Kota yang Terbakar | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Kota yang Terbakar Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 11:00 Rating: 4,5

Kota yang Terbakar

HARI ke-111 masa pengasingan. Tenda-tenda telah koyak, tanah retak dilelehi air mata kaum pengungsi. Yang akan pergi malam ini. Entah ke mana, tanpa arah yang pasti. Hanya tersiar kabar yang lekas beterbangan, bahwa para pengungsi akan pergi. Tepat malam ini, 111 hari setelah masa pengasingan.

“Darwish, bangunlah, Nak!” untuk belasan kalinya seorang ibu membangunkan anaknya. Anak lelaki tunggalnya, yang paling disayanginya.

“Lekaslah bangun, Darwishku! Kita akan segera berangkat!”

Darwish, yang belum genap berusia empat tahun, mengusap-usap matanya. Segala yang dilihatnya masih kabus. Kantung matanya masih digantungi kantuk yang teramat berat. Ia mencoba memandang cahaya suram dari celah tenda, menandakan malam masih kental.

“Duh, ibu. Akan pergi ke manakah kita?” tanyanya seraya tergeletak kembali, beralaskan batu pipih, sebagai bantalnya.

Wajah ibunya memucat, begitu pilu menyerupai mayat. “Entahlah. Sungguh aku tak tahu, Darwish. Kudengar kabar kita akan pergi ke sebuah tempat. Sebuah tempat di mana kita bisa membunuh kenangan dan tragedi. Menghujam takdir yang sungguh getir. Kita seolah akan dilahirkan kembali dalam mimpi yang baru, yang lebih berseri dan bahagia! Segalanya, akan… Darwish, Nak, Nak jangan tidur lagi! Kita berangkat malam ini!”

***
“Bagaimana? Penerbangan yang menyenangkan, bukan?”

Aku hanya tersenyum tipis, mencoba mengingat kembali kondisi dan pelayanan di dalam pesawat tadi. Begitu spesial, sungguh istimewa. Ya, pesawat yang mengantarkanku sejauh 10 ribu km lebih, dengan kode penerbangan GA-2306 first-class, tanpa transit tentunya.

“Tentu aku tak mau sahabatku diserang delay. Sahabat yang telah lama tak berjumpa! Ah, berapa tahun, 15? Atau 20? Ha, lihatlah wajahmu, masih sama, dengan hidung bengkoknya! Ha-haa…”

Aku kembali tersenyum. “Kau pun tetap sama, Ref, tetap terlihat lebih tua dari usia yang sebenarnya.” ujarku membalasnya.

Ia memasang wajah seolah-olah kesal dengan raut cemberut. Sebentar saja, ia kembali tertawa terpingkal dan aku mengikutinya.

Kami berdua dengan bersemangat berjalan di antara keramaian bandara. Membelah kesibukan orang-orang dengan berbagai warna kulit, ras, bentuk, dan bahasa. Orang-orang yang sibuk dengan berbagai urusan duniawinya. Begitu sampai di pengujung pintu, matahari tak begitu lantang bersinar, cuaca agak mendung.

“Kau sebaiknya tunggu di sini. Aku akan mengambil mobil.”

“Baiklah, bila dalam 10 menit kau tak datang, aku kembali pulang!” kelakarku setelah ia pergi.

Dalam hati aku tersenyum. Tak menyangka, bahwa kini aku berada di negeri yang berbeda. Begitu jauh dari rumahku, dari negeriku. Aku memandang sekeliling. Di atas pintu keluar bandara terpampang kokoh layaknya gapura bertuliskan “Rezzhekrust Airporten”. Tentu kota yang indah: Coofenhegale!

Tak berapa lama, sebuah mobil SUV berwarna silver, versi terbaru berhenti tepat di depanku. Kaca jendela mobil terbuka, dari dalam mobil kulihat Ref melambai. “Silakan…” ujarnya seraya tersenyum nakal.

Aku sangat terkejut. Tak sempat menarik napas, aku bergegas masuk ke dalam mobil. “All heavens! Ini versi terbaru seri E!”

“Haha, ternyata kau tahu. Are you okay, boy?”

“Like epicentrum! Sungguh spektakuler! Bagaimana kau mendapatkan semua ini?”

“Haha.. kau meragukanku? Uang itu diciptakan bukan untuk dipendam, boy. Come on, apalah arti uang bila kita tidak tahu cara menikmatinya. Begitukan?”

“Ya, sejak dari SMA kau selalu bilang begitu!”

