Kepergian Rima | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kepergian Rima Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 10:00 Rating: 4,5

Kepergian Rima

AYAH Rima terbaring lemah di ranjang. Ia batuk-batuk sejak tadi malam. Sakit paruparunya kambuh. Kata dokter, penyebabnya karena dulu Ayah perokok berat. Rima dan kakaknya sudah berusaha menyembuhkan Ayah. Obat-obatan tradisional dan obat-obatan dari apotek sudah ia konsumsi. Beberapa terapi pijat juga sudah dijalani. Namun, Ayah tak sembuh total. Kalau sudah kambuh, Rima tak tega melihat napasnya tersengalsengal. 

Ponsel Rima bergetar. “Ya, Bu?” sahut Rima sambil berdiri, lalu terdiam beberapa detik. “Saya tertarik. Tapi keputusannya dua hari lagi. Saya sedang membicarakannya dengan keluarga,” kata Rima sambil melirik Ayahnya. 

Saat Rima menutup telepon, Ayah memandanginya. “Sudahlah, Nak. Di Jakarta nasibmu akan lebih baik,” kata Ayah dengan suara terbata-bata. Saat Rima hendak menanggapi perkataan Ayahnya, kakaknya datang bersama anaknya. “Tante Rimaaa!” seru Vita, keponakan Rima yang masih berseragam TK, masuk kamar, lalu memeluknya. 

Rima mengelus-elus rambut Vita yang hitam dan panjang, lalu mengecup pipinya. “Gimana, tadi belajar nyanyi lagu apa?” 

“Naik Kereta Api, Tante. Kapan aku diajak naik kereta api?” 

“Ya, nanti kalau libur Tante ajak ya.” 

“Tantemu pasti akan ngajak naik kereta api. Dia udah janji,” kata Rasti, ibu Vita, yang tiba-tiba berada di depan pintu. “Sebelum dia pergi...” 

Rima menatap wajah kakaknya, lalu Ayahnya. Ketiganya terdiam. “Emang Tante mau ke mana?” tanya Vita. 

“Eh! Tante tadi beli bolu kesukaanmu lho!” kata Rima, mengalihkan pembicaraan. “Ini,” kata Rima sambil mengangkat plastik bening berisi kue, “Vita dan Kakek kan suka kue ini!” 

“Horeee!” kata Vita sambil mendekati Rima, mengambil kue bolu itu, lalu beranjak ke luar kamar. 

Ayah, Rasti, dan Rima berpandangan. “Aku masih bingung, Kak. Masih ada waktu untuk memutuskan. Senin mereka menunggu.” Hari itu Sabtu, Rima tidak mengajar. Dua hari pada masa lalu terasa begitu enteng, namun saat itu... begitu meresahkan! 

“Kami semua,” kata Ayah terbata-bata, “akan baik-baik aja di sini. Sudahlah, pergilah, demi masa depanmu.” 

Rima mendesah panjang, memaksakan senyum untuk Ayah dan Rasti. 


*** 
MINGGU pagi di taman kota, Rima berlari-lari kecil, memandangi bunga-bunga bermekaran. Ia teringat Donny, pria yang dulu pernah membelikannya kemeja oranye, sehari sebelum ia mengajar pada hari pertama. Awalnya ia tidak yakin kemeja itu cocok untuknya. Warnanya terlalu menyala. 

Namun, Rima tak pernah lupa, saat masuk halaman sekolah, satpam yang berada di dekat gerbang tersenyum lebar menyambutnya, menjabat tangannya. Satpam yang baru dikenalnya itu mengucapkan kata-kata yang membuat hatinya seketika damai, “Penampilan Ibu hari ini beda banget. Benar-benar kayak guru!” 

Saat ia masuk ke dalam gedung, ibu Kepala Sekolah yang sedang membawa beberapa lembar kertas di tangan sambil mengecek sesuatu di depan pintu sebuah kelas menurunkan kacamatanya ketika menoleh ke arah Rima. “Jeng Rima,” katanya sambil tersenyum lebar, “hari ini manis banget lho! Kemejanya bagus, serasi dengan warna kulitmu!” 

