktu-waktu jika keadaan memang sudah di ambang batas kekuatan kami.

Aku pun segera gegas menuju dapur tempat sumber suara keributan itu. Dan ternyata memang benar bahwa pendengaran kami memang tidak keliru. Anjing itu bahkan ganti menoleh ke arahku dengan tatapan yang amat garang, ketika aku menghardiknya dengan segenap kata-kata kasar yang selama ini tertahan dalam mulutku.

"Dasar anjing tak punya muka! Memangnya siapa yang selama ini memelihara kamu?!"

Aku berbalik arah setelah tahu bahwa sepertinya anjing itu benar-benar marah kepadaku. Ana berteriak-teriak saat anjing itu menggereng dan sepertinya hendak menerkamnya. Lantaran sepertinya percuma saja melarikan diri, akhirnya aku pun membalikkan tubuh lagi.

"Dasar anjing buduk! Awas kalau kau apa-apakan Emakku!" tantangku, mengecilkan rasa takut.

Bisa aku temukan tatapan yang mengilatkan amarah itu. Setelah mengeluarkan gonggongan yang amat keras, makhluk itu pun berlari ke arahku.

Aku mengeraskan tubuh, bersiap menghadapi pertarungan yang pasti takkan seimbang. Ana bahkan sudah kalap teriak-teriak mengancam, meski sebenarnya itu percuma saja dan pastinya hanya akan memanggil suara-suara tetangga. Aku sudah yakin bahwa nasibku mungkin sudah akan berakhir di sini. Segala kenangan indah tiba-tiba menguap dari dalam kepalaku. Bapak yang sedang mencium pipiku ketika hendak berangkat kerja, bapak yang senang mengajakku ke pasar malam. Segala kenangan buruk tiba-tiba melimpah ruah menggantikannya. Bapak yang tiba-tiba jarang berangkat kerja dan suka marah-marah, bapak yang suka memukul dan merampas uang emak, dan terutama ketika bapak berubah menjadi makhluk yang menakutkan di mata kami.

Aku sudah bersiap menerima amarah makhluk itu ketika tiba-tiba entah bagaimana ia tergolek menggelosor ke lantai tanah. Darah segar mengalir dari punggungnya. Ia merintih. Anehnya, bukan lagi rintihan seekor anjing yang terdengar. Tapi rintihan bapak. Sementara di belakangnya, emak terlihat gemetar dengan sebatang pisau di genggaman tangan kanan.


***
DI pengadilan Ana selalu menangis ketika bu hakim bertanya dengan suara setengah membentak kepada emak. Ia tak mau mengeluarkan suara apa pun dan hanya menangis ketika beberapa orang mendekati dan membujuknya supaya memberi jawaban atas aneka pertanyaan yang mereka sisipkan dalam percakapan. Tidak dengan aku dan emak. Kami dengan teguh menjawab apa yang bisa kami jawab. Tanpa rasa takut. Bahwa kami memang membunuh anjing itu.

"Apakah suami Anda bekerja?" tanya bu hakim yang aku tahu pasti lagi-lagi pertanyaan jebakan.

"Iya, dulu ia seorang buruh pabrik. Tapi lantaran sering kena marah, ia tak betah dan akhirnya keluar tanpa pesangon. Ia tak mau memberi makan anjing, katanya. Ia sempat berganti-ganti pekerjaan sebelum akhirnya menjadi pengangguran total."

"Lantas, bagaimana bisa Anda bilang bahwa Anda telah membunuh anjing?"

"Apakah Bu Hakim ingin tahu bagaimana lelaki itu bisa berubah menjadi anjing?" selaku meradang pertanyaan yang dituduhan kepada emak. Rasa geram semakin menyesaki dada ketika perempuan itu menyuruhku diam.

Untunglah emak menceritakannya dengan detail. Bagaimana ketika anjing itu sering menggogong dan mengancam emak dengan taring-taringnya jika tak kebagian sekadar uang rokok atau suguhan segelas kopi. Orang-orang tetap tak memercayai cerita beliau. Bu hakim bahkan tetap tega menjatuhkan vonis. Padahal ketika aku dan Ana kembali pulang, semua foto lelaki itu benar-benar telah berubah menjadi anjing yang menakutkan. Kami pun sepakat membuangnya semua.


***
PAGI itu, ketika takbir Lebaran masih mengiang-ngiang di telingaku, Ana ikut-ikutan menangis ketika air mataku meleleh setelah mendengar cerita emak.

"Semalam Bapakmu datang. Dan ia tak lagi berwujud anjing. Ia bahkan terlihat sangat tampan sekali saat tersenyum . Meski kau tahu, Bapakmu memang tidak tampan."

"Emak jangan berbohong. Bukankah saat itu kita benar-benar telah membunuh anjing itu?" Aku berusaha menolak cerita emak. Betatapapun air mataku tak ingin.

"Sudahlah, Gun. Lupakan saja semua. Maafkan semua. Semalam, saat bertakbir, apakah kau tak membuang semua dendam dan kebencianmu?"

Aku yakin bahwa itu hanyalah efek lantaran emak sedang demam. Katanya emak memang sering sakit-sakitan saat tinggal di balik jeruji besi. Aku maklum, lantaran kondisi kamarnya yang memang sempit dan pengap. Kata emak, tidurnya hanya di atas kami, yang meski hanya di atas bablak, tapi tak terganggu dinginnya lantai. Kami juga belum pernah bisa mengirimi emak makanan yang enak-enak, lantaran soal makanan kami sendiri pun masih tak karuan.

Aku bahkan baru pertama kali mendapati senyum emak sejak lelakinya berubah menjadi anjing. Itu pun ketika jasad beliau akhirnya dipulangkan ke rumah kami. Sebuah keajaiban yang sangat ingin aku percaya, bahwa emak mati daalam keadaan bahagia. Asal tahu saja, saat anjing itu masih hidup, beliau mengaku tak pernah bahagia.

Kini, aku sedang berusaha membuktikan ucapan beliau. Benarkan melupakan dan memaafkan bisa mengubah segalanya? Kini, aku sedang berusaha mengumpulkan semua kenangan indah tentang lelaki itu. Lelaki yang pernah kupanggil bapak. Ketika ia masih berwujud manusia. 

Kalinyamatan Jepara, 2016


* Adi Zamzam (Nur Hadi):
tinggal di Desa Banyuputih RT/RW 11/03 No 79 Gg Masjid Baitush Shamad Kalinyamatan Jepara Jawa Tengah 59468 



Rujukan:
[1] Disalin dari karya Adi Zamzam
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi 23 April 2017

0 Response to "Kami Telah Membunuh Anjing Itu"