Mata Ikan (* - 228 (* - Di Sut Yat-Sen Memorial Hall - Cu Cai Kiok1 | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Mata Ikan (* - 228 (* - Di Sut Yat-Sen Memorial Hall - Cu Cai Kiok1 Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:00 Rating: 4,5

Mata Ikan (* - 228 (* - Di Sut Yat-Sen Memorial Hall - Cu Cai Kiok1

Mata Ikan (*

adakah lambung kapal layar
yang lebih menawan
daripada ini lambung kapal
         bermata ikan

adakah lambung bangsa
yang lebih asam
daripada lambung kami yang
          bertolak ke selatan

ketika itu, kami mengira
bisa menaklukkan tanah barbar
ketika itu, kami menyangka
bisa menambang pundi-pundi uang

tetapi angin musim barat daya
yang berhembus di nanyang
lamat-lamat terdengar jua
      bagai isak tertahan
         di kampung halaman

barangkali -- katamu -- kami
hanyalah budak; berpeluh
dipanggang matahari terik,
      menggigik diguyur hujan tropis

dijerat candu, judi
    dan perempuan murahan
hingga hutang kami menjualng
    setinggi maras, hingga peluh kami
           menggenang sedalam kelabat

namun revolusi di tanah kelahiran
kelak, kau tahu, tak cuma
     mencatat nama-nama mereka
        yang berniaga ke selatan

melainkan juga
air mata kami
     yang tercurah
             di mong kap san

sepanjang tahun-tahun
     yang rusuh dan bimbang

setelah turun dari kapal

Yogyakarta, 2017



*) Julukan bagi sebuah kapal layar pengangkut kuli tambang timah dari Cina terkenal di abad ke-19. Orang Inggris menyebutnya sebagai fish eyes, lantaran kedua sisi lambung kapal ini dihiasi dengan gambar mata ikan. Namun banyak pula yang menjulukinya sebagai Penjara Terapung, karena kehidupan di dalamnya yang benar-benar bak penjara. 



228 (*

"dari saanalah bermula pembantaian!"
ujar temanku wu ting kuan, sambil
           menunjuk ke seruas jalan

suaranya sedikit menyimpan
kegusaran, barangkali dendam
dari masa silam
       yang ia baca dan dengar
          sepenggal demi sepenggal

tapi aku yang datang dari jauh
      gugup membayangkan
petugas darii kantor tembakau,
juga itu polisi yang mengungsi
         dari daratan -- bengis
merampas rokok ilegal jualan
      si janda malang

di muka gedung-gedung pertokoan,
di antara lalu lalang orang

samar kulihat bebayang
seorang lelaki yang dulu terkapar
ketika mencoba menentang
     kesewenangan, ketika
        membela kampung halaman

"ya, dari sanalah berawal kemarahan,"
kata wu ting kuan seperti menahan geram

lalu mereka pun berbaris,
    turun ke jalan-jalan, berderap
menyambut republik china
dengan spanduk dan dada terkoyak
: seraya merindukan nippon
yang membangun stasiun kereta,
       gedung-gedung dan jembatan

'taiwan bukanlah zhongguo!'

kudengar seseorang serak berteriak
menjelang pelantikan presiden,
bagaikan suara si mati
yang bertahun-tahun lamanya
            terbungkam

saat teror putih berdesing
di jalan raya, merayap
di lorong-lorong; singgah
             dari rumah ke rumah

ah, di pojok museum penyesalan;
di antara nama-nama terbaring,
potret kusam dan surat cinta
         penuh bercak air mata

diam-diam aku pun terkenang
pada kata kakek:
     "adikku dulu bergabung
     dengan pasukan chiang dan
     lari ke taiwan selepas perang."

kutemukan wu ting kuan masih
termangu di trotoar, seperti ngungun
        merenungi kampung kelahiran

Taipei 2016


*) Insiden 28 Februari atau lebih dikenal sebagai Insiden 228 adalah peristiwaa pembantaian terhadap para demonstran di depan Kantor Monopoli Tembakau, Taipei, Taiwan, 28 Februari 1947. Unjuk rasa ini memprotes pemukulan seorang perempuan pedagang rokok dan penembakan atas seorang lelaki yang dilakukan oleh petugas Kantor Monopoli Tembakau dan polisi sehari sebelumnya. Gubernur Taiwan, Chen Yi, menjawab para pendemo dengan senapan mesin. Insiden ini menandai permulaan periode pemberlakuan hukum militer yang dikenal sebagai "White Terror" (1947-1987) oleh pemerintah ROC-Kuomintang, dan menjadi pendorong utama gerakan kemerdekaan Taiwan. 