***
“Oouh, Godness! Masih belum bangun? Entah untuk yang keberapa kali Ref membangunkanku. Aku tersentak di atas spring-bed, setebal beludru. Kau masih sama seperti dulu. Sungguh! Ya, terlalu mencintai tidur. Haha! Tak apa, tak apa. Tidurlah sepuasnya. Ini rumah kita kawan. Rumah kita bersama. Tidak ada beban di sini. We’re all free!”

Ref keluar dari kamar. Terdengar suara dentingan mangkuk dan sendok. Kuduga ia membuat serapan. Benar saja, ia masuk kembali sambil membawa dua mangkuk oat creakers. “Tidakkah kau berminat berkeliling, Kal? Betapa rugi kau tidak menikmati kota ini.”

Aku menggeliatkan badan, mengerjap-kerjapkan mata.

“Bila ingin keluar, kusarankan berjalan-jalanlah ke area distrik Ngirellbro di tepi Sungai Sezainoe. Cukup naik trem saja, gratis kok. Di Ngirellbro penghuni di sana banyak terdiri dari pengungsi yang berasal dari Timur Tengah. Di sana para pendatang hidup harmonis dengan warga asli kota meski berbeda ras, warna kulit, dan keyakinan. Di sana akan kau temukan sebuah taman, yang sengaja dibangun untuk menjadi tempat berkumpul bagi siapa saja, tanpa terkecuali. Taman itu berfungsi untuk sarana bersosialisasi penghuni kota, selain tempat menghirup udara terbuka, tentunya. Semua orang damai di sana: tua, muda, lelaki, wanita, berbagai ras, suku, agama berbaur tanpa batasan.”

“Benarkah? Sungguh unik.” kataku tertarik, sekaligus heran, yang kini duduk di tepi spring bed-nya.

“Of course! Aku menyarankanmu ke sana karena sejak dulu aku tahu, kau begitu tertarik dengan urusan hak-hak kemanusiaan, kan?”

“Yaps! Aku begitu manusiawi, setiap nyawa manusia sangatlah…”

“Ups, upss.. Enough boy. Kau tak perlu menjelaskannya. By the way, apa kabar kampung halaman kita?”

Teringat sesaat ketika di bandara negeriku tadi, televisi dengan setia, selama hampir dua bulan ini, masih menyiarkan berita tentang peristiwa penistaan agama yang dilakukan oleh seorang mantan pejabat negara. Rakyat melakukan demonstrasi besar-besaran. Massa dikerahkan. Bahkan, kabarnya kantor dewan parlemen akan diduduki, Presiden akan dikudeta. Duh, betapa ironis. Namun, semua tak kujelaskan pada Ref.

“Hmm, ya begitulah, Ref. Sama saja. Tak ada yang berbeda. Harga- harga terus melonjak, tak terkendali. Yang kaya tambah kaya, yang miskin tambah miskin. Dan, aku tetap konstan. Tetap berada di ambang batas garis antara miskin dan kaya. Haha!” ujarku seraya menyantap oat creakers, rasa vanilla.

***
Aku memutuskan pergi ke Ngirellbro, sesuai saran Ref. Benar saja, ada sebuah taman disana. Suzheerkilen, sebuah taman terbuka membentang sejauh satu kilometer di tengah pemukiman penduduk. Suzheer kilen, dalam bahasa lokal berarti kapak yang pipih. Memang kalau dilihat dari atas taman ini berbentuk pipih memanjang seperti kapak terjepit di antara hunian yang padat. Kedua pengujung sisi kapak adalah jalan-jalan utama kota yang sangat ramai sehingga taman ini juga menjadi akses berjalan kaki dan pesepeda.

Sepanjang bagian yang melintang di arah timur, berjejer beberapa kursi dari kayu willow, tanpa dicat. Beberapa orang duduk di sana, berbaur bersama. Di kursi sudut sebelah kanan, seorang wanita yang cukup muda duduk, sambil bernyanyi- nyanyi kecil bersama anak lelaki di sampingnya.

“Hello, selamat pagi, Nyonya.” sapaku padanya. Dari wajahnya, sudah terlihat ia berasal dari Timur Tengah. Hidung mancungnya menurun pada anak lelaki sebelahnya, kuduga tentu anaknya.

“Boleh saya duduk di sini?”

“Duduklah di mana kau suka, young boy. Silakan saja.”

“Hmm, by the way, namaku Erkal, Derwin Erkal. Nyonya, dari manakah berasal?”

Ia diam, agaknya terganggu dengan pertanyaanku. Namun, setelahnya ia menatapku. Barangkali memastikan dari wajahku, jenis pertanyaan apa yang aku lontarkan padanya.

