Ledhek dari Blora 14 | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Ledhek dari Blora 14 Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 06:00 Rating: 4,5

Ledhek dari Blora 14

AKU menghela napas. Kuhembuskan pelan-pelan sambil kupandangi wajah Yuni. Waktu mudanya dulu pasti cantik, pikirku.

"Sebenarnya... sebenarnya aku ingin bertanya banyak tentang Plantungan. Tapi sekarang sudah terlalu malam. Bagaimana kalau besok kita ketemu saja?"

Yuni tersenyum. "Kalau siang saya di rumah Mas."

"Boleh aku dolan ke rumahmu?"

"Rumah saya jelek. Di pinggir Kali Lampir."

"Aku tidaak ingin menemui rumahmu. Tapi menemui dirimu," kataku.

Yuni mengangguk-angguk. "Lalu sekarang?"

Aku berdiri lalu mengambil dompet. Kutarik dua lembar limapuluh ribu lalu kuberikan kepada Yuni. "Pijatnya dianggap sudah selesai. Maaf, ini sekadar untuk ongkos beli minyak gosok," kataku. 

Yuni menatapku.

"Besok sekitar jam sepuluh aku datang ke rumahmu."

"Terima kasih Mas Sam."

Yuni berdiri dan memasukkan botol lotion dan minyak gosong ke dalam tas plastik kecil. Ingin rasanya aku memeluk dan menciumnya. Entah kenapa hasrat itu muncul mendadak.

Tiba-tiba handphone bergetar tanda ada SMS masuk. Dari Nirmala: "Mas Sam sudah bobok? Saya tidak bisa memejamkan mata sejak tadi.

Yuni kuantar sampai di luar kamar.

"Sekali lagi, terima kasih Mas Sam," katanya sambil menjabat tanganku.

Aku tersenyum. Hmm....


***

Sampur Panas

"Rumah Bu Yuni? Mas ikuti saja jalan ini. Nanti akan sampai pertigaan, lalu ambil ke kanan sampai ketemu perempatan, lalu ambil yang ke kiri. Lurus saja sampai ketemu kali. Nanti tanya di situ, semua orang sudah tahu," kata seorang laki-laki ketika kutanya alamat Mbak Yuni.

Tidak sulit mengikuti petunjuk orang itu. Namun beberapa saat kemudian langkahku jadi aneh. Beberapa kali aku harus menoleh ke belakang. Sepertinya ada dua orang yang mengikuti. Tapi begitu aku menoleh ke belakang, mereka tidak tampak. Entah bersembunyi di mana. Namun aku merasa aman karena ada di tengah kampung. Meski tidak begitu padat, seandainya terjadi sesuatu yang membahayakan diriku, aku bisa teriak dan pasti ada yang mendengarkan.

Tanpa ragu kususuri jalan tanah sesuati petunjuk orang tadi. Di kanan kiri jalan masih banyak tanah pekarangan yang kosong. Beberapa kali berpapasan dengan penduduk setempat. Mereka tersenyum dan aku membalas.

Ternyata lumayan jauh. Karena harus melewati tanah tegalan yang cukup luas. Untung tidak hujan. Ancar-ancar yang diberikan Mbak Yuni tidak salah. Rumahnya memang ada di pinggir anak Kali Lampir. Aku tidak tanya, naik apa semalam ia dari hotel. Pasti bukan sepeda motor karena tidak terdengar suara mesin motor dihidupkan ketika ia meninggalkan halaman hotel. Naik sepeda?

"Rumah Bu Yuni di sana itu Mas. Setelah Sampeyan melewati pohon kelapa yang berjejer itu," kata seorang lelaki sambil menunjukkan arah alamat yang kucari. "Saudaranya Bu Yuni?"

Aku mengangguk.

"Kalau siang ada di rumah kok. Tapi kalau malam bekerja di hotel ngurusi konsumsi untuk para tamu," jelas lelaki itu. "Dia memang jago masak."

"Njih, njih, matur nuwun Pak," balasku dalam bahasa Jawa yang masuk kategori krama madya.

Orang yang kucari ternyata sudah menunggu di teras rumahnya. Rumah yang asri. Semua dinding terbuat dari kayu. Punya halaman yang langsung berbatasan dengan bibir kali.

"Tanya-tanya sampai berapa kali, Mas" tanya perempuan iitu. Wajahnya tampak lebih muda jika tanpa olesan bedak. Gurat-gurat sisa kecantikan waktu muda masih tampak. Tapi melihat sorot matanya, ia seperti menyimpan rahasia yang sengaja disembunyikan rapat-rapat.

"Hanya tiga kali kok. Mbak Yuni sudah memberi ancar-ancar jadi mudah," kataku sambil masuk ke dalam.  (bersambung)-c


Rujukan
:
[1] Disalin dari karya Budi Sardjono
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi 23 April 2017

0 Response to "Ledhek dari Blora 14"