Perempuan Kunang-kunang | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Perempuan Kunang-kunang Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:30 Rating: 4,5

Perempuan Kunang-kunang

DI hutan pinggir desa ini, gairahku membuncah kala ia muncul di antara pohon-pohon dan dedaunan. Aku mengikuti ke mana saja dia terbang. Tak surut hasratku menelusup pada anyaman duri-duri perdu yang melukai kulitku, meski darah mulai menetes.

Kunang-kunang itu menembus kegelapan yang pekat. Betapa terang cahayanya. Cahaya yang memupuk hasrat untuk segera menangkapnya, membawanya pulang menjadi penghuni toples kaca di meja kamar.

“Hap!” Aku menggapai binatang bercahaya ini saat menari-nari di depan mata. Sial! Ia terbang melesat jauh mencapai bintang.

Aku pemburu kunang-kunang. Kegelapan kutembus dari sisi ke sisi yang tak berujung. Dinding waktu tak kutemukan titik-titik yang membatasi, hingga kapan aku di sini, dalam kegelapan. Batasku adalah pendar cahaya yang memancar dari perut binatang mungil menari-nari.

Tetapi, ada pertemuan lain yang membuat jantungku bergetar. Ada telapak tangan yang terbentur telapak tanganku yang hampa kunang. Telapak tangan dengan jari lentik perempuan. Telapak tangan yang lembut!

“Kuntil anak!” aku berseru.

Aku menelusurinya dari bawah hingga ke ujung kepala sosok itu dengan cahaya korek api. Bukan kuntilanak. Dia perempuan cantik. Seperti perempuan yang telah kukenal sehari-hari. Matanya kecil, hidung dan bibirnya mungil, dan pipinya agak lebar, rambutnya pekat sekaku ijuk. Dia memandangku dengan raut tidak suka. Tetapi jauh di dalam mata itu? Memancarkan gelora perasaannya yang tak menentu.

Apa dia juga pemburu kunang-kunang? Atau pertapa di hutan ini?

Aku hanya bisa main tebak-tebakkan menyaksikannya gugup. Aku memiliki hobi yang aneh, suka mengejar kunang-kunang. Tapi dia lebih aneh, perempuan cantik berada dalam kegelapan. Aku sudah terbiasa bertemu ular, harimau, banteng di hutan-hutan saat melakukan perburuan.

“Siapa kamu, perempuan cantik dalam gelap?”

Sepertinya ia tak menghendaki pertanyaan-pertanyaan dariku. Ia segera pergi menembus kegelapan dengan mudah; kegelapan yang rasanya telah ia akrabi. Aku termangu.


***
SEJAK pertemuan dalam gelap yang tidak pernah aku sangka-sangka itu, aku dan perempuan dalam gelap itu, rasanya saling menguntit. Kepadanya aku seperti memburu kunang-kunang. Apakah dia selalu menetap di hutan kecil itu?

Sekarang kesadaranku terselimuti; magnet berkekuatan besar yang tak mudah kulupakan: perempuan dalam kegelapan. Setiap aku memasuki kegelapan, aku merasa dia berada di sampingku. Tanganku seperti digenggamnya. Rambutku seperti dibelainya.

Akhirnya aku bertemu dengan dia. Dalam mimpi!

Persis seperti malam itu. Dalam mimpi ini, ia masih berada dalam kegelapan. Ia menjabat tanganku cukup kilat. “Kalau kamu ingin menemuiku, temuilah dengan menyadari perasaanmu; perasaan cinta itu,” katanya seperti mengingatkanku.

Ah! Aku jatuh cinta pada perempuan dalam gelap itu? Aku tak sempat berkata ketika ia dengan cepat menembus gelap dengan mudah. Apakah dia berada dalam kegelapan abadi? Aku merasa, sejak mimpi itu, aku akan bertemu lagi dengannya.


***
AKU duduk berdua dengannya di atas pasir yang gelap. Perjumpaan ini setelah perburuanku berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, bertahun-tahun. Perburuan paling mendebarkan sekaligus mengasyikkan selama aku menjalani perburuan! Aku dan dia duduk dalam jarak sambil bermain pasir yang hangat. Aku tidak tahu di mana tepatnya kami berada, tetapi suara ombak yang memecah kesunyian kami, memastikan kami berada dekat lautan.

“Mendekatlah. Tak baik bicara berjauhan,” katanya membuatku sejenak membatu.

