Potret Emansipasi | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Potret Emansipasi Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:00 Rating: 4,5

Potret Emansipasi

Potret Emansipasi 

#1
Setelah luka dan terlunta
Kubawa seonggok mimpiku
Hendak jadi warga barumu
Terimalah sajak sajak pendekku

#2
Malam itu aku datang
Kubawa puisi puisi emansipasi
Seperti kebiasaan negeri ini
Aku kau anggap sedang basa basi

#3
Dalam silsilahnya, dulu kita dirumahkan
Di sangkar, seperti pertapa tanpa lidah
dan tangan
Kini pikiran terbang ke langit, ke ruang
bebas
Setinggi awan langit tanpa batas

#4
Engkau memasung bunga bangsa
Bertahun dipatungkan kekuasaan
Aku punya hati, kata Kartini
Akar akarku melawan dengan emansipasi

#5
Menemu jejak terbit terangmu
Dikelokan abad yang lucu dan dungu
Anak cucumu sering menggelikan
Kadangkala bingung dan terbanting derasnya

#6
Aku tak sudi kau jamah
Kau seret ke peradaban yang dangkal
Sebab kau tak punya hati, dan akal sehat
Aku ingin jadi Kartini, perangi dunia laknat

#7
Akulah cahaya pagi itu, terangi jiwa
gelap
Pecahkan biji biji jadi tunas sehat
Berdirilah, tegaklah, kita lawan tali belenggu
Serumu di antara gadis gadis desa nan
lugu

#8
Pada bunga bunga yang mekar
Membawa cinta dan kodratnya
Engkau tak boleh pangkas batangnya
Akar itu, bekerja, menguatkan mimpinya

#9
Ditengah malam yang jalang
Seorang pemberani datang
Menelikung duniaku yang sepi
Menaklukkannya hingga terbit matahari

#10
Sabtu malam minggumu
Jadi sebuah gaun dan sepatu beludru
Terbang mengangkangi malam minggu
Minggu pagi, sandal jepitmu, menggerutu

#11
Sabtumu jadi semangkok sop
Dada dan paha
Minggumu tertidur kesiangan
Di dompet kulit menjangan

#12
Rengekan itu rindukan puting
Tengah malam jelang subuh
Sedang tubuh molek itu rapuh
Menyeka peluh rupiah di ujung kening

#13
Rahim penyimpan kehidupan
Tak sekadar pagi lalu malam
Ada riuh dan diam
Lantang hingga senyap, hilang

#14
Setiap senja menjadi malam
Seluruh pikiranku gelisah resah
Ingin menyeka tangis
Dari nasib yang kedinginan

#15
Gelapnya malam seperti butuh pelukan
Pagi siangku perlu kehangatan
Di senja yang semakin malam
Ia, kau dan aku menanti kenyataan

#16
Memelukmu sepanjang malam
Adalah mimpi tak berkesudahan
Ceritakan padaku tentang gelapnya
Dimana siang tak pernah melihatnya

#17
Dipejamkanlah matanya sedetik
Dalam embusan nafasnya
Tiba tiba gelap menjelma pagi
Begitu sahaja demikian terangnya

#18
Kucari di laci-laci meja
Ternyata kau berdiam
Di lipatan kenangan
Buku harian masa lalu

#19
Secangkir kopi pahit
Selembar koran usang
Di beranda ruang tamu
Temani sepotong hati yang luka

#20
Waktu takkan ulang bahagia
Untuk mata yang terjaga
Abadi di gelap kelam
Dalam ruang dan kata


*) Umi Azzurasantika. Perempuan ini lahir di Semanu, Gunungkidul. Aktif mengajar di SMK Negeri 3 Magelang sebagai guru Tata Kecantikan dan beberapa forum sastra. Beberapa buku antologi puisi bersamanya: Puisi Penyair Lima Kota (2015). Pelangi Perempuan Negeri (Pemenang ke 2, 2015), Di Antara Perempuan (2015), Puisi Menolak Korupsi 4 (2015), Puisi Menolak Korupsi 5 (2015), Jalan Remang Kesaksian (2015), Puisi Kampungan (2016), Memo Anti Terorisme (2016), Pentas Puisi Tiga Kota dalam Parade Pentas Sastra I/2016 Yogya (2016), Puisi prolog dalam Sang Penjathil (2016).




Rujukan:
[1] Disalin dari karya Umi Azzurasantika
[2]Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" Minggu 23 April 2017

0 Response to "Potret Emansipasi "