Masa Lalu di Meja Makan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Masa Lalu di Meja Makan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 11:27 Rating: 4,5

Masa Lalu di Meja Makan

Frankfurt Oktober, diramaikan dedaunan yang bagaikan pemain sandiwara sibuk berganti pakaian warna-warni yang berubah-ubah. Angin bergurau dengan helai rambut yang tak tertutup topi, berjuntai di tepi telinga ketika aku berjalan cepat menuju rumah.

SEMALAM, sebelum tidur, aku sempat menyingkapkan kain tirai jendela untuk melihat apa yang sedang terjadi di luar. Cahaya lampu jalanan dan angin menderu menampilkan bayang-bayang menari bergoyang, tarian pepohonan yang dipadu suara nyanyian alam masih bisa kudengar sayup-sayup menembus celah daun jendela. Sore hari aku masih melihat seluruh pohonan bergaun hijau, tetapi sekarang sebagian sudah berbaju kekuningan. Sebagai anak petani yang datang dari negeri dipanggang matahari, aku tertegun dalam kenikmatan. Apalagi beberapa puluh tahun yang lalu, ketika pertama kali menengadahkan telapak tangan menampung butir-butir salju beterbangan dari langit kelabu. 

Mbak Ntin sudah keluar dari selimutnya, tempat tidurnya sudah rapi. Tapi aku tidak melihat orangnya. Kami tidur di ruang tamu, ada dua sofa yang dibuka lipatannya menjadi tempat tidur. Ruang tamu ini ruang serbaguna, kalau diperlukan, meja besar yang ada menjadi meja makan, terutama kalau banyak orang yang akan ikut melahap masakan yang tersedia. Masakan beraneka ragam dibawa oleh orang yang datang, bersama membuka pesta masa lalu. Di meja makan itulah Suharto dihidupkan kembali kemudian dibunuh beramai-ramai. Tapi tidak lama kemudian, Suharto hidup kembali membumbui hikayat hidup orang-orang yang terhalang pulang. Suharto hebat, tidak pernah mati dalam perjalanan kaum kelayapan, terutama sekali kalau ada anak negeri khatulistiwa mampir untuk memetik harapan yang menggelayut dari langit-langit kiprahnya. 

”Pak Gung, sarapan sudah siap.” Terdengar suara Mbak Ntin di ruangan yang lain. ”Masih tidur apa?” 

”Sudah buka mata, buka telinga, dan buka mimpi Mbak. Sarapan apa?” 

”Yang semalam saja belum habis.” 

”Lha, yang semalam? Semalam, kan, kebab turki habis sampai ke bungkus-bungkusnya.” 

Terdengar suara tertawa renyah ringan, tidak hanya suara Mbak Ntin. Ada suara Go Koan dan Mercy. 

”Riwayat Jauhari, kan, belum tamat?” suara Go Koan menimpalinya. 

Rumah ini sudah dihuni oleh pasangan suami istri, Go Koan dan Mercy, sejak lima puluh tahunan yang lalu. Selalu menjadi rumah singgah, atau penampungan sahabatnya yang berkunjung ke Frankfurt dengan berbagai kesibukan. Tertawa renyah itu menandakan semua penghuni sudah kumpul di dapur, menyantap roti dan sisa kueh semalam, sambil nyeruput minuman yang diadon sendiri-sendiri. 

”Kebabnya habis, masa lampaunya yang belum.” Suara Mbak Ntin disambut oleh yang lainnya. 

Aku langsung bangun, dan sesudah membasuh muka nimbrung dengan mereka. ”Masa lalu itu selalu enak, seperti nasi kemarin yang dijadikan nasi goreng.” Sahut Mercy yang berasal dari Polandia. 

