Ledhek dari Blora 12 | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Ledhek dari Blora 12 Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 06:00 Rating: 4,5

Ledhek dari Blora 12

BEGITU lelaki itu pergi aku segera membuka handphone produk lama. Hanya bisa dipakai menerima atau menelepon, juga menerima atau mengirim SMS. Tidak ada SMS yang masuk. Karena baru ada tiga nomer yang tersimpan di phone book. Nomer Mas Don di Jakarta, nomer AKP Suyatman dan nomer Nirmala Jati. Nomer-nomer lain hilang bersama hilangnya handphone android waktu aku digebuk orang di Randublatung.

Pada dasarnya aku memang tidak suka memelototi benda bernama handphone. Aku tidak suka berselancar di dunia maya, juga memanfaatkan media sosial. Disebut kuno atau manusia jadul, aku tidaak marah. Karena memang aku tidak mau hidupku dikendalikan dan dikuasai handphone. 

"Mau pijat Mas?"

Tiba-tiba seorang perempuan duduk di sampingku. Sudah tidak muda lagi. Namun juga belum begitu tua. Untuk menutupi usia yang sebenarnya ia mengoles wajahnya dengan bedak agak tebal. Mengenakan kain dan kebaya, tapi rambutnya tidak disanggul. Justru dibiarkan tergerai sampai tubuh bagian belakang. Aroma parfumnya menyengat. Bisa kutebak merek dan harganya.

"Bagaimana? Capek ta?"

"Aku mau makan. Sejak sore perut lupa kuisi," kilahku.

"Ya nanti setelah makan," kejar perempuan itu.

"Mosok perut kenyang malah dipijat. Malah muntah nanti."

"Atau sekarang saja mumpung perut masih kosong?"

"Perut kosong itu membuat tubuh jadi lemas. Mosok tubuh lemas malah dipijat. Nanti malah loyo," selorohku.

"Lah, bagaimana Mase ini!" tukasnya dengan nada kurang simpatik.

"Perut kenyang dipijat tidak enak, bisa muntah. Perut kosong dipijat bisa bikin tubuh loyo. Bilang saja, tidak mau!" lanjutnya ketus.

Ia lalu meninggalkan tempat duduknya dan menghilang di balik mobil box yang diparkir di halaman.

Usai melahap sebungkus nasi goreng aku meninggalkan hotel untuk menikmati angin malam Sukorejo. Pengamat kuliner sehat menengarai kalau nasi goreeng itu kadar gulanya sangat tinggi. Nasi yang masih panas dipanasi untuk kedua kali dengan digoreng. Hal itulah yang menyebabkan kadar gula dalam kandungan nasi jadi sangat tinggi. Karena itu sehabis makan nasi goreng jangan langsung dipakai untuk tidur. Jika hal itu dijadikan kebiasaan, hantu debitus melitus atau kencing mannis siap menerkam!

Sukorejo hanya kota kecamatan. Terjepit di antara Temanggung dan Kendal yang lebih besar dan terkenal. Andaikata Belanda tidak membangun rumah sakit dan tempat isolasi penderita Kusta di Plantungan, mungkin Sukorejo tidak akan dilirik orang. Padahhal di wilayah Sukorejo terdapat perkebunan karet yang luas. Dulu juga penghasil kayu jati. Tapi siapa peduli?

Sukorejo menjadi tempat pelintasan yang lumayan ramai ketika bekas rumah sakit kusta tadi diubah jadi penjara wanita. Mereka yang mau bezuk sanak saudaranya di Plantungan harus melewati Sukorejo. Itu bagi mereka yang tinggal di Yogyakarta, Solo, Magelang, dan kota-kota lain di wilayah selatan.

Sepi. Menjelang pukul sebelas malam Sukorejo sudah tertidur. Warung-warung tenda di kaki lima sudah pada tutup. Sesekali satu dua sepeda motor atau mobil melintas cepat. Yang masih tampak ada denyut kehidupan hanya di tenda warung wedang dekat kantor polisi. Andaikata perutku masih lapar ingin juga pergi ke warung itu. Tapi untuk menjaga kadar gula dalam darah, tidak bagus minum manis menjelang tidur.

Cerita dari Kang Duki penjual jambu merah daan Mbah Bayang menambah keyakinanku bahwa tidak lama lagi jejak Sriyati akan kutemukan. Aku tidak tahu apa istimewanya perempuan itu di mata Mas Do. Sekarang pasti sudah berumur. Paling tidak seumur Eyang Ratmi neneknya Nirmaala.

Untung aku mendapat pesanan menulis biogradi Mas Don. Disamping keuanganku tidak bermasalah, aku jadi punya kenalan baru. Terutama Nirmala Jati. Wajahnya manis. Dadanya padat berisi. Postur tubuhnya sedang, tidak begitu tinggi namun juga tidak pendek untuk ukuran perempuan Jawa. Bibirnya agak tebal. Itu pertanda kalau ia memiliki libido yang tinggi. Akh!   (bersambung)-c


Rujukan
:
[1] Disalin dari karya Budi Sardjono
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi 9 April 2017

0 Response to "Ledhek dari Blora 12"