Ledhek dari Blora 11 | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Ledhek dari Blora 11 Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 06:05 Rating: 4,5

Ledhek dari Blora 11

MBAH Bayan mengangguk-angguk. Ia seperti mengingat-ingat. Kulit pipinya jadi berkerut-kerut. ”Saya pernah dengar nama itu Mas. Katanya, katanya lho, dia disenangi Pak Komandan.“

”Pak Komandan? Siapa namanya?“

”Kami hanya memanggil dia Pak Komandan. Pak Kopral Darpo tidak pernah menyebut namanya komandannya itu.“

”Ooo, disenangi, maksudnya mau diambil isteri?“

”Ah, ya tidak ta mas!“ Mbah Bayan tertawa terkekeh-kekeh. ”Mosok Pak Komandan mau mengambil isteri tahanan. Bisa dipecat dia, hahaha....“

Aku ikut tertawa meski kalimat Mbah Bayan tidak lucu.

”Mas ini mau mencari siapa sebenarnya?“ tanya laki-laki tua itu akhirnya setelah kami bicara ke sana kemari.

”Mencari Sriyati, Mbah,“ jawabku.

”Semua sudah saya ceritakan. Tapi kalau nanti Sampeyan ketemu tentara, jangan katakan saya yang cerita. Begitu ya?“

Aku mengangguk. ”Untuk apa ketemu tentara Mbah?“

”Lha tadi tanya-tanya soal Kopral Darpo?“

”Hanya bertanya saja kok,” kilahku.

”Pokoknya begitulah kira-kira suasana penjara Plantungan waktu itu. Sebelebihnya saya tidak tahu apa-apa.”

”Ya Mbah. Terima kasih.”

”Sekarang terus mau ke mana Sampeyan?”

”Ke Weleri.”

”Tidak naik ke puncak Gunung Prau?“

Aku menggeleng.

”Banyak anak muda yang naik ke sana lewat Plantungan. Lebih cepat sampai dan jalannya tidak menanjak.”

Aku hanya tersenyum. Gunung Prau yang disebut Mbah Bayan memang tidak begitu tinggi. Gunung itu menjadi bagian dari daratan tinggi Dieng. Bagi pemula, gunung Prau bisa dipakai untuk melatih mental dan fisik sebelum naik ke puncak gunung yang lebih tinggi dan berbahaya.

Karena terlalu capek, aku memutuskan tidak melanjutkan perjalanan ke Weleri. Hari sudah sore. Angkutan umum meski masih ada namun harus menunggu penumpang sampai penuh baru berangkat. Lagi pula Weleri tidak nyaman udaranya. Panas. Beda jauh dibanding Sukorejo.

Aku menginap di hotel kelas melati tidak jauh dari Alun-alun Sukorejo. Meski kecil, lumayan bersih. Hotel ini biasa dijadikan penginapan bagi para pemasar barang-barang dari luar kota. Mereka yang datang dari Cirebon menginap di hotel itu sebelum keesokan hari melanjutkan perjalanan ke Temanggung dan Wonosobo. Begitu juga mereka yang datang dari Yogyakarta dan Magelang. Mereka menginap di situ sebelum melanjutkan perjalanan menurunkan barang-barang di sepanjang Pantura yang panas. 

Usai mandi aku langsung tidur. Kira-kira jam sepuluh malam terbangun karena penghuni kamar sebelah terlalu keras membanting pintu. Sayup-sayup terdengar suara perempuan yang ngomel-ngomel. Karena itu pintu kamar lalu dibanting. Mungkin untuk mengusir perempuan yang terus saja ngomel itu.

Rupanya sore tadi turun hujan. Halaman hotel tampak basah. Di sana-sini ada genangan air. Udara terasa dingin. Dan itu yang membuat perut melilit-lilit. Karena sore tadi memang belum kuisi.

”Di mana ada rumah makan yang  masih buka, Ma?” tanyaku kepada petugas keamanan hotel yang berdiri menyambutku.

“Untuk restoran sudah pada tutup. Tetapi warung tenda mungkin masih ada yang buka. Bapak mau makan apa?” tanyaku kemudian. 

”Nasi goreng,” jawabku.

”Ooh, masih ada. Di seberang Bundaran alun-alun itu.”

”Emm....“

”Tapi sepertinya mau hujan lagi. Kalau Bapak enggan ke sana, bisa saya bantu. Saya yang membelikan.”

”Mau?”

Petugas keamanan itu mengangguk. ”Sudah menjadi kewajiban kami, Pak, melayani para tamu.”

Aku mengangguk dan memberi selembar uang limapuluh ribu.

”Bapak mau menunggu di kantor atau di kamar, monggo.  (bersambung)-c


Rujukan
:
[1] Disalin dari karya Budi Sardjono
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi 2 April 2017

0 Response to "Ledhek dari Blora 11"