Malamnya, Rima menelepon Donny, mengajaknya makan malam. Ia menceritakan pujian yang diterimanya. Donny sering tersenyum, tak banyak bicara, sesekali telapak tangannya mengelus punggung tangan Rima. Saat meninggalkan rumah makan, ia berbisik lembut, “Kamu yang termanis, Rima. Aku sayang kamu.” Pada malam bertabur bintang, Rima memeluk pinggang Donny erat-erat saat ia dibonceng. Sepeda motor melaju, namun Rima tak ingin malam itu berlalu. 

Donny yang bekerja di perusahaan alatalat berat dipindahkan ke Sulawesi oleh atasannya, sebulan setelah malam itu. Dan, kira-kira empat bulan sejak malam itu, Rima mendapat kabar, Donny bertunangan dengan wanita lain. Kepergian Donny dari hidupnya kadang membuat Rima juga ingin pergi, meninggalkan kota Malang. Mungkin di luar kota, ada harapan baru, juga cinta yang baru. 

Tangkai bunga itu patah, mahkotanya berhamburan. Rima nyaris tak sadar telah meremas-remas bunga itu. Rima duduk di bangku taman, membayangkan Jakarta, kota yang menantinya dengan sejuta harapan. Di sana, sebuah sekolah bertaraf internasional menunggunya. Ia akan digaji tiga kali lipat dari yang ia terima sekarang. 

Namun, hati siapa yang tak tergoda dengan uang? 
Memang, Rima tak pernah kekurangan, bahkan masih bisa menabung walaupun sedikit. Ayah masih menerima pensiun. Rima dan Rasti kadang bergantian membuat masakan agak istimewa saat akhir pekan. Dan ia juga tak memikirkan tempat tinggal. Suami Rasti bekerja di Sanggau, Kalimantan, di perusahaan kelapa sawit, biasanya pulang ke Malang setahun atau dua tahun sekali. 

Selain itu ada Vita. Karena Rasti bekerja sebagai kasir di sebuah Toserba, Rima sering mengasuhnya. Kadang kakeknya yang mengasuhnya bila Rima ada acara sore hari di sekolah. “Kakek batuk-batuk terus. Kasihan ya, Tante?” kata-kata Vita terngiang-ngiang di benak Rima. 

Sanggupkah Ayah menjaga Vita kalau Rasti bekerja? Membayangkan Vita, hati Rima gundah. Gadis kecil itu hampir tiap malam tidur di sisinya. Rima membacakan cerita untuk Vita, kadang cekikikan bersama menonton video-video lucu dari ponsel Rima. 

Ponsel di saku Rima bergetar, membuyarkan lamunannya. “Kamu di mana? Batuk Ayah makin parah. Aku mau ke rumah sakit!” kata kakaknya, setengah berseru. 

“Oh! Masih di taman. Udah berangkat? Aku balik ke rumah atau langsung ke sana?” 

“Ke rumah sakit aja. Aku udah dapat taksi,” kata Rasti. 

Rima datang lima menit setelah Rasti, Ayah, dan Vita sampai. Ayah sedang didudukkan di kursi roda, menuju ruang Instalasi Gawat Darurat. Untunglah saat itu sedang sepi. Saat dokter memeriksa Ayah, ketiganya berpandangan. Rasti mengangguk, lalu bersidekap. Matanya berkedipkedip, lalu memerah. Rima mengeluselus kepala Vita. Gadis kecil itu tak banyak bicara, wajahnya bengong menyaksikan kakeknya yang terbaring tak berdaya. 

“Pak Aryo kelihatannya akhir-akhir ini kurang tidur,” kata dokter, pada Rima dan Rasti. “Saya menyarankan dia dirawat inap dua tiga hari.” Dokter mengatakan hal-hal lain tentang makanan dan obat-obatan, Rasti memerhatikan dengan saksama. Rima melirik Ayah. Sungguh tak dinyana, Ayah sedang menatapnya. Matanya merah. 

