Melewati Jembatan Gantung - Menulis Puisi untuk Kigo - Kuali Shen Nung - Menjelang Nyepi - Di Tukang Cukur | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Melewati Jembatan Gantung - Menulis Puisi untuk Kigo - Kuali Shen Nung - Menjelang Nyepi - Di Tukang Cukur Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:36 Rating: 4,5

Melewati Jembatan Gantung - Menulis Puisi untuk Kigo - Kuali Shen Nung - Menjelang Nyepi - Di Tukang Cukur

Melewati Jembatan Gantung

Sepanjang hidupnya
ia telah melewati jembatan itu—
titian yang selalu berkabut dan sunyi,
hingga detak jantungnya sendiri terdengar
sejelas debar yang gentar.

Hatinya selalu murung menjelang
ujung. Seolah ada yang ingin tahu,
seolah ada yang menunggu.

Tapi tak pernah ada kata-kata
yang tiba. Suara benda-benda tak berbicara.
Hanya kabut, sunyi yang menggantung itu
dan ia yang tiba

terlebih dulu.
(Mataram, Maret 2017)

Menulis Puisi untuk Kigo

— Kigo Bhanu Samarkand —

Aku harus menunggunya terlelap
agar kata-kata lebih mudah
ditangkap.

Tapi ia seterang lampu belajar,
tapi ia seterjaga pengabar,
tapi ia semuda pengelana
yang tekun mengitari waktu.

Dan waktu,
baginya adalah benda-benda:
benda-benda cahaya, benda-benda
yang riang— ruang dan sarang
bagi suara-suara
(Pagesangan, 25 Maret 2017)

Kuali Shen Nung

— Camellia Sinensis —

Ia berterima kasih pada angin
yang meniupkan kisah daun-daun
ke dalam kuali Shen Nung.

Ia berterima kasih pada aroma
kebaikan yang telanjur menyebar
dari kaisar yang segar.

Ia memikirkan pertemuan:
sebuah pagi, sebuah perjamuan.

Ia teringat rasa sedap selepas
pahit dan sepat. Ia sesap juga
kehilangan yang bermartabat.
(Pagesangan, 26/03/17)

Menjelang Nyepi

Ada yang mesti dipersiapkan menjelang Nyepi:
persembahan, doa-doa, penyerahan,
mungkin sedikit hati yang sepi.

“Berapa kali kau lalui sepi?”

Mungkin berkali-kali Nyepi,
berkali-kali hening yang ini.
(Pagesangan, Maret 2017)

Di Tukang Cukur

Sebuah cermin telah menangkapnya
dan membawanya ke tukang cukur.

Di tukang cukur, laki-laki itu
menatapnya — laki-laki berambut sebahu
yang matanya mabuk candu— mencoba
mempengaruhinya.

Tapi hatinya telah tabah, tak akan gegabah
mengenang harum tipis sampo pada rambut
kekasihnya yang masih basah. Tak akan hanyut
pada cinta sebahu yang kerap menyembunyikan rindu
yang merinding di tengkuknya. Tak akan turut
mengutuki dingin yang meluap dari kamar mandi.

Tapi bercukur, kau tahu, terkadang tak harus menjadi
perihal yang sederhana. Di tempat-tempat lain,
dalam perasaan-perasaan yang lain, (ia) bisa saja
menciptakan potongan-potongan kehilangan.

Tapi ia tak ingin kehilangan apa-apa. Ia telah tertawan.
Dan sepotong cerminlah yang akan
menyelamatkannya.
(Pagesangan, 25 Maret 2017)



Tjak S. Parlan, Lahir di Banyuwangi, 10 November 1975. Puisi-puisinya telah diterbitkan dalam sejumlah antologi bersama antara lain: Simpang Lima (2009), Dzikir Pengantin Taman Sare (2010), Dari Takhalli Sampai Temaram (2012), Sauk Seloko (2012), Mahar Kebebasan (2013), Kembang Mata (2014), Ironi Bagi Perenang (2016). Diundang menghadiri Temu Sastrawan Indonesia IV (Ternate, Oktober 2011) dan Jambi International Poet Gathering (Jambi, Desember 2012). Tinggal di Mataram-Nusa Tenggara Barat. ❑-e



Rujukan:
[1] Disalin dari karya Tjak S. Parlan
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" Minggu 2 April 2017

0 Response to "Melewati Jembatan Gantung - Menulis Puisi untuk Kigo - Kuali Shen Nung - Menjelang Nyepi - Di Tukang Cukur"