Malam di Miraos - Di Bahumu Ada Namaku - Kaligandu - Berkuda ke Utara - Sepi yang Tak Begitu Ramai | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Malam di Miraos - Di Bahumu Ada Namaku - Kaligandu - Berkuda ke Utara - Sepi yang Tak Begitu Ramai Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:30 Rating: 4,5

Malam di Miraos - Di Bahumu Ada Namaku - Kaligandu - Berkuda ke Utara - Sepi yang Tak Begitu Ramai

Malam di Miraos 

Kerena setiap pertemuan adalah cinta
maka kami bertemu penuh dengan cinta

Mata kami menyala,
seperti malam yang menyala di tiang lampu kota

Ha ha hi hi pada setiap meja
renyah seperti gerimis di jalan raya.

Seperti kau yang diam-diam mencuri mataku,
atau mataku yang diam-diam mencuri matamu.

Ha ha hi hi pada setiap meja
menyamarkan rasa kagumku pada matamu

atau rasa kagummu pada mataku
yang menyimpan senapan dan peluru,

yang jika kuarahkan pada keningmu
kau tak akan sanggup lagi berkata-kata


Kutub, 2017 

Di Bahumu Ada Namaku 

Bukan soal cinta, atau sesuatu yang tiba-tiba ada
Sebagai kata pembuka ketika kita berjumpa

Tanpa sengaja di bahumu ada namaku
Nama itu terus menyala, seperti api yang menyala

Atau seperti kau yang bahagia di depan kamera
Tidak pernah mati, tidak pernah sirna.

Kutub, 2017 

Kaligandu 

Pada jalan ini kita berhenti:
Mencegah sepi berdesakan pada perut kita.

Pohon-pohon ratusan tahun itu berdiri gagah
Dan setiap keindahan tidak dapat dijelaskan

dengan kata-kata. Kaki kata terlalu rapuh
untuk itu. Kau hanya berdesah dan berkata:

“Seperti pohon-pohon di Eropa” katamu.

Kutub, 2017

Berkuda ke Utara 

Negeri poci, negeri di utara
tempat para pengembara berjumpa

ketika pagi manyala,
ketika udara menebar bau bunga

ada puluhan kuda dari berbagai negeri,
dari berbagai kota

kata mempertemukan kita
sebagai ada, sebagai saudara

di utara, kita menebar ha ha juga hi hi
pada setiap tuangan poci pak Adri

“Ini secangkir puisi”
katanya penuh senyum sahaja.

Kutub, 2017 

Sepi yang Tak Begitu Ramai 

Masih ada suara riuh lirih disekitar kita
Dikejauhan kau menatapku, aku menatapmu

Kau yang tak kutahu siapa namamu
Bersenda dengan sepi yang tak begitu ramai

Ada angin yang hinggap pada daun telinga
Mengecupi tubuhmu, tubuhku juga

Ditengah-tengah senda yang aduhai
Masih seperti semula: kau manatapku,

Aku menatapmu. Lirih, lebih lirih dari suara
Angin malam yang santun.

Bayangkan saja, kita adalah sepasang pencuri
Dari sepasang mata, yang bergeliat dari meja

Ke meja cafe. Tanpa ada yang saling kehilangan
Tak ada yang saling bersinggungan.

Pincuk, 2017

Saifa Abidillah, saat ini menjadi manajer program Kutub Institute, sebuah wadah penulis muda, di Yogyakarta.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Saifa Abidillah
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 9 April 2017

0 Response to "Malam di Miraos - Di Bahumu Ada Namaku - Kaligandu - Berkuda ke Utara - Sepi yang Tak Begitu Ramai "