Merah Putih - Mari Tetap Berbeda - Kotabaru - Pengasingan Puisi | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Merah Putih - Mari Tetap Berbeda - Kotabaru - Pengasingan Puisi Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:30 Rating: 4,5

Merah Putih - Mari Tetap Berbeda - Kotabaru - Pengasingan Puisi

Merah Putih 

bendera berkibar menjadi kabar 
merah putih memberi arti benar 
merdeka adalah darah merah 
merdeka adalah tulang putih 

merah putih menjadi saksi 
rakyat Indonesia pemberani 
memilih mati jika tidak merdeka 
kehormatan bangsa lebih utama 

berkibarlah merah putih yang gagah 
Indonesia raya menggema di telinga 
dari Sabang sampai Merauke jadi satu 
merdeka Indonesia merdeka Indonesia 

Jember, Agustus 2016 

Mari Tetap Berbeda 

Indonesia milik bersama 
sesuai ikrar bakti nusa 
dari Sabang sampai Merauke 
perbedaan adalah kekayaan 
gesekan hanya adu domba 
kesadaran adalah pangkal 
Indonesia akan tetap jaya 

Jember, 2016 


Kotabaru 

dari laut Madura aku berlayar 
ke tanahmu tak bersandar 
tapi laut di manapun sama 
tetap asin dan berpanorama 

keindahan tak akan tenggelam oleh laut 
kecuali pasir sudah tidak membisikkan cinta 
tentang tanah dan kisahmu 
akan teriwayatkan dalam puisi 

Jember, 26-07-2016 


Konflik Estetika 

ini puisi, bukan 
pendapat yang ditulis, tanpa 
estetika yang lagi berkonflik, dengan 
para penyair, palsu 

ini puisi, adalah 
kehidupan yang digambarkan, tanpa 
ego yang lagi berkepentingan, dengan 
para kritikus, palsu 

konflik estetika, bukan 
pembaruan yang ditulis, dengan 
meniru. Amir Hamzah, Chairil, Sutardji atau 
pun Afrizal bukan pembaharu 

estetika puisi, bukan 
mata kanan atau kiri, sebagaimana 
Dami N. Toda menulisnya, dalam 
memaknai estetika 

estetika puisi, adalah 
kesepakatan sebagian kecil, sebagaimana 
Muhammad Lefand mempelajarinya, dalam 
mencari estetika 

konflik estetika, adalah 
tanda tanya yang dipaksakan, dengan 
meniru. Sebagian dari banyak penyair, atau 
pun yang bukan perlu dipertanyakan 

Jember, 24-07-2016 

Pengasingan Puisi 

di dalam hati di bawah kesadaran diri 
di atas kehendak imaji 
di antara estetika sunyi 
di setiap detak nurani 
mengendap liris 
menolak sempurna 
dalam keterasingan jiwa 

Jember, 23-07-2016


Muhammad Lefand, lahir di Sumenep, Madura. Antologi puisi tunggalnya berjudul Jangan Panggil Aku Penyair (Ganding Pustaka: 2015), Khotbah Renungan tak Utuh Jarak dan Jagung (Pena House: 2016), Kronologi Imaji (FAM Publishing: 2016), Revolusi Mental dan Estetika (2016).


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Michael Lefand
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 16 April 2017

0 Response to "Merah Putih - Mari Tetap Berbeda - Kotabaru - Pengasingan Puisi "