Pelangi untuk Mawar | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Pelangi untuk Mawar Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 10:22 Rating: 4,5

Pelangi untuk Mawar

ENTAH, langit tiba-tiba memerah, angin mengalun merdu menyapu dedaunan rambatan pohon tua. Bahkan, di daun telinga pun, sangat terdengar jelas suara angin yang menyusup mengalun itu. Bi pun tergoyang pelan, rambutnya tersapu menjadi berantakan.

BULAN malam ini pun entah ke mana? Tak seperti malam yang biasanya, sedikit pun biasnya tidak nampak di antara cela awan-awan yang basah. Begitu pun dengan bintang. kedip kecil yang sering nampak dari langit, hanya sesekali terlihat di antara awan yang memerah itu. Mungkin, bisa saja, bias rembulan itu terselip di kedua bola matamu?

Ataukah, bintang merasa betah tersesat di sudut tipis bibirmu, hingga bintang tak mau pulang ke tempat yang seharusnya ia terdiam. Ya, langit-langit bibirmu Mawar.

Mawar yang mahamanis, Mawar yang memiliki kelopak sneyum seperti bunga Mawar meranum yang tak lama lagi mekar memerah di garis fajar. Tiap tuturnya bak syair -- syair Sufi yang bijak, dan penuh dengan sarat makna kelembutan cinta. Gemulai indah tubuhnya harum bertabur semerbak mewangi khas dari sari bunga di taman. Mawar  perempuan penyeduh sendu. Terkadang, rambutnya dikepang dua, dan tak jarang juga, rambutnya dibiarkan saja terurai memanjang hingga pundak.

Mata dan alisnya sejodoh, saling melengkapi kecantikannya. Itulah alasan mengapa Bi, jatuh cinta. Bahkan, jatuh hingga berkali-kali, dan terempas lalu bangkit kembali. Walau sampai kapan pun, bahkan dalam kondisi hujan sekali pun. Bi akan tetap menunggu. Tak ada kata jenuh yang keluar dari mulutnya. Walau, terkadang hinaan selalu saja terdengar. "Woiiiii...! cintamu, hanya sebatas angan." Kata-kata itu sering menyusup ke telinga. Namun, Bi hanya terdiam. Bagi Bi, diam adalah cara untuk mengalahkan orang-orang yang tidak menginginkan kedekatannya dengan Mawar.

Bi hanya menerka-nerka.

Malam kian larut, Bi semakin resah di pinggir jalan trotoar di samping motor tua miliknya. Lebih tepatnya, Bi duduk di kursi panjang yang berukuran satu meter, tepat di depan warung kecil yang telah ditutup oleh pemiliknya. Warung itu hanya dihiasi lampu kecil yang temaram. Bahkan, sarang laba-laba bergelantung di sudut-sudut ruang, seakan menjadi penghias di antara langit-langit warung itu. Ya, tempat Bi sedang menunggu Mawar.

Tatapan Bi tajam ke arah jalan raya. Sesekali Bi duduk bersandar di dinding warung setelah penatnya sedikit surut, Bi kemudian kembali lagi berdiri tegak sambil menoleh ke kanan dan ke kiri. Dan lagi, Bi hanya menemukan selembar daun kering yang mulai berguguran ditiup oleh angin yang berembus kencang. Dari beberapa deretan pohon tua di seberang jalan, satu per satu, daun itu pun tergeletak perlahan ke aspal yang telah digenangi air berwarna cokelat. Dan gelap, seakan menjadi kawan bagi Bi.

Bi menoleh ke atas langit. Telapak tangannya pun dibiarkan terbuka dengan lebar ke depan. Hanya untuk memastikan, apakah hujan telah turun ataukah tidak? Namun, bulatan air yang mengkristal itu, tiba-tiba saja jatuh tepat di keningnya. Mengalir lepas, bahkan hingga ke pipinya. Perlahan Bi pun mengusap dengan tangannya yang baru saja diselipkan di saku celana jins berwarna biru basah yang dikenakan. Nampaknya hujan telah turun perlahan. Kecemasan Bi pun kian memuncak. Namapk jelas terlihat dari raut wajahnya. Dan tanya, yang tergambar banyak di benaknya. Sebab, hujan kian berjatuhan, jatuh senada dengan gemuruh keras dari langit berwarna kemerah-merahan. Kilatan petir pun seakan tak mau kalah, turut menyambar--nyambar tanpa jedah.

Bayangan mawar belum saja terlihat. Sedang Bi, dalam pikirannya mulai menerka-nerka. Apakah Mawar menepati janji? Ataukah hujan-hujan telah menghalangi langkahnya? Namun, Bi merasa hujan bukanlah sebuah halangan untuk berjalan, namun hujan hanya sekadar membasahi di perjalanan.

Perempuanku, cintaku terletak pada rasa cemasku yang begitu besar, maka aku akan selalu bertanya-tanya tentang dirimu.

Jam tangan Bi telah menunjukkan pukul 11 malam Waktu Indonesia Timur, namun dari kejauhan, suara langkah Mawar belum saja terdengar. Bayang Mawar pun tak terlihat. Saat hujan, berada di puncak derasnya, di balik rinai hujan yang turun tak terhitung banyaknya, terdengar suara langkah dari kejauhan. Bayangnya masih samar-samar. Bi pun segera menoleh, menelisik ke arah sumber suara langkah kaki itu. Namun terlihat sosok perempuan melangkah terburu-buru, kecemasan Bi pun mulai sedikit meredah, seseorang perempuan yang ditunggu akhirnya pun tuba. Dengan jaket berwarna merah jambu bergaris abu-abu. Mawar pun mulai melangkah terengah-engah di bawah guyuran hujan. Segala pakaian yang dikenakan basah kuyup, seluruh tubuhnya pun basah tak tersisa kering sedikit pun. Bahkan, ribuan air hujan berhasil menerobos, hingga menembus ke pakaian di balik jaket yang dikenakan Mawar.