Aku beringsut menggeser duduk hingga berhimpitan. Aku mencium bau tubuhnya yang segar.

“Aku yakin, kita akan bertemu lagi,” katanya dengan suara lirih, nyaris berbisik.

“Aku juga yakin,” kataku hampir ditelan suara gelombang laut.

“Ketika kau memandangku dengan penerangan cahaya korek api, saat itu aku merasa kau telanjangi. Hanya kaulah memandangku seperti itu.”

Dia menghela nafas. Napasnya yang hangat mengusap wajahku. Suara kami yang lirih saling mendekatkan wajah kami berdua. Dan sekarang aku bisa melihat parasnya lebih jelas. Lebih cantik daripada aku melihatnya dengan penerangan korek api. Wajah cantik perempuan dalam gelap. Dalam hembusan-hembusan nafas yang tak menentu, aku menelusuri wajahnya. Meskipun usianya sudah hampir tiga puluh, kukira ia adalah perempuan perawan. Wajahnya mempesonaku: dalam gelap ini ia tak berbedak.

Tiba-tiba aku bertanya: “Kamu tidak pernah ke salon?”

Ia tersenyum, “Apa artinya salon untuk kegelapan?”

Yah! Betapa bodohnya aku. Tapi aku ingin memecah kesunyian. “Memang aneh bersolek untuk kegelapan. Tetapi lebih aneh ada orang suka pada kegelapan.”

“Aku?” katanya sambil menunjuk dada.

“Aku terpaksa suka. Aku mencoba menikmatinya.”

“Terpaksa?”

“Ya. Karena aku tidak punya keberanian muncul dalam benderang. Semuanya rasanya menyilaukan.” Ia menghela nafas.

“Bagaimana rasanya sepanjang waktu berada dalam kegelapan,” kataku menukik pada kedalamannya.

“Tidak sepanjang waktu aku dalam gelap. Aku punya pekerjaan rutin. Setiap pagi aku menjadi Upik Abu, juru masak seperti dalam dongeng itu. Aku harus memberi makan anak-anakku. Pekerjaan yang tidak terang benderang bukan? Hanya dengan jalan itu aku bisa mengabdi pada mereka. Karena aku masih punya harapan pada mereka. Setidaknya ketika sudah tua nanti mereka mau menengokku,” katanya.

Aku tercengang mendengar ucapannya. Anak-anak. Dia seorang ibu. Juga bersuami? Ah! Rasanya perempuan ini makin gelap saja. Aku berusaha menjauh. Tapi ia telah menggenggam tanganku hingga aku tak kuasa menjauh.

“Tetap dekatlah denganku. Kau sudah terlanjur mengetahui diriku.”

Dia menarikku lebih dekat.

“Kau bertanya tentang bapak mereka? Sesungguhnya aku malas berpikir tentangnya. Dia tidak penting. Bukan aku yang menganggapnya tidak penting. Dia sendiri yang menghendaki dirinya tidak penting di hadapanku. Kau tahu bagaimana aku memandangnya? Aku menghadapinya seperti batu! Karena dia juga menganggapku seperti batu. Dikiranya menghadapi kami cukup dengan memberi makan, menyekolahkan anak-anak, memberi baju baru, sepatu baru. Dia beri kami kecukupan lewat rekening bank, dan kadang-kadang segebok ditaruh di atas bantal. Dengan rincian belanja yang sudah ia tentukan pula.” Ia menghentikan kisah yang mirip keluhan ini.

Kami saling berpandangan lekat sekali. Mulutku terkatup. Tak bisa memberi komentar kisahnya. Aku tak ingin terlibat urusan dia dengan suaminya. Tapi mata itu mengharap aku menyediakan telinga untuk mendengarkannya.

Baiklah tumpahkan kekeruhan dalam matamu.

“Kau tahu, dia laki-laki, dia yang bertualang, merasa sebagai batu besar perkasa. Aku hanya dianggapnya kerikil, yang harus lebih diam dari diam. Pernah aku tanyakan dengan manis, karena aku tak betah jadi batu, ‘Bisakah sekali saja tidak pulang malam?’ Dia melemparku ke tembok hingga tubuhku terasa pipih. Kalau tidak ada anakku aku sudah lari dari neraka ini. Selamanya! Selamanya!” ia terisak.

