Keyakinan yang Terwujud | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Keyakinan yang Terwujud Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 13:01 Rating: 4,5

Keyakinan yang Terwujud

DINA masih harus mengantarkan kue-kue yang telah dibuatnya pagi tadi ke warung seberang jalan, dekat kompleks perumahan elit. Dina tinggal berdua dengan ibunya. Kerasnya kehidupan membuat ia harus terus bekerja keras. Dina tidak bisa mengandalkan ibunya mencari uang sendirian. Meski begitu, semangatnya menyelesaikan kuliah yang sudah memasuki skripsi, tetap menyala. 

Dikeluarkannya sepeda peninggalan kakaknya yang meninggal dunia beberapa tahun lalu. kecelakaan saat mengantarkan kue. Tak membutuhkan waktu lama Dina bergegas menuju warung dengan kecepatan seimbang. Hingga tibala Dina di warung yang menjadi tujuannya. 

”Bu, seperti biasa.“

Dilihatnya seorang ibu kisaran 50 tahun menghampirinya sambil membawa keranjang kue kosong.
”Ini yang kemarin ya. alhamdulillah habis,“ kata pemilik warung bernama Sumasih itu.

Betapa bahagianya Dina saat menerima keranjang itu. Juga menerima sejumah uang yang mungkin tidak seberapa, namun sangat berharga untuk Dina. Karena Dina bisa membayar uang kuliah yang masih kurang.

Dina bergegas menuju kampus yang lokasinya tidak jauh dari warung itu. Sesampainya di bagian pembayaran, Dina bertemu salah satu petugas.

”Gimana, Dib?“

“Mau ngelunasin yang kemarin, Mbak. Aku minta maaf ya Mbak, soalnya bayarnya udah sering telat,” ucap Dina.

Betapa bersyukurnya dirinya, karena itu artinya bisa segera mengurus skripsi.

Dina cukup pandai di kampus. Ia memperoleh IPK mendekati sempurna: 3,89. Sayangnya, meski Dina sudah sering mendapatkan bantuan dari kampusnya berupa beasiswa, tetap saja belum bisa menutupi segala kekurangan memenuhi kebutuhan sehari-hari dirinya dan ibunya. Apalagi saat ini, harga bahan pokok sudah mulai meningkat.

***
HARI di mana skripsi Dina telah selesai dan Dina pun akan menuju puncak belajar selama ini: pendadaran. Sehari sebelumnya, Dina membuka buku-buku, juga mempelajari skripsi yang telah dibuat dan mendapatkan persetujuan dosen pembimbing.

Setelah dua jam, Dina keluar ruangan dengan wajah sumringah. Ia dinyatakan lulus sempurna. Dina semakin berani yakin, kehidupannya akan jauh lebih baik dari ini.

Tak menunggu lama, ia bergegas pulang. Sampai rumah, betapa terkejutnya melihat bendera putih tengah tergantung di tiang dekat rumah, dan banyak orang keluar masuk rumah.

Dina berlari memasuki rumah. Terlihat ibunya terbaring dengan wajah pucat dan sedikit darah segar masih keluar dari tubuhnya.

”Ya Allah.“ Spontan Dina berucap yang kemudian menutup mulutnya dengan kedua tangan. Airmata jatuh begitu saja tanpa aba-aba. Suasana hening membuat isak Dina terdengar sampai luar.

”Tenangkan dirimu, Nak.“ Seseorang mengeluar pundak Dina menenangkan hatinya.

”Ibu kenapa?“ tanya Dina.

”Ibumu sudah istirahat, Nak. Ibumu kecelakaan,“ ucap lirih ibu itu.

Dina memeluk ibu yang tak dikenalnya dan sebisa mungkin mencoba menerima kenyataan yang ada. Ia kini merasakan bahwa dirinya benar-benar sendiri.

***
KEJADIAN membuatnya terpuruk. Kelulusan hanya dirinya yang merasakan. Acara wisuda yang sudah berlangsung dua minggu setelah kepergian ibunya, hanya dia juga yang merasakan. Ia benar-benar tak mengeri dengan kehidupannya. Mengapa Tuhan begitu tega membiarkan dia sendiri. Harinya dirasakan begitu suram tanpa semangat dari seorang ibu.

Meski begitu, mau tak mau Dina harus segera bangkit lagi dan kemudian mencoba melamar pekerjaan. Dina sudah tidak lagi berjualan kue. Ia fokus mencari pekerjaan yang dirasanya lebih pantas ia dapatkan. Kini sudah sarjana ekonomi manajemen. Ia yakin suatu saat bisa menjadi manajer dan pemilik tokok.

Kegigihannya tidak sia-soa. Tidak perlu waktu lama setelah melamar pekerjaan, Dina mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan ternama. Kini ia bisa menabung sedikit demi sedikit, untuk membuka usaha kue yang selama ini ia cita-citakan. Dina percaya, dirinya tidak benar-benar sendiri.


Zakiyah Nugrahaini Ma’wa, Pangukan Jugang RT 05/RW 11 No 12 Triadi Sleman Yogyakarta.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Zakiyah Nugrahaini Ma’wa
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 2 April 2017


0 Response to "Keyakinan yang Terwujud "