Rasti menarik Rima ke sebuah sudut, berkata pelan, “Ayah selalu begitu. Dia nggak jujur. Aku tahu, dan kamu juga tahu, sebenarnya dia berat melepasmu ke Jakarta.” 


*** 
PADA hari kedua Ayahnya dirawat, Rima minta izin pulang lebih awal. “Nanti agak sore saya dan beberapa guru juga akan menjenguk Ayah Jeng Rima,” kata Ibu Betty, Kepala Sekolah. 

“Oh, jangan repot-repot, Bu. Ayah saya sakitnya nggak...” 

“Sudahlah, Jeng,” potong ibu Kepala Sekolah. “Jam berapa waktu bezuknya?” 

Rima memandangi Ibu Betty yang berkali-kali mengatakan kepada Rima, juga orang-orang yang ia jumpai saat bersama Rima, bahwa Rima sudah ia anggap seperti anaknya sendiri. Rima kadang merasa canggung—atau berumur sebaya dengannya—kalau dipanggil “Jeng Rima”. Tapi begitulah Ibu Betty, semua wanita muda dan tua dipanggilnya “Jeng”. Ia mengatakan Rima cekatan, sayang anak-anak, dan—ini yang tidak bisa Rima lupakan—wajahnya sangat manis. “Iya, Bu, nanti saya kabari jam berapa rumah sakitnya buka,” kata Rima. 

Saat meninggalkan ruangan Ibu Betty, Rima tiba-tiba teringat ibunya yang sudah tiada. Sosok Ibu jauh berbeda dengan Ibu Betty—lebih kalem, anggun, dan tak banyak bicara. Teringat Ibu, Rima berbalik, kembali ke ruang Kepala Sekolah. Tak terasa air matanya tumpah. “Lho, Jeng, ada apa?” 

Rima terdiam, menunduk. Ibu Betty berdiri, memeluknya. Tangis Rima pun pecah ketika mendekap badannya yang gemuk, juga lebih pendek sepuluh sentimeter darinya. Rima kangen Ibu, tapi mengatakan hal lain, “Saya... takut... ada apa-apa dengan Ayah saya.” 

“Lho tadi katanya nggak apa-apa?” kata Ibu Betty sambil melepas pelukan. Rima mengusap air matanya, mencoba tersenyum. Ia bingung harus mengatakan apa. “Iya, Bu, Ayah saya akan baik-baik aja.” 

Tangan Ibu Betty menepuk-nepuk pundak Rima. “Jangan khawatir, Jeng. Ada apa-apa, kontak saya. Saya ini ibumu, jangan takut. Tetap sabar, tetap kuat.” 

Air matanya tumpah sekali lagi. Rima memeluk Ibu Betty sekali lagi—lebih erat, hampir semenit. 


*** 
RIMA mendapat panggilan telepon ketika berjalan di koridor Rumah Sakit. Ia duduk di kursi panjang setelah menelepon, mengatur napas. Sampai di kamar rawat inap, Rima menyaksikan Ayahnya tertidur pulas. Dua jam di situ, Ayah masih tertidur. 

Menjelang siang, Rasti dan Vita datang. Ayah dan Rima sedang bercakap-cakap. Wajah Vita yang murung seketika berubah cerah ketika melihat kakeknya tersenyum, lalu berkata, “Halo, Vita...” 

Empat orang itu bercakap-cakap dengan riang sambil menyantap kue bolu. 

Kepergian Rima tertunda entah sampai kapan. Mungkin ia tidak akan pernah pergi. Mungkin juga, ia baru akan pergi setelah Ayah pergi—untuk selamanya. 

2017 

Sidik Nugroho, lahir 24 Oktober 1979. Ia menulis cerpen dan novel. Oktober 2016 ia tampil di Ubud Writers and Readers Festival, Bali. Novelnya Tewasnya Gagak Hitam (2016) lolos seleksi program penerjemahan yang dihelat Pusat Pengembangan Strategi dan Diplomasi Kebahasaan (PPSDK). Ia tinggal di Pontianak, Kalbar. 




Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sidik Nugroho
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 16 April 2017

0 Response to "Kepergian Rima"