Kupu-Kupu Kecil yang Terbelah | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kupu-Kupu Kecil yang Terbelah Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 13:07 Rating: 4,5

Kupu-Kupu Kecil yang Terbelah

’’AKU bermimpi, saat itu Hafeedz dan teman-temannya bermain di sekitar kelas. Hafeedz mengambil sebatang kapur berwarna, dan mulai menulis sesuatu, terlihat samar tapi aku tahu mereka berbicara dan berkata, ’’AsShaab/Yoreed/Eskaat el nizam!” 1) Dan tepat di kata terakhir Eskaat el nizam! tiba-tiba aku terbangun dan tenggorokanku terasa tercekat. Serik!

1 Maret 2011, Kota Deraa

Deraa adalah sebuah kota yang terletak 100 kilometer sebelah selatan Damaskus, di Syria barat-daya. Tepat di siang hari yang terik, sinar mentari terasa sekali membakar kulit Zada, gadis kecil yang masih berusia 11 tahun. Ia pulang dari sekolah bersama kakak laki-lakinya, Hafeedz. Dalam perjalanan pulang, tak biasanya Zada terdiam. Biasanya gadis kecil itu paling cerewet menceritakan tentang kegiatan sekolah dan guru-gurunya yang terlalu banyak memberikan tugas untuk dikerjakan di rumah. Belum lagi kalau ada ujian, Zada pasti akan mengadukan hal itu pada Hafeedz.

Tiap langkah Zada diperhatikan kakaknya. Tak satu pun kata keluar dari mulut Zada. ’’Kamu sakit?” tanya Hafeedz berdiri di depan gadis kecil itu dan membungkukkan punggungnya sambil melihat apakah adik kesayangannya itu sedang terkena demam atau tidak. Ia lalu meletakkan punggung tangannya di dahi Zada.

Zada menatap mata Hafeedz, ia seolah kembali melihat teman-teman Hafeedz tertawa-tawa dan melontarkan kalimat, ’’Eskaat el nizam!’’ berkali-kali. ’’Kakak Hafeedz jangan pergi!” kata gadis kecil itu yang tibatiba memeluk tubuh Hafeedz erat.

’’Ada apa sih? Zada habis dimarahin guru, ya?” Hafeedz mengeryitkan alis dan masih mengira adiknya tersebut sedang sakit.

Zada menggeleng. ’’Kakak jangan ikut-ikutan,” tukas gadis itu menggenggam erat tangan Hafeedz. ’’Zada tidak mau kehilangan Kakak!”

’’Kamu main ramal-ramalan lagi, ya?” tebak Hafeedz. Ia melihat adiknya selalu membawa kartu ramalan tarot yang disimpan di dalam saku seragam sekolahnya.

’’Kakak jangan ikut pergi. Diam saja!” katanya sekali lagi. Namun Hafeedz tak menghiraukannya, ia menggandeng tangan Zada dan kembali meneruskan perjalanan pulang ke rumah. Sebentar lagi ia diundang oleh Umar dan Qoish untuk rapat akhir minggu.

’’Jangan percaya ramalan, itu syirik. Menyekutukan Tuhan,” kata Hafeedz terakhir kali sebelum ia melempar tasnya ke atas sofa dan lekas keluar lagi untuk bermain bersama temantemannya yang lain. Gadis kecil itu berdiri di ujung pintu dan menatap dari kejauhan punggung kakaknya yang lebar. Tanpa sadar air mata menetes di pipinya. Lalu ia pun menundukkan kepala.

’’Kak Hafeedz, kalau kau ke sana, sebentar lagi akan ada kehancuran yang sangat besar. Dengarkan aku, Kak Hafeedz… Dengarkan aku, huhuhu…!” gadis kecil itu duduk berjongkok sambil menangis terisak-isak.

Sesuatu akan terjadi sebentar lagi. Ya, tak lama lagi. 

6 Maret 2011

Seorang lelaki bertubuh tinggi besar tengah menyaksikan satu pemandangan yang baginya terlihat mengerikan, memanaskan darah dan adrenalin. Mempercepat detak jantung dan aliran darah yang naik ke ubun-ubun. Lelaki itu adalah seorang mukhabarat, salah satu dinas intelijen atau keamanan yang mengontrol dan mengawasi penduduk dan bertugas mempertahankan rezim dari ancaman-ancaman yang muncul. Ia melihat pemandangan graviti yang menyeramkan, tulisan-tulisan ejekan yang membabi buta untuk pemerintah.

Lelaki itu naik pitam. Ia lalu menghubungi beberapa kawan mukhabarat untuk menindaklanjuti kasus tersebut secara rahasia. Lelaki itu akan mencari nama orang-orang yang menggambar graviti itu.
’’Kalian akan menerima akibat dari semua ini!” umpat lelaki itu yang kemudian masuk ke mobil dan meninggalkan sekolah tersebut.

***
Hafeedz beserta 14 teman lainnya tertawa-tawa di atas padang rerumputan. Tangan-tangan mereka masih penuh dengan berbagai macam warna pylox yang sebelumnya mereka buat untuk melukis graviti itu. Tawa mereka terdengar sangat lepas dan tiada dosa. Padahal bahaya besar akan datang sebentar lagi yang akan membuat semuanya tak lagi dapat tertawa. Jangankan tertawa, tersenyum pun mungkin terlalu sulit.