"Maaf Bi, aku membuatmu lama menunggu," kata Mawar, dengan tatap yang penuh dengan kesalahan. Tangannya sesekali mengusap wajahnya yang basah.

"Aku kira kamu sudah lupa, kalau aku sedang menunggu!" tukas Bi sambil mengangkat tas milik Mawar yang turut basah, lalu diletakkan tepat di kursi tempat Bi menunggu.

"Aku tidak lelah menunggu, aku hanya cemas."

Kata-kata itu keluar dari mulut Bi, ditambah dengan mimik, dan nada suara yang sedikit marah. Sangat nampak dari keningnya yang terlipat, dan alisnya pun sebelah ikut terangkat.

"Duduklah!"

Lanjut Bi sambil berusaha membantu Mawar membuka jaket yang dikenakan. Memeras dengan keras, lalu mengibas-ngibaskan. Setelahnya diletakkan pada sandaran kursi.

"Hujan sepertinya lama, jika kita tetap bertahan, bisa saja kamu akan terlambat." Kata Bi. Mawar hanya terdiam menunduk. Masih merenungkan kesalahan yang membuat Bi hingga begitu cemas. "Apa yang kamu pikirkan Mawar? Kenapa kamu melamun?" lanjut Bi. "Ah...! Tidak perlu kau pikirkan saya, saya tidak akan pernah marah denganmu, aku hanya merasa cemas denganmu," tepis Bi. Mawar tersipu. Bahkan, basah pun sepertinya nampak telah hilang karena ucapan Bi yang mampu menghangatkan Mawar. Wajah Mawar memerah. Mawar tak menyangka, begitu besar rasa cemas Bi kepadanya. Dan senyum manis, seketika mampu membuat kecemasan Bi pun turut surut. Ya, hanya dengan hitungan menit saja Bi pun luluh, "Baik, ayo kita jalan,?" kata Mawar dengan sneyum yang terlempar ke mata Bi, Bi pun membalas senyum Mawar. Matanya saling bertemu. Keduanya meninggalkan tempat itu dengan motor tua milik Bi. Bagi Bi, segala tempat memiliki cerita, dan cerita itu adalah kenangan. Bi dan Mawar bergegas meninggalkan warung itu dan Bi hanya meninggalkan segudang kecemasan yang sempat tertumpuk di dalam pikirannya.

Hujan bukan hanya sekadar air, tetapi juga cerita.

Percikan air yang jatuh dari ranting. Bunyi-bunyian gesekan dari rambatan pepohonan. Suara anjing berbaur dengan hewan malam. Dan pastinya, ada beberapa gemericik anak sungai yang mengalir kecil. Suara-suara alam di seperdua malam berbaur menjadi satu, membuat keduanya takjub. Itulah anda indah yang emnjadi pelengkap di perjalanan antara Bi dan Mawar. Namun, keduanya hanya saling terdiam, mulut keduanya melekat rapat. Tak ada yang ingin memulai untuk membuka perbincangan. Namun, dalam diam, Bi ingin sekali memulai untuk membuka perbincangan, lebih tepatnya ingin mengulas kembali cerita cinta yang masih penuh tanya, tetapi Bi sangat bingung, entah ingin dimulai dari kata apa?

"Mawar, a-k-u!" Bi terbata-bata, tangannya bergettar mengarahkan motor miliknya di jalan yang basah. Maklum, lampu motor Bi terlampau sangat tua. Motor peninggalan almarhum ayahnya.

"Iya Bi?" singkat Mawar.

"Kamu dingin...?" tanya Bi.

"Emmm! Tidak!" suaranya halus dan renyah.

"Tapi, badanmu bergetar," Bi menebak.

"Ahh! Masa? Mungkin hanya perasaanmu," tepis tipis Mawar.

Kembali hening, keduanya saling terdiam. Otak Bi mulai kembali bekerja keras. Harus mencari pertanyaan agar pembicaraan terarah sesuai dengan yang diharapkan oleh bi. Namun, sepertinya, pembahasan yang diharapkan oleh Bi tertunda di ujung perjalanannya dengan Mawar.

"Oh, iya, Bi, tolong berhenti di ujung lorong itu," kata Mawar sambil menunjuk arah.

"Sudah sampai?" tanya Bi sambil menoleh ke belakang.

"Iya," singkat Mawar, lalu turun dari motor tua Bi. Tangannya bergetar dingin saat memberikan helm kepada Bi.

"Terima kasih Bi, sudah mengantar," kata Mawar dengan senyum, Bi pun membalas senyum Mawar yang diselipkan ucapan terima kasih. Lalu pergi. Hanya sebatas kata terima kasih. Tidak lebih dari itu.

Dari kejauhan, seorang laki-laki menghampiri dengan payung bercorak warna-warni pelangi. Seperti setelah hujan, langit setelah gelap terlukis pelangi. Namun, warna pelangi itu hanya untuk Mawar di malam hari. Hujan lalu pelangi. Namun, Bi tak menemukan sedikit pun bias pelangi di malam hari. Segalanya gelap setelah hujan, tak satu pun warna yang terlihat di depan matanya. Hanya sayatan panjang yang telah berhasil mengiris malam. Dan tanya, setelah hujan. Di dalam batinnya, Bi hanya terus bertanya-tanya. Siapakah lelaki itu?***


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Roestam Ali
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" edisi Minggu 2 April 2017

0 Response to "Pelangi untuk Mawar"