Ledhek dari Blora 13 | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Ledhek dari Blora 13 Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 06:00 Rating: 4,5

Ledhek dari Blora 13

TIBA kembali di depan kamar hotel aku kaget. Karena ada seorang perempuan yang sudah menunggu. Sama seperti perempuan yang menawarkan jasa pijat tadi, tapi ini tatapan matanya tidak liar. Ia langsung berdiri dan mengangguk hormat.

"Mas Sam, ya?" sapanya ramah.

Aku mengangguk. "Mbak siapa?" tanyaku.

"Tadi Ningsih pesan kalau Mas Sam minta dipijat."

"Ningsih?" tanyaku.

"Tadi ketemu Mas sam di ruang kantor."

"Ooo... dia namanya Ningsih?"

Perempuan itu mengangguk.

"Bagaimana? Jadi pijat?"

Hmm. Aku jadi ingat salah satu cerpen Umar Kayam berjudul Sri Sumarah dan Bawuk. Perempuan di depanku ini mirip sosok Sri Sumarah. Juga sama-sama pemijat. Postur tubuhnya pun hampir sama. Tinggi. Berisi. Namun tidak liar. Ia seperti pasrah akan nasibnya yang harus jadi pemijat para tamu di hotel kecil ini.

"Boleh, boleh," kataku sambil membuka pintu kamar. "Mbak belum pulang? Apa tidur di hotel ini juga?" "Tidak Mas. Rumah saya di belakang hotel ini kok. Itu gang dekat rumah makan Cina masuk ke kiri. Tapi jalannya menurun.""

Aku mengangguk-angguk. Perempuan ini sangat sopan menghadap lelak yang minta dipijit. Beda jauh dibanding Ningsih yang cenderung agresif.

"Dari mana Mas?" tanyanya ketika mulai memijat kakiku.

"Dari Blora."

"Ohh. Maaf, ada keperluan apa kok sampai Sukorejo?"

"Tadi mampir di Plantungan. Ketemu Mbah Bayan yang tinggal di dusun Lampiran."

"Plantungan?" tanyanya lirih. Nadanya serak. Telapak tangannya tiba-tiba terasa dingin.

Dari posisi tengkurap aku langsung membalikkan badan dan duduk. Perempuan itu kaget.

"Belum selesai pijat kakinya, ada apa Mas?" tanyanya sambil menatapku. Sekilas aku bisa menangkap sorot matanya. Ketika balas kutatap ia lalu menunduk.

"Kenapa kaget ketika aku menyebut nama Plantungan?" desakku kemudian.

Perempuan itu menghela napas. Ia tidak segera menjawab pertanyaanku.

"Pernah tinggal di sana, di Plantungan?"

Tidak ada jawaban. Kamar jadi terasa sunyi. Aku juga diam. Tapi dalam hati aku yakin bahwa perempuan ini pernah jadi penghuni Plantungan. "Maaf kalau menyinggung. Maaf, siapa nama Mbak?"

"Yuni," jawabnya lirih.

"Mbak Yuni pernah tinggal di Plantungan?"

Perempuan itu mengangguk.

Dadaku berdesir.

Kembali kamar jadi sunyi. Kami saling pandaang. Lamat-lamat terdengar suara sinden melanturkan tembang melankolis Ibu Pertiwi. Itu pasti siaran wayang kulit dari radio swasta. Biasanya gending Ibu Pertiwi dilanjutkan menjelang tengah malam. Masih ada satu babak sebelum nanti dilanjutkan adegan goro-goro, munculnya para punawakan Semar, Gareng, Petruk dan Bagong.

"Berapa tahun Mbak Yuni berada di Plantungan?" tanyaku memecah suasana sepi di kamar.

"Hampir delapan tahun," jawabnya lirih.

"Ooh. Mbak Yuuni asli dari mana?"

"Blora."

"Blora? Blora sebelah mana?"

"Jepon. Dekat perbatasan Ngawi, Mas."

"Ya, ya," kataku. Tiba-tiba kerongkonganku seperti tersekat. Di benakku seperti bermunculan aneka macam pertanyaan yang ingin kuajikan. Aku yakin perempuan di depanku pasti bisa menjawab. Tapi karena saking banyaknya pertanyaan, malah tidak satu pun bisa kuajukan.

"Monggo dilanjutkan pijatnya," kata Yuni akhirnya. Suaranya serak.

Aku menggeleng.

"Kenapa Mas? Pijatanku tidak enak ya? Apa mau ganti Ningsih saja. Dia tenaganya lebih kuat."

Aku menggeleng lagi.

"Lha kenapa tidak mau dipijat lagi?" (bersambung)-c


Rujukan
:
[1] Disalin dari karya Budi Sardjono
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi 13 April 2017

0 Response to "Ledhek dari Blora 13"