’’Hahaha, sebentar lagi kita akan bebas!” kata Hafeedz melonjak kegirangan.

’’As-Shaab/Yoreed/Eskaat el nizam!” teriak Ubaid ikut senang.

’’Apa rezim Al-Assad akan tumbang? Seperti Khadafi dan lainnya?” tanya Qumar sedikit merasa takut.

’’Insya Allah! Rakyat pasti menang!” jawab Hafeedz saat itu. Sedang temannya yang lain terkejut ketika menoleh ke belakang dan melihat barisan mukhabarat membawa senjata dan dengan sigap menyergap Hafeedz dan teman-temannya. Para mukhabarat menggiring paksa mereka masuk ke dalam mobil dan menyekapnya. Mulut mereka disolasi dan dibawa ke satu tempat yang mereka tidak tahu karena semua dibuat tak sadarkan diri.

Zada berteriak ketakutan saat ia tengah tidur di siang hari. Ia terus memanggil nama kakaknya sampai menangis. Membuat sang ibu terkejut dan masuk ke kamar untuk mendatangi Zada. Tubuh gadis kecil itu gemetaran. Ia menatap wajah ibunya dan berkata, ’’Kota ini sebentar lagi... Kota ini sebentar lagi akan berdarah!”

Pukul 8 Malam 

Zada berdiri menanti di ujung pin- tu rumah yang semenjak tadi sengaja dibuka. Beberapa tetangga saling mencari anak-anak mereka yang belum pulang semenjak jam sekolah berakhir. Mereka menduga ada kasus penculikan tapi tidak tahu apa penyebab terjadinya penculikan. Orang tua Zada pun semakin cemas saat mendengar kabar bahwa tepat di dinding sekolah Hafeedz terpampang gambar graviti mengutuk rezim yang dilakukan oleh Hafeedz beserta teman-temannya. Ibu Zada pun saat itu langsung terkulai lemas dan pingsan. Ia takut Hafeedz dilukai dan dibunuh. Gadis kecil itu, Zada, berlari masuk ke dalam kamar dan mengambil kartu ramalnya. Ia juga mengambil korek api dan keluar dari dalam rumah. Zada duduk terdiam dan merenung sesaat. Ramalanku benar, ramalanku benar! ungkapnya dalam hati. Tapi, sisi hati kecilnya berkata, ’’ Untuk apa kamu meramal, jika kau sendiri pun tak mampu mencegahnya. Adanya kau akan membuat resah dirimu sendiri, bakar kartu itu! Bakar!”

Pemantik api itu dinyalakan oleh Zada. Ia ambil satu per satu kartu tarotnya dan mulai membakarnya sambil menangis terisak-isak. Kakaknya tak bisa kembali lagi. Kakaknya akan dibunuh oleh mukhabarat! Dalam bara api yang membakar kartukartu tersebut, Zada pun berkata, ’’Karena semua ini sudah terjadi, aku akan berkata, As-Shaab/Yoreed/ Eskaat el nizam!” Teriakan gadis kecil yang tiada mengenal rasa takut itu kepada orang-orang sekitar.

Bergegas ayahnya membekap mulut Zada dan ia diminta untuk masuk ke dalam rumah. Namun, sebelum gadis itu masuk ke dalam, seseorang dari kejauhan, entah dari mana datangnya, melepaskan timah panas yang diarahkan pada tubuh gadis kecil tersebut. Seorang mukhabarat yang menyamar.

DOR! Tubuh Zada yang kecil itu pun serta merta ambruk di sisi ayahnya, berdekatan dengan kartu-kartu ramal yang tengah terbakar. Api yang membara ditetesi darah merah yang segar. Seekor kupu-kupu kecil yang hendak menyelamatkan dunia, bukan lagi selamat yang didapat namun sebagai awal pencetus pemberontakan yang sebentar lagi akan terjadi.

Kupu-kupu yang terbelah itu kini mati. ***


1) Slogan revolusi yang diteriakkan rakyat di Tunisia, Mesir, dan Libya yang artinya, ’’Rakyat/ingin/menumbangkan rezim!” Slogan provokatif di dinding sekolah itu pernah ditayangkan di televisi yang menyiarkan revolusi di Tunisia, Mesir, dan Libya.


Vanny Chrisma W., penulis kelahiran Sidoarjo, 4 Desember 1983. Novel dan buku nonfiksi yang sudah diterbitkan mencapai 39 buku. Di antaranya, Gadis Kecil di Tepi Gaza (sudah cetak ulang 9 kali), Wo Ai Ni Allah, Madah Cinta Shalihah, Maimunah Cinta sang Perawan, Hannah Misteri Gadis Terpasung, Lubna Deja Vu, Purnama untuk Palestine, Secuil Hati di Teluk Eden, Memelukmu di Kyoto, dan Lost on Everest.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Vanny Chrisma W.
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Jawa Pos" Minggu 23 April 2017

0 Response to "Kupu-Kupu Kecil yang Terbelah"