Pejabat Baru | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Pejabat Baru Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 10:00 Rating: 4,5

Pejabat Baru

ATAS pemanggilan pejabat baru yang seminggu lalu dilantik dengan sangat meriah, tuan Ramadhan Mulia namanya, dia terpaksa datang kembali ke kantor. Ada yang mau dimintai pendapatnya oleh pejabat baru itu. Ini biasa, pikirnya, tak ada yang janggal. 

Selesai mereka makan siang, Ramadhan Mulia meminta daftar orang atau kelompok yang pernah datang kepadanya meminta uang. Dia terhenyak kaku, jantungnya berdetak cepat. Permintaan yang sungguh sungguh tak ia duga. Beberapa orang yang mengaku dari gedung Dewan, dari yayasan milik pejabat anu, lembaga anu memang pernah dia beri uang dan jumlahnya tak sedikit. Sialnya tiap tahun mereka terus datang dengan ancaman kata kata manis: bahwa semua uang itu adalah untuk kepentingan daerah pemilih, terutama dewan yang mulia dalam urusan keagamaan, bukan untuk urusan lain apalagi foya foya dan main perempuan. Dia pun tak bisa menolak, walau dia tahu itu melanggar undang undang. 

Begitulah mereka, dia harus memberi, satu satunya kesalahan yang disadarinya, rahasia yang ditutupinya rapat rapat. Semoga Pejabat Baru ini maklum bahwa urusan seperti itu rumit, pikirnya, siapa pun pejabatnya. Sialnya Ramadhan Mulia berkeras dia ingin satu atau dua nama yang paling dikenal publik. Nyaris kencing di celana dia berkata keras bahwa dia tak akan menyebutkan satu atau dua nama itu, apapun taruhannya, diakuinya itu kesalahan. Bukankah tak ada gading yang tak retak? Lagipula dia tak memperkaya diri sendiri selama menjabat, tak mencuri, kekayaannya tetap tak bertambah dari dulu! Istrinya juga tetap satu, rumahnya juga satu dan sederhana. 

“Aku tak ingat lagi siapa mereka, aku merasa sudah begitu tua!” 

“Sangat disayangkan....” 

“Aku tidak bisa menolak mereka, tapi tidak serupiahpun uang negara yang kuambil untuk pribadi, juga anak anak dan istriku. Tidak pernah selama aku menjabat! Aku percaya saja kalau itu untuk kepentingan keagamaan, lagipula masa aku tidak percaya kepada mereka, anggota dewan?” katanya bergetar. 

“Memperkaya orang lain bukankah itu juga bagian dari yang selama ini anda berjuang keras memberantasnya?” 

“Benar,” Dia nyaris tak bisa meneruskan kata kata, tubuhnya lungkrah. 

“Terkadang kita sudah merasa bersih jika membandingkan dengan orang yang kita lihat tampaknya kotor,” katanya seraya tersenyum. 

“Benar,” jawabnya lagi, kelu. “Semoga Bung bisa lebih baik lagi memimpin departemen ini. Aku jelas jelas bukanlah sosok Malaikat seperti yang mereka anggap selama ini.” 

Ramadhan Mulia tertawa penuh kemenangan. “Tidak sesederhana itu Bung, tidak sesederhana itu bukan?” 

***
Sudah beberapa hari dia tak bisa tidur, pikirannya kacau, bahwa kemarin dia juga telah berbohong, jelas dia masih ingat semua siapa saja yang datang meminta, wajah mereka yang selalu dipenuhi senyum. Jas bagus, mobil mewah. Itulah kesalahannya, dia tak bisa menolak setelah mereka menyebutkan nama nama para Malaikat itu, mereka yang kerja keras membuat undang undang. 

Dia tak mengumpulkan harta, hidupnya sederhana, selalu melihat ke bawah rakyat yang menderita, anak istrinya tak hedonis, bahkan gajinya sering disumbangkan ke yayasan yayasan sosial. 

Dia jadi sangat gelisah. Demi menenangkan perasaannya dia lalu mencari kartu nama Martinus Dokon dan meluncur cepat ke alamat rumahnya. 