Di Sun Yat-Sen Memorial Hall

tabik untukmu,
    wahai sun zhongshan!

dari nanyang aku bertandang

menziarahi sesayup riwayatmu
yang turun temurun dituturkan
      di rumahku
           selepas makan malam,

"dulu ada seorang hakka,
        seorang dokter
berikhtiar membedah kanker-
yang menggerogot tubuh china
           dengan revolusi; dan ia
menumbangkan feodalisme
yang telah bertahta
         lebih dari dua milenia"

demikianlah cerita ayahku,
dengan gema terus memanjang
sepanjang ingatan, sepanjang usia

maka aku pun menjengukmu
sebagai tamu yang latah,
mencoba kembali membaca
sejarahmu lebih utuh,
      dari ruang ke ruang
         dari kiri ke kanan
            dari hati ke hati

seraya menggali setiap haru
yang nyaris terkubur di tanah jauh;
tempat kami menggenai nasib
          sebagai tetamu abadi

tetapi sun wen, pulau ini pun
ibaat tanah perantauan
     (atau rumah pelarian)

bagi mereka yang mengaku
bersetia pada api 1911,
            pada bendera matahari;
sepenuh rindu, juga dendam
memandang daratan yang kian
      menjauh dari
           arah kenangan

:juga bagimu yang diungsikan
sebagai bapa bangsa dalam wujud
monumen peringatan mirip ilusi

sebab siapa pun bakal mengenali
api yang dulu kau percikkan
di hongkong atau london,
       di penang atau guangzhou
namun, tidak di pulau indah ini

dimana arcamu tegak selayak
    tamu agung di tengah hari
dan sanmin zhuyi yang
         mengilhami bangsa-bangsa
mulai dinyanyikan
                 dengan sedikit sangsi

hingga setiap dari kita
mesti membaca ulang
riwayat diri sendiri

karena itu, terimalah kiranya
            tabikku, zhongshan!

tabik orang hakka yang gagap
mengenang tanah leluhur dan
     menjaga lidah ibu ini


Taipei, 2016


Cu Caik Kiok1

begitulah, kisanak!
kami menggadaikan diri
    ke selatan
        ke tanah orang barbar

dan ratusaan tahun kemudian,
kalian yang makan enak pun
mengenang kami
       sebagai anak-anak babi sial
       yang diangkut ke atas kapal;
             kadang demi kandang,
             kawanan demi kawanan

"di nanyang, di negeri-negeri selatan
saban hari kau bisa minum arak wangi,
menyantap babi panggang!"

takkan lupa kami pada sesumbar
para calo kuli bermata jalang
       yang lebih berbisa dari ular
menjalar di kampung halaman,
berdesis di pintu-pintu rumah
             melontarkan rayuan

takkan lupa pula kami pada sanko(2)
berima serupa pantun orang barbar
yang parau ditembangkan
di bibir-bibir pelabuhan, tatkala
            menunggu keberangkatan:

      yit sung ngai long hi ko fan
      yong son ten to yet hoiguan
      ngai ko xiong hi yu xong con
hi qiu yungyi con he nan.(3)

dengarlah, kisanak!
betapa serak iramanya melintassi
            laut china selatan, terus
mengendap di lubang-lubang tambang
     dan kebun sahang, di pintu-pintu
     kelenteng dan sepanjang pasar

di ujung lidahmu yang tak juga fasih
bertutur bahasa barbar; hay di negeri asing
yang kau tulis sebagai rumah,
        sebagai kampung halaman

seraya meneguk harum arak,
melahap gurih babi panggang


Taipei-Yogyakarta, 2016-2017


1) Bahasa Inggris: Piglets Labour. Sebutan untuk para kuli tambang timah dari Cina yang menggadaikan diri ke Pulau Bangka pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Konon, mereka diperlakukan secara tidak manusiawi dan dijejalkan ke atas kapal seperti anak-anak babi yang hendak dijual.
2) Tembang Bukit (Hill Song). Pantun China-Hakka. Terdiri atas empat baris sebait sebagaimana pantun Melayu, umumnya dengan rima a-c-a-a, a-c-a-b atau a-a-a-a.
3) Karya anonim. Saya terjemahkan sebagai berikut:
                 Mengantar menantuku pergi berlayar 
                 Kapal asing menanti syahbandar pelabuhan Guangdong,
                 Kakakku ingin pergi ingin pula pulang,
                 Pergi begitu mudah pulang demikian sulit.





Sunlie Thomas Alexander lahir pada 7 Juni 1977 di Belinyu, Pulau Bangka. Menyelesaikan studi Teologi-Filsafat di UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Belum lama ini sejumlah puisi dan cerpennya terbit dalam terjemahan bahasa Mandarin di Taiwan dengan judul "Youling Chuan" (Taipei: Sifang Wen Cuang, 2016).






Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sunlie Thomas Alexander
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" edisi 9-10 April 2017



0 Response to "Mata Ikan (* - 228 (* - Di Sut Yat-Sen Memorial Hall - Cu Cai Kiok1"