“Aku berasal dari sebuah negeri yang kacau balau!” ujarnya pedas, tanpa memandang padaku.

Aku tersenyum getir, menelan ludah. “Demikian kacaukah?”

“Ya, di sana adalah tragedi. Tragedi mengenaskan!”

“Bolehkan nyonya menceritakannya?” Aku memancing.

“Ya, tentu saja. Kehidupanku pada awalnya sangatlah bahagia. Selepas tamat dari universitas, aku pindah ke ibu kota negara. Di sana aku menikah, dan melahirkan Darwish, anakku. Kehidupan kami sungguh sempurna. Suamiku bekerja sebagai arsitek, dan aku sehari-hari menjaga Darwish. Hingga suatu malam.., malam laknat dan terkutuk itu…” dari matanya merembes air, tanda kepedihan.

Tanpa kuminta, ia terus melanjutkan ceritanya.

“Malam itu, malam pengujung tahun. Ibu kota negara dibombardir besar-besaran. Aku menyaksikan gedung-gedung berhancuran, mayat-mayat bergelimpangan. Sungguh mengerikan! Suamiku tetap menggendong Darwish, dan kami berlari, terus berlari. Menjauhi ledakan yang memekakkan telinga! Namun, sudah takdir, suamiku diterjang ledakan, beruntung ia sempat melemparkan Darwish padaku.”

Kali ini ia mengusap matanya, dan mendekap erat anaknya.

“Selepas itu kami menjadi pengungsi. Pengungsi yang terusir dari kota sendiri, terkatung-katung ke sana ke mari. Bersama korban- korban lain kami mendirikan tenda- tenda. Berhari-hari kami makan tumbuhan, bahkan rumputan. Kian waktu, kondisi tempat pengungsian tidaklah kian runyam, memaksa kami mencari tempat bermukim yang baru, yang lebih aman di belahan bumi lain. Dataran Eropa menjadi tujuan. Coofenhegale menjadi salah satu negara tujuan yang membuka tangan lebar-lebar kepada kami.

“Dan sekarang, di sinilah kami berada, Ngirellbro. Dari peristiwa tragedi aku memahami bahwa Tuhan itu Mahatahu. Hanya Ia menunggu. Tuhan tahu segala yang terjadi di muka bumi, segala perbuatan yang dilakukan terang-terangan, maupun tersembunyi, bahkan selembar daun gugur pun Ia tahu. Bahkan tiap angan, dalam isi hati yang terpendam sekalipun Ia tahu. Termasuk peperangan yang terjadi itu, peperangan yang telah menciptakan kesengsaraan, kedukaan, kesedihan mendalam, dan kekelaman. Segalanya luluh lantak dalam sekejap. Andai saja manusia menjalankan perintah Tuhan, tidak akan ada permusuhan, hanya kedamaian, kebahagiaan. Sayangnya tidak, dunia telah menjadi neraka lewat kekejaman. Dan, kami adalah korban-korbannya.

“Begitupun, aku telah memaafkan meski trauma menggerogoti jiwa. Dengan memaafkan aku lega, melepaskan beban duka dan kebencian, juga luka batin. Love is more powerful than anynuclear weapons. Di dalam memaafkan itu terdapat kasih. Memaafkan adalah hal yang indah. Sungguh!” akhirnya beranjak pergi seraya menggandeng tangan anaknya, tanpa menoleh padaku.

Matahari kian merangkak turun, meredupkan suasana. Tak kusadari mataku telah sangat basah. Begitu terharu mendengar pengakuan seorang ibu muda ini. Ya, sampai aku tak menyadari, iphone-ku telah menyisakan 21 panggilan tak terjawab, dan sebuah sms.
Dari ibuku, yang berisi: “Negeri kita luluh lantak, Kal. Presiden telah dikudeta. Kekacauan hebat telah terjadi. Sungguh mengerikan! Kau masih di Coofenhegale, kan? Ibu akan menyusulmu kesana. Pesawat ibu take-off 1 jam lagi.”

Seketika aku terpaku, merinding dan menyadari betapa busuknya manusia.


Muhammad Husein Heikal lahir di Medan, 11 Januari 1997. Menempuh studi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Sumatra Utara. Cerpen dan puisinya diterjemahkan kedalam bahasa Inggris, yang dimuat di berbagai media dan antologi puisi dan cerpen.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Muhammad Husein Heikal
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Republika" Minggu 2 April 2017



0 Response to "Kota yang Terbakar"