Di rumah Martinus rupanya sedang ada pesta syukuran yang meriah, mobil mewah berbaris, karangan karangan bunga ucapan selamat tertulis bahwa: Martinus telah diangkat menjadi Direktur sebuah badan usaha milik pemerintah, dia tercengang kaku. 

Dia lalu mencoba mengirim pesan singkat. Martinus membalas dengan cepat, meminta untuk ketemu besok di sebuah hotel. Hotel tempat pertemuan bisa berpindah di menit terakhir, isi pesan itu membuatnya sedikit lega, tapi juga pintu kecemasan baru. 

***
“Maafkan Bung, aku tak sempat berterima kasih pada Bung. Posisiku sekarang karena budi dibalasbudi, lama prosesnya, juga berkat kebaikan dan kemurahan dana dari Bung dulu,” kata Martinus tenang. 

“Ramadhan Mulia minta satu atau dua nama yang paling dikenal, andalah orangnya, aku sudah menyesal di depannya tapi dia terus mendesak.” 

“Tenang Bung, santai.” 

Jawaban itu tak membuatnya tenang, dia merasa makin gelisah. Wajah Ramadhan Mulia terus membayang dengan senyum liciknya. 

“Siapa yang kau telepon?” 

“Bukan siapa siapa, tenanglah, santai....”  

***
Dia tiba lagi di ruang kantor Ramadhan Mulia. Dia menaruh kotak yang kata Martinus berisi Durian Monthong, Martinus tahu itu kesenangan Ramadhan Mulia dan keluarga, juga sampaikan salam hangat dari Martinus. 

Kotak besar itu memang benar durian, bukan duit untuk dibagi bagi yang bisa membuat mereka kena sergap operasi tangkap tangan, Durian monthong pembawa pesan bahwa Martinus akan mengembalikan uang itu. Mungkin lebih besar lagi. Lalu mungkin nanti ada kiriman lainnya demi pertemanan, Apel Washington, buah Naga? Dan dia bertugas menjadi kurir pengantar yang dipercaya, seperti anjing yang setia, sungguh masa tua yang menyedihkan! 

Ramadhan Mulia membuka kotak durian dengan tertawa tawa seperti tak sabar untuk menyantapnya. Lalu sebelum ruangan dipenuhi bau yang menyengat, dia minta izin pulang, Ramadhan Mulia mengangguk singkat saja seperti tak peduli. Dan dia merasa melayang hampa tak berharga, sungguh masa pensiun yang menyakitkan. 

Di dalam mobil dengan beberapa kawan Martinus yang berwajah kaku bak topeng kayu mereka meninggalkan gedung kantor itu dengan cepat, dahinya berkeringat, mobil yang dingin senyap itu seakan berisi sianida, merayap pelan meninggalkan halaman parkir. Lelah dan dengan mata nanar dia menatap mendung pekat langit di atas gedung berbentuk setengah spiral yang pernah dibanggakannya itu. 

Kerja keras yang diupayakannya masih tak berarti banyak, bahkan ia tak berharga, bagaikan seekor rusa tua yang sekarat putus asa di bawah kaki kaki para Srigala. 

Keesokan harinya dia pergi membawa lamaran untuk bisa bekerja menjadi pimpinan komisi anti korupsi yang baru membuka lowongan, walau itu dirasanya semacam pelipur lara. Dia menginginkan jabatan itu, dan akan mendapatkannya, sebisa mungkin ia akan melawan apa yang terjadi, dia akan melawan, di tengah kegaduhan, kegalauan, seperti mencari ikan dalam air yang keruh. -e 


Ganda Pekasih, pernah menjadi wartawan Majalah Anita, anggota PWI Jaya. Buku bukunya al, Maha Suci Cinta-Mu dan Bidadari Bidadari Bumi. Berdomisili di Jakarta. 


Rujukan:
[1] Disalin dari karya  Ganda Pekasih
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" Minggu 2 April 2017



0 Response to "Pejabat Baru"