Mbak Ntin yang warga sebuah kota di Jerman, kukenal sejak sepuluh tahunan di Jakarta, tidak pernah aku ketahui seluk-beluk hidupnya. Biasa aku memanggilnya Mbak Ntin, tetapi di beberapa kota ia dikenal dengan panggilan Mbak Nunik. Bahkan, yang mengherankan, aku pernah mendengar ia dipanggil dengan nama Ling Ling. Ketika aku tanya siapa nama sebenarnya, dengan enteng ia menjawab, ”Ternyata nama tidak mampu mengubah manusianya.” Diteruskan dengan tertawanya terpingkal-pingkal, menertawakan dirinya sendiri. ”Intel punya beragam foto saya, dari samping kiri, kanan, atas, dan mungkin telapak kaki saya juga.” 

”Sebegitunya Mbak.” 

”Orang sering tidak percaya. Di sini lebih seru Pak Gung. Di tanah air, intelnya, kan, jelas orangnya. Di sini, ya Allah, ampun.” 

Cerita dari teman lain mengatakan kalau seseorang punya nama Tionghoa berarti ia pernah di Tiongkok, entah bersekolah di sana, atau datang ke Tiongkok sesudah peristiwa. Kata peristiwa cuma punya satu tafsir, yaitu gerakan yang terjadi pada tanggal satu Oktober subuh yang berpusat di Desa Lubang Buaya, pada tahun 1965. Letupan peristiwa itu ternyata lebih hebat jika dibandingkan dengan bom atom yang melantakkan Hiroshima, manusia dan kemanusiaan, serta menumbuhkan dampak keretakan bangunan kejiwaan di seantero dunia. Mbak Ntin, atau Ling Ling, masih takut diketahui siapa ayahnya yang entah di mana keberadaan jenazahnya. Ia memutus urat nadi keturunannya, dan masih dihantui mata-mata, walaupun sejak umur belasan tahun sudah meninggalkan kampung halaman pergi menuntut ilmu di benua seberang. Kesarjanaannya dia kempit di ketiak untuk tidak diketahui orang, dan memulai hidupnya menjadi penjaga toko. 

”Sakit hati, nelongso, dan takut Pak Gung,” suatu pagi di meja makan ia berucap. Waktu itu kami sedang menginap di sebuah rumah sahabat di Koln, seorang wartawan-penyair yang tidak berani menulis selama masih bekerja. Sesudah pensiun dari pekerjaan sebagai tata usaha di sebuah pabrik, ia terseok-seok melanjutkan kemampuan kesastraannya, dan beruntung bisa menjadi orang yang tidak ketinggalan zaman. Dalam sehari mungkin hampir lebih dari sepuluh kali menunjukkan sertifikat tanda jasa dari instansi tempatnya bekerja. Maaf, seperti orang mulai bego. Dari sorot matanya memancar api dendam dan nyala gereget yang tak terpadamkan oleh guyuran salju dan lembarlembar euro jaminan hidupnya. Kami selalu mengadon masa lalu dengan masakan jawa timuran yang dihidangkan oleh istrinya dalam sarapan, makan siang dan makan malam. Boleh jadi masakan itu menghidupkan mereka seperti berada di desanya di Kerian. Di meja makan masa lalu tidak pernah habis dikunyah dan dicerna. Di meja makan, masa lalu disantap untuk menerima dan memelihara kekinian. 

”Mas, apa sampeyan bangga menjadi wong Jerman?” Terpancar kekosongan yang gemuruh dari bola matanya. Aku takut memandangnya dan merasa bersalah mempertanyakan nya. 