Ia usap ingusnya dengan saputangan handuk. Aku menggenggam tangannya. Sesungguhnya hal yang tidak boleh dilakukan oleh pemburu, membiasakan perasaan hanyut pada yang diburu. Tapi masih ada perburuankah ketika isi dada tumpah ruah?

“Ia tahu kelemahanku ini.” Ia melanjutkan, “Ia membebaskanku ke mana aku suka, tapi ia mengikatku dengan anak-anak. Maka aku lari pada kegelapan agar ia tidak tahu di mana aku. Aku pernah hendak melenyapkan diri, tetapi selalu urung melihat wajah anak-anak. Tekad di ujung uraian air mata itu selalu gagal. Yah, setiap hari, setiap waktu aku selalu menangis, mengharapkan aku tidak jadi batu. Sia-sia, sampai aku menangis tanpa air mata. Suatu saat dia pulang dengan pistol. Tanpa sebab yang jelas. Memang batu tidak butuh kejelasan! Ia membidikkan ujung pistolnya di kepalaku. Dan aneh, meskipun aku ingin mati, tetapi aku tak rela dia yang membunuhku. Aku panggil anak-anak. Baik, lakukan di depan anak-anakmu, kataku. Anak-anak meronta. Dan ia pergi berminggu-minggu.”

Ia menggenggam tanganku. Aku seperti berada dalam dasar kegelapannya. “Aku sebenarnya tidak menuntut berlebih. Aku hanya ingin cinta yang sederhana!” katanya dengan mata menerawang ke garis langit.

Ufuk timur sudah mulai meremang. Bau pagi mulai terasa.

“Aku harus kembali,” katanya tiba-tiba, “Aku ceritakan kisah gelap ini hanya padamu. Karena aku percaya pada sorot matamu.”

Perempuan dalam kegelapan ini menarikku lebih dekat. Dia menciumku, dalam kegugupan aku balas ciumannya. Kami berciuman dalam gelap. Meski sekejap. Sebelum pergi menembus kegelapan dengan mudah.


***
ADA suara rintihan dalam kegelapan ini. Dan aku sudah hafal suara siapa itu. Aku segera menghampirinya. Astaga! Dia tertelungkup di tanah yang basah oleh air mata. Aku mengangkatnya ke tempat yang kering dan menyandarkan ke dinding yang gelap. Air mineral tinggal separuh botol aku tegukkan ke bibirnya yang mungil.

“Uh!” dia mengaduh. Ada darah kering di bibirnya.

“Kamu terjatuh?” Dia menggeleng. Kemudian merintih sambil menekuk kakinya.

“Kakimu memar-memar?”

“Aku baru jadi bola. Ditendang-tendang tiada melawan. Si batu perkasa itu mengetahuiku saat aku dalam gelap, juga ketika kita berdua di pantai.” Katanya.

Dia berusaha berdiri tegak. Melangkah tertatih. Dan ditelan tabir kegelapan. Aku hanya menganga.


***
AKU kini menjadi bagian kegelapan. Aku hafal betul liuk lekuknya. Lembah yang paling pekat. Dan kunang-kunang yang sesekali melintas di depan wajahku. Entah sudah sampai berapa jarak dan waktu aku menelusuri kegelapan, tak bisa mengukur. Sepanjang itu, aku tak bisa lagi menemui perempuan dalam kegelapan itu. Saat kerinduanku makin memuncak, makin tidak bisa kujumpainya. Kini aku menyesal tak pernah bertanya nama dan di mana rumah tinggalnya.

Perburuanku kini selalu gagal. Hasilnya hanya membentur dinding yang gelap. Tiada pesan, tiada jejak kaki dan aroma tubuhnya yang segar. Ketika kukirim pesan-pesan batinku tak juga dia membayang. Akhirnya, di ujung kelelahan yang membaur keputusasaan, dia hadir dalam mimpi. Perempuan dalam kegelapan terbang melintas di depan wajahku dengan cahaya di dada. Dia telah jadi kunang-kunang.


Djoglo Pandanlandung Malang

Iman Suwongso, lahir di Malang, 18 Oktober 1968. Ia menulis cerpen dan naskah teater. Bergiat di Kobis (Kelompok Belajar Menulis) Merajut Sastra dan Komunitas Djoglo Pandanlandung (pendampingan anak dan ibu, serta pemberdayaan masyarakat desa).



Rujukan:
[1] Disalin dari karya Iman Suwongso
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" edisi 15-16 April 2017

0 Response to "Perempuan Kunang-kunang"