Merajut Kasih dan Angan - Membunuh Sepi - Elegi Musim | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Merajut Kasih dan Angan - Membunuh Sepi - Elegi Musim Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:35 Rating: 4,5

Merajut Kasih dan Angan - Membunuh Sepi - Elegi Musim

Merajut Kasih dan Angan 

Dalam kesunyian yang teramat kelam 
Lentera menemaniku di sudut ruang 
yang temaram 
Membias lembut pada bayangmu 
yang serupa mentari pagi hari 
Meski terkadang diam membisu, 
Tak jemu kurajut kasih dalam luka kalbu, 
Tak sirna kusulam rindu dalam duka pilu, 
Sekalipun hanya bersua lewat igau semu. 

Aku adalah lelaki yang menyimpan harap 
dibalik ironi yang menggerogoti masa lalu 
Berharap hadirmu mampu mengobati 
Sampai suatu saat nanti, 
airmataku dilenti, 
nafasku terhenti, 
Aku masih menunggu tuk merajut angan yang 
terlupakan bersamamu 

Pekanbaru, 2016 


Membunuh Sepi 

Tertunduk kaku pada buaian asmaramu 
Terjerat daku pada bualan manismu 
Saat kau bisikkan kata-kata di malam bulan 
purnama 
Yang menyeruak ke ujung syaraf-syaraf 
hormonku 
Hingga lepas kendali tak tertahankan lagi 

Kini kau pergi tanpa meninggalkan jejak kaki, 
Bersama gelayut jiwa yang menari-nari, 
Menggoreskan luka di relung hati, 
Membuat semua harapan terhenti dengan 
tangisan cacimaki 
Seolah membunuh rasa sepi dengan tangan 
sendiri 

Aku hanya bisa meratapi nasib yang 
diselimuti kabut mimpi 
Sembari melukiskan canda tawa palsu 
menutupi sejuta air mata kerinduan 

Pekanbaru, 2015 


Elegi Musim 

Selepas gumpalan putih serupa kapas lesap 
dengan jejak waktu yang membekas dalam 
gurat kaki yang amat lekat, pancaroba masih 
menanti giliran sebagai petani ulung yang 
meraba nasib jutaan benih dari liang tanah. 
“Seumpama musim yang silih berganti, 
kita pun pasti mati. Sebagai khalifah yang 
memeluk bumi dalam curam kehidupan 
yang entah berapa lama. Kukenang ladang 
panjang, padang gersang, batang pinang, dan 
segala yang melintang” 
Jika hujan akan turun membasahi semesta, 
kubuka hektar sawah dan ladang-ladang 
sama rata. Menimbun mimpi-mimpi tuk 
menghasilkan masa depan yang lebih matang. 
Serupa akar yang tertanam dalam tanah yang 
dibasahi oleh air mata, saling mengikat satu 
sama lain, menidih bibit-bibit ubi, hingga 
membentuk tunas-tunas yang unggul dalam 
persaingan hidup ini. 
langit mulai pudar menanti semi yang tak 
pernah singgah di hati para petani. Mungkin 
jarak mereka terpaut jauh hingga merobek 
cakrawala dengan memintal segenap musim. 

Sumbar, 2016 


Mulya Jamil, Lahir di Dumai, 21 Juli 1995. Sedang menempuh pendidikan di Universitas Islam Riau. Bergiat di Malam Puisi Pekanbaru, Gerakan Komunitas Sastra Riau, Media Mahasiswa Aklamasi, dan Competer. 


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Mulya Jamil 
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 16 April 2017

0 Response to "Merajut Kasih dan Angan - Membunuh Sepi - Elegi Musim "