”Aku sekarang sedang menabung untuk membeli liang kubur kalau kami mati.” Suaranya lirih. Terkesan jalan pulang ke kampung sudah ditutup mati dan dihapus dari peta kehidupannya. 
Aku adalah penjelajah ke sudut-sudut dunia 
    langkah diayun mimpi yang 
tidak pernah ketemu siang 
    aroma tanah sawah menempel 
di saluran pernapasan 
    sekalipun deru angin musim 
gugur mengiris daun telinga 
    masa lalu terus disantap di 
meja makan. 
Mbak Ntin selalu menjadi pemandu aku berkeliling di beberapa negara dan kota di Eropa. Ke mana pun pergi, selalu ketemu dengan masa lalu yang menjadi pelengkap makanan, senda gurau, mimpi getir dan rasa kangen yang menyakitkan. Pada kunjungan pertamaku di Frankfurt, di tahun 1989, aku ketemu dengan bekas guruku di SMA di kota kelahiran. Kami seolah membentangkan peta lama yang mulai sobek dan buram, karena sudah lama tidak hidup lagi di dalam ingatan. Ia menceritakan kehebatan prestasinya di universitas tempat ia dikirim bersekolah oleh Sukarno. Tapi itu tidak berarti apa-apa sesudah pindah ke Jerman Barat, prestasinya kehilangan nilai bersamaan dengan kejatuhan Sukarno. Ia menjadi sopir taksi, kemudian penjaga restoran, dan pada waktu kami berjumpa dia sedang kehilangan mata pencarian. Aku merasa bersalah besar, menganggap teman-teman yang kelayapan terhalang pulang itu, beban hidupnya jauh lebih ringan, tidak bisa dibandingkan dengan orang yang tertuduh di Tanah Air. Temanteman itu, pikirku, tidak perlu bingung dengan segala macam masalah papan, sandang, pangan, karena mendapat bantuan negara tempatnya berlindung. Terutama sekali, keamanan terjamin, tidak perlu menghadapi Babinsa, lurah, intel yang bagaikan ulat bulu selain membuat gatal juga menyebarkan virus kebencian. 

”Pak Ngurah, mau titip apa untuk keluarga? Mungkin saya bisa bawa.” Pertanyaan saya membuat ia tercenung. Lama saya menunggu jawabannya. Ia terdiam. Tapi pada akhirnya ia bicara, ”Tolong, anggap tidak pernah ketemu saya.” 

Frankfurt pada bulan Oktober, entah tahun berapa saja selalu menghadirkan pepohonan yang bagaikan pemain sandiwara sibuk berganti-ganti pakaian. Hari ini aku tidak melihat lagi pepohonan bermantel hijau, sudah berganti dengan warna kuning, bahkan beberapa jenis pohon sudah berdaun kemerahan. Dedaunan itu akan segera gugur, menelanjangi pepohonan yang akan menjelma menjadi tulang-tulang tubuh yang telanjang bulat. Itulah caranya bertahan hidup, untuk kemudian, beberapa bulan kemudian akan mengundang umat bergembira riang menyambut kuntum bunga beragam jenis dan warna. Sore nanti saya, tentu saja dipandu Mbak Ntin, akan pindah ke Achen, sebuah kota di ujung tanduk pertemuan Belgia, Belanda, dan Jerman. 

Ketika saya sedang berbenah, Mercy menghampiri saya. 

”Gung, sudah tahu cerita Pak Ngurah?” 

”Sayang ya, dia tidak datang. Dia masih di Frankfurt?” 

”Mungkin semalam dia ikut di meja kita, walau kita tidak melihat fisiknya.” 

”Haaa, dia sudah meninggal?” 

”Tragis. Tak ada orang yang tahu dia meninggal. Bau mayatnya menyebabkan tetangganya memanggil polisi dan mendobrak pintu masuk. Mungkin sudah tiga hari sebelumnya ia meninggal.”* 

(Salam buat Mbak Ning, Hok An, dan Helgard)


Putu Oka Sukanta, 78 tahun. Menerima Award dari Hellman/Hammett Human Rights Watch New York 2012 dan Award Human Rights Education Herb-Feith Foundation Australia 2016 atas karya sastra dan kegiatannya di bidang hak asasi manusia. Beberapa novel, kumpulan cerpen, dan kumpulan puisinya sudah terbit dalam bahasa Indonesia, Jerman, Inggris, dan Perancis.  


Rujukan
:
[1] Disalin dari karya Putu Oka Sukanta
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" Minggu 9 April 2017

0 Response to "Masa Lalu di